NAWACITAPOST.COM - Komisi Pemilihan Umum (KPU) terus melakukan perhitungan suara Pemilihan Presiden (Pilpres) 2024. Hingga pagi ini, data terbaru menunjukkan total surat suara yang masuk ke penghitungan atau real count mencapai 39,33%.
Dilansir dari situs resmi pemilu2024.kpu.go.id, pada Kamis (15/2/2024) pukul 06.00.20 WIB, jumlah suara yang sudah masuk mencapai 323.807 dari total 823.236 Tempat Pemungutan Suara (TPS) atau 39,33%.
Adapun hasil perhitungan suara berdasarkan nomor urut capres, Anies Baswedan-Muhaimin Iskandar meraup sebanyak 24,56% (5.118.083 suara). Selanjutnya, Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming memimpin dengan perolehan suara sebanyak 55,97% (11.662.413 suara). Sedangkan, Ganjar Pranowo-Mahfud Md berada di urutan ketiga sebanyak 19,46% (4.055.193 suara).
Baca Juga: 314 Warga Binaan Di Rutan Samarinda Coblos Di TPS Khusus
Menanggapi hal itu, pengamat politik Nusantara Faigiziduhu Ndruru mengatakan bahwa terpilihnya Prabowo sebagai seorang presiden belum tentu yang terbaik secara kualitas. Sebagian generasi millennial yang lahir pada 1980-1995, dan Gen Z (lahir 1995-2012), tidak bisa merelakan catatan hitam yang melekat pada sosok Prabowo.
Faigiziduhu Ndruru menilai sebagian besar aktivis mahasiswa 1998 yang tidak berprofesi sebagai politisi masih tetap menganggap Prabowo tidak layak menjadi Presiden Indonesia. Salah satu alasan utamanya adalah rekam jejak buruk Prabowo selama berkarir di militer, serta tingkat emosionalnya yang tidak stabil sehingga dianggap tidak pantas untuk memimpin 278 juta rakyat Indonesia dengan berbagai masalahnya.
"Jadi memang bahwa yang terpilih belum tentu yang terbaik secara kualitas," kata Faigiziduhu Ndruru, Kamis (15/2/2024).
Baca Juga: Pemilu 2024, Menag: Perbedaan Tidak Perlu Lagi Dipertentangkan
Menurut Faigiziduhu Ndruru, Prabowo tidak mengalami perubahan yang signifikan dalam hal emosional dan temperamental, meskipun usianya telah bertambah tua. Hal ini terlihat dari berbagai kejadian seperti gebrakan meja podium dan kata-kata kasar yang diucapkannya kepada juru media. Jejak digital dari kampanye Pilpres 2014 dan 2019 juga menunjukkan arogansi dan temperamen Prabowo.
Sebuah survei yang dilakukan oleh Laboratorium Psikologi Politik Universitas Indonesia menjelang Pilpres 2014 menyimpulkan bahwa Prabowo memiliki kecenderungan gaya kepemimpinan otoriter.
Survei tersebut melibatkan 204 psikolog di Jakarta, Depok, Bogor, Tangerang, dan Bekasi yang berpengalaman dalam menilai kepribadian, dan sebanyak 76% dari mereka menyatakan Prabowo kemungkinan akan menjalankan gaya kepemimpinan otoriter jika terpilih menjadi presiden.
Pada Pilpres 2024, lanjut Faigiziduhu Ndruru, Prabowo cukup beruntung karena Presiden Joko Widodo (Jokowi) memilih menempatkan anaknya, Gibran Rakabuming Raka, sebagai calon wakil presiden (cawapres). Keputusan Jokowi untuk menempatkan Gibran sebagai cawapres dapat dianggap sebagai strategi politik yang menarik.
Hal ini sekaligus menunjukkan bahwa kualitas kepemimpinan Prabowo dalam 2 pilpres sebelumnya masih dianggap kalah oleh Jokowi. Dengan memilih Gibran, Jokowi sebenarnya hanya ingin memperkuat posisinya dan menarik dukungan dari kelompok-kelompok yang mendukungnya untuk dialihkan kepada Prabowo-Gibran.