Sabtu, 6 Juni 2026

Konsisten Dengan Budaya dan Adat Nias Tetapi Terbuka dan Menerima Budaya Lain

Photo Author
Administrator, Nawacita Post
- Selasa, 28 Mei 2019 | 20:16 WIB
Jakarta, NAWACITA - Media sosial merespon acara Pemilihan Putri Pariwisata Nias Barat dalam rangka merayakan Hari Ulang Tahun Nias Barat yang ke – 10, Minggu 26 Mei 2019.

Kegiatan itu, dihadiri oleh Bupati Nias Barat Faduhusi Daely, S.Pd., Wakil Bupati Nias Barat Khenoki Waruwu, Ketua DPRD Kabupaten Nias Barat Ir. Nitema Gulo, MM., mewakili Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi Sumatera Utara, mewakili Dandim Nias, Pimpinan OPD Lingkup Pemkab Nias Barat, Camat, Danramil dan Kapolsek se-Kabupaten Nias Barat, Panitia, serta yang terkait lainnya dan seluruh masyarakat yang datang.

Pemilihan Putri Pariwisata dibeberapa Kabupaten/Kota di Kepulauan Nias bukan hal yang baru, namun untuk kali ini mengundang kontroversi Publik disebabkan karena pakaian yang digunakan oleh peserta tidak mencerminkan pakaian budaya Nias yang sesungguhnya.

Netizen menilai bahwa, pakaian yang digunakan lebih kepada budaya barat yang terbuka dan lebih menonjolkan tampilan keindahan fisik.

Sepertinya designer pakaian yang digunakan oleh peserta merupakan kreativitas yang menggabungkan budaya Nias yang terlihat dari warna dan motif dengan kemajuan jaman tanpa memperhatikan kepantasan yang diterima oleh masyarakat Nias.

Banyaknya respon Netizen baik di Nias maupun yang dilluar Kepulauan Nias belum siap menerima penggabungan hal seperti itu, mereka lebih berpegang teguh pada budaya leluhur.

Menanggapi hal tersebut kami berpendapat bahwa masyarakat Nias harusnya tetap mempertahankan budaya leluhur termasuk dalam hal berpakaian apalagi tampil didepan umum tetapi bisa menerima dan membuka diri untuk budaya lain sebagai salah satu indikator kemajuan Pariwisata.

Bali adalah contoh yang baik tetap konsisten dengan budayanya dan tidak terpengaruh dengan budaya lain, tetapi masyarakat bali dapat menerima budaya lain. Contoh : saya melihat orang barat berjemur dipantai kutai Bali hanya dengan menggunakan bikini, orang Bali tidak marah, tidak mengusir dan mengganggu mereka dan juga tidak berbuat dosa dan sikap inilah yang membuat pariwisata Bali maju, tetapi bukan berarti orang Bali kalau berjemur dipantai hanya pakai bikini juga.

Kalau hal seperti ini terjadi di Nias apakah masyarakat kita siap?

Ini merupakan pekerjaan kita bersama Pemerintah dan seluruh masyarakat bahwa untuk menyambut kemajuan Pariwisata di Kepulauan Nias, Budaya dan nialai-nilai lokal harus tetap dipertahankan, tetapi membuka diri dan bisa menerima budaya lain yang datang ditengah – tengah masyarakat Nias.

 

Penulis : Sekjen Himni, Otoli Zebua

Editor : Daril Harefa

Editor: Administrator

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Terkini