Selasa, 23 Juni 2026

Aning Rahmawati: Tanpa Keseriusan Pengerukan Saluran, Surabaya Hanya Bermimpi Bebas Banjir

Photo Author
Elya Yuddy Irawan, Nawacita Post
- Selasa, 23 Juni 2026 | 10:55 WIB
Wakil Komisi C DPRD Surabaya dari Fraksi PKS, Aning Rahmawati
Wakil Komisi C DPRD Surabaya dari Fraksi PKS, Aning Rahmawati

 

NAWACITAPOST.COM - Surabaya kembali disorot soal persoalan banjir yang tak kunjung tuntas. Wakil Komisi C DPRD Surabaya dari Fraksi PKS, Aning Rahmawati, menegaskan bahwa persoalan utama bukan sekadar pembangunan infrastruktur baru, tetapi minimnya perawatan saluran air yang sudah ada.

Aning menyebut banjir di Surabaya semakin parah saat terjadi pasang air laut atau rob. Menurutnya, hingga kini belum ada sistem pengendalian banjir yang benar-benar efektif untuk mengantisipasi kondisi tersebut.

“Setiap kali air laut pasang, Surabaya pasti jebol. Ini karena belum ada sistem pengendalian banjir saat pasang,” tegas Aning kepada Nawacitapost.com, Selasa (23/6/2026)

Ia mengakui bahwa pembangunan tanggul laut membutuhkan anggaran besar dan sulit ditanggung penuh oleh APBD. Namun, hal itu bukan alasan untuk tidak bertindak. Aning mendorong Pemkot Surabaya segera menetapkan titik-titik darurat banjir rob dan melakukan penanganan bertahap.

“Kalau tanggul mahal, maka harus ada solusi bertahap. Bangun bozem, rumah pompa, dan pintu air di titik darurat. Itu lebih realistis dan bisa langsung dirasakan dampaknya,” ujarnya.

Namun kritik paling tajam diarahkan pada kebijakan pembangunan box culvert yang dinilai tidak diimbangi dengan perawatan saluran. Aning menilai normalisasi sungai dan saluran air justru jauh lebih mendesak karena banyak yang sudah mengalami pendangkalan parah akibat sedimentasi.

“Percuma terus bangun box culvert kalau saluran yang ada dibiarkan dangkal. Normalisasi dan pengerukan itu kunci,” katanya.

Yang lebih mengkhawatirkan, Aning mengungkap fakta bahwa Surabaya saat ini hanya memiliki satu unit vacuum excavator untuk pengerukan sedimen di seluruh kota. Kondisi ini dinilai sangat tidak masuk akal untuk kota sebesar Surabaya.

“Mengenaskan, sekelas Surabaya hanya punya satu vacuum excavator. Bagaimana bisa mengcover seluruh saluran kota?” kritiknya.

Menurutnya, keterbatasan alat ini membuat proses normalisasi berjalan lambat, sementara sedimentasi terus terjadi setiap hari. Akibatnya, kapasitas saluran menurun dan banjir menjadi semakin sulit dihindari, terutama saat hujan deras bersamaan dengan pasang laut.

Aning pun mendesak adanya inovasi dan penambahan sarana-prasarana, khususnya alat pengerukan sedimen, agar penanganan banjir bisa dilakukan secara masif dan berkelanjutan.

“Tanpa penambahan alat dan percepatan pengerukan, Surabaya hanya akan bermimpi untuk bebas banjir,” pungkasnya.

Sorotan ini menjadi alarm keras bagi Pemkot Surabaya. Tanpa pergeseran fokus dari sekadar pembangunan ke perawatan sistem drainase yang ada, ancaman banjir rob dan genangan akibat hujan ekstrem akan terus menjadi langganan warga setiap tahun.***

Editor: Elya Yuddy Irawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Terkini