Jakarta, NAWACITA - Dua hari ini, media sosial seperti Facebook, Instagram dan Group Watshapp penuh dengan berita Ulang Tahun Nias Barat. Hanya saja pemberitaan dan komentar terkait pergelaran Hut tersebut menyisakan cerita. Seperti yang berseliweran di laman media sosial, setidak-tidaknya laman saya bahwa pada acara tersebut juga disertai dengan pemilihan Putri Pariwisata. Mohon maaf kurang tahu secara pasti, apakah Putri Pariwisata yang dimaksud khusus Nias barat atau Putri Pariwisata Kepulauan Nias. Terkait dengan pemilihan Putri Pariwisata tersebut ternyata ada pro kontra terkait dengan costum.
Netizen seperti biasa, cepat, tangkas dan semangat membicarakan topik-topik unik atau topik-topik khusus, tidak terkecuali Netizen asal Kepulauan Nias, baik yang ada di Nias maupun yang ada di Tanah Rantau. Berbagai tanggapan, Opini dan Kritik telah disampaikan. Dari sekian Tanggapan dan Opini di media sosial mayoritas menyesalkan costum putri-putri Nias barat yang tampil pada acara tersebut. Kostum yang digunakan dinilai melenceng dari budaya Nias. Ada yang mengatakan bahwa costum tersebut keberat-baratan. Ada yang menilai bahwa itu merupakan ikut-ikutan acara-acara Televisi.
Saya secara pribadi menyesalkan costum tersebut. Secara pribadi saya melihat bahwa costum tersebut tidak tepat guna. Terlalu jauh dari budaya, setidak-tidaknya pakaian adat Nias pada umumnya. Namun demikian, tidak sedikit yang juga memberi masukan positif. Salah satunya adalah tulisan Bapak Otoli Zabua yang dimuat di Nawacitapost.com beberapa hari lalu.
Budaya Sebagai Mandat Tuhan
Dalam iman Kristen ada tiga mandat, yaitu Mandat Moral, Mandat Injil dan Mandat Budaya. dalam hal ini saya akan menyoroti Mandat Budaya. Sehingga dengan demikian, Mandat Budaya dapat diartikan sebagai Perintah atau arahan Tuhan kepada masyarakat atau umat-Nya untuk dilakukan sesuai dengan kehendak Tuhan. Dalam Mandat Budaya sendiri ada banyak topik yang dibahas, akan tetapi saya akan persempit pembahasan khusus budaya itu sendiri.
Budaya sebagai Anugerah Tuhan
dalam prinsip kedaulatan Tuhan, maka segala sesuatu kecuali kejahatan adalah berasal dari Tuhan. Dengan kata lain tidak ada satu pun di dalam dunia ini yang ada atau datang di luar Tuhan. Maka dengan demikian, budaya adalah Anugerah Tuhan kepada umat manusia. Oleh sebab itu, dalam berbudaya haruslah mempermuliakan Tuhan. Budaya bukanlah sekedar seni yang memuaskan manusia, tetapi budaya merupakan Anugerah Tuhan yang harus dikembalikan untuk kemuliaan-Nya.
Adalah sebuah kesalahan jika budaya dijalankan sekedar memuaskan manusia. Atau sekedar tradisi dan seremoni belaka. Budaya lebih dari itu. Maka seyogianya budaya mendapatkan perhatian khusus, baik dalam konsep maupun dalam praktik budaya. sebab jika Budaya tidak dilihat sebagai Mandat dam arti dianugerahkan tuhan maka budaya dapat merusak manusia. Budaya akan memperbudak manusia. Budaya akan merusak hubungan Tuhan dengan manusia, hubungan manusia dengan sesamanya dan hubungan manusia dengan dirinya sendiri. Betapa tidak, melihat keragaman budaya jangankan beda suku, sesama sukupun mempunyai berbedaan-perbedaan tertentu. Dan, tidak sedikit konflik yang terjadi karena perbedaan budaya. tidak sedikit pertikaian antar suku dan bahkan antar keluarga hanya karena perbedaan budaya. salah satu contoh adalah saya dan istri saya. Saya berasal dari Nias selatan, istri saya dari Nias Utara. Tidak jarang kami konflik awal-awal kami menikah karena perbedaan budaya.
Sehingga, penting sekali manusia khususnya Masyarakat Kepulauan Nias mengatahui bahwa budaya adalah pemberian Tuhan. Dengan mengetahui prinsip ini, maka saya yakin dalam praktik budaya tidak ada konflik.
Budaya sebagai Kekayaan Suku Bangsa
Ketika Tuhan menganugerahkan budaya kepada sebuah suku atau bangsa, tentu saja Tuhan tidak asal saja. Tuhan tidak sekedar menganugerahkan tanpa nilai dan tujuan. Karena budaya merupakan Anugerah Tuhan, maka pastilah Tuhan menganugerahkan untuk kekayaan suatu Suku Bangsa.
Sehingga dengan demikian, pada prinsipnya Budaya tidak seenaknya diubah begitu saja. Setiap budaya yang ada seharusnya dilestarikan. Mempertahankan originalitas budaya merupakan keharusan bagi manusia yang menjalankan budaya tersebut.
Kepulauan Nias adalah salah satu Suku yang mendapatkan kekayaan budaya. sehingga masyarakat Kepulauan Nias pantas disebut manusia berbudaya. Maka dengan itu, cukup bahkan sangat disayangkan jika budaya kepulauan Nias sirna. Sangat disayangkan jika karena perubahan jaman originalitas budaya Nias tereduksi. Saya berharap stateman saya ini dibaca tokoh-tokoh/Pejabat Kepulauan Nias. Jadi, mereduksi originalitas budaya kepulauan Nias maka sama dengan mengurangi kekayaan Nias.
Budaya sebagai Estetika Suku Bangsa
Selain kekayaan suatu Suku Bangsa, budaya juga merupakan nilai suatu Suku atau Bangsa. Estetika adalah ilmu yang berbicara tentang keindahan. Maka dalam hal ini saya berpendapat bahwa budaya yang dianugerahkan Tuhan merupakan gambaran keindahan suatu suku bangsa. Keindahan suatu suku bangsa dapat dilihat dari budaya yang dimilikinya.
Jadi, budaya bukanlah sekedar gaya. Oleh sebab itu, budaya seharusnya tidak ikut-ikutan budaya lain. Setiap budaya memiliki estetika sendiri, maka haruslah mempertahankan originaltasnya. Masyarakat yang berbudaya adalah masyarakat yang menjunjung tinggi dan mempertahankan/melestarikan budaya apa adanya.
Budaya Perlu Diseleksi
Meskipun demikian, budaya memang harus diseleksi. Karena budaya terkait dengan refleksi teologis, moral dan etika.
Pertama Refleksi teologis. Dalam hal ini, budaya harus diseleksi. Jangan sampai budaya yang dipraktikkan bertentangan dengan teologi. Diatas telah saya kemukakan bahwa budaya merupakan anugerah Tuhan, maka haruslah dikembalikan untuk kemuliaan Tuhan. Budaya harus memuliakan Tuhan. Jika budaya tersebut tidak memuliakan Tuhan maka budaya tersebut harus ditinggalkan. Itulah perlunya seleksi budaya, yaitu mana budaya yang memuliakan Tuhan dan mana yang tidak.
Lalu pertanyaanya adalah bukankah Budaya Anugerah Tuhan, bagaimana mungkin budaya tidak sesuai dengan teologi? Maka jawabannya adalah, dalam iman Kristen sebagaimana yang tertulis dalam Alkitab bahwa manusia telah jatuh ke dalam dosa. Maka ketika manusia mempraktikkan budaya tidak lagi murni. Manusia memiliki kecenderungan membuat budaya untuk memuliakan dirinya sendiri. Maka sangat penting memilih dan memilah budaya mana yang memuliakan Tuhan dan mana yang sekedar memuliakan manusia.
Kedua, yaitu refleksi moral. Dalam berbudaya sangatlah penting mempertimbangkan moralitas. Budaya yang bernilai adalah budaya yang bermoral. Oleh sebab itu sangat penting budaya disesuaikan dengan nilai-nilai moral yang berlaku.
Ketiga, refleksi etika. Dalam tindakan berbudaya, nilai-nilai etika juga harus menjadi perhatian khusus. Etika berhubungan dengan kearifan lokal. Sangat ironis bila budaya yang dianugerahkan Tuhan dalam praktiknya melanggar nillai-nilai etika. Misalnya, dalam hal costum. Penggunaan costum dalam budaya perlu memperhatikan etika. Etika juga bertalian dengan kepantasan. Apakah tindakan budaya yang kita lakukan pantas? Apakah costum budaya yang kita tampilkan pantas? Semuanya ini menjadi perhatian. Sehingga terjadi harmonisasi yang indah dalam budaya, etika, moral dan spiritual.
Budaya bersifat Terbuka.
Budaya itu itu juga terbuka terhadap kritik, terbuka terhadap perubahan, dan seterusnya. Budaya harus siap menerima kritik. Budaya juga harus menerima perubahan. Akan tetapi perubahan tidak boleh mempengaruhi eksistensi dan originalitas budaya. Justru budaya harus berdiri tegak menghadapi arus perubahan.
Adalah salah jika dalam praktik budaya berusaha konformitas terhadap budaya lain atau konformitas terhadap perubahan. Jadi, satu sisi budaya tidak anti dengan budaya lain dan perubahan, artinya menerima segala macam perubahan, sisi lain budaya seyogianya berdiri tegak menjaga originalitasnya.
Penutup
Sebagai masyarakat Kepulauan Nias yang berbudaya, adalah baik jika kita memiliki pemikiran yang mendalam tentang budaya. baik pemikiran dalam kaitannya dengan ilmu pengetahuan maupun pemikiran teoligis. Sebab pemikiran kita tentang budaya mempengaruhi kita mempratikkan budaya.
Bahwa sesungguhnya budaya itu anugerah Tuhan, maka memiliki nilai yang begitu tinggi. Oleh sebab itu, dalam praktik budaya harus memperhatikan beberapa aspek lain, seperti nilai teologis, nilai etika dan nilai moral.
Pada akhirnya, hendaklah kita menjadi masyarakat Nias yang berbudaya.
Ditulis Oleh: Ev. Andre Giawa, M.Th, Sekretaris DPD Fornisel Jatim dan pengurus DPD HIMNI Jatim.
Editor: Daril Harefa
Editor: Administrator
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Terkini
Jumat, 5 Juni 2026 | 14:34 WIB
Jumat, 5 Juni 2026 | 14:34 WIB
Jumat, 5 Juni 2026 | 14:33 WIB
Jumat, 5 Juni 2026 | 14:33 WIB
Rabu, 3 Juni 2026 | 21:32 WIB
Rabu, 3 Juni 2026 | 19:23 WIB
Rabu, 3 Juni 2026 | 13:26 WIB
Senin, 1 Juni 2026 | 18:58 WIB
Senin, 1 Juni 2026 | 15:47 WIB
Senin, 1 Juni 2026 | 11:15 WIB
Senin, 1 Juni 2026 | 07:51 WIB
Minggu, 31 Mei 2026 | 16:24 WIB
Minggu, 31 Mei 2026 | 16:24 WIB
Minggu, 31 Mei 2026 | 16:24 WIB
Minggu, 31 Mei 2026 | 16:24 WIB
Minggu, 31 Mei 2026 | 16:24 WIB
Minggu, 31 Mei 2026 | 16:23 WIB
Sabtu, 30 Mei 2026 | 18:10 WIB
Sabtu, 30 Mei 2026 | 18:09 WIB
Sabtu, 30 Mei 2026 | 18:09 WIB