tokoh

KDM Menuju 2029: Elektabilitas Dedi Mulyadi Meroket Melampaui Prabowo, Skenario Suksesi Memanas

Selasa, 1 September 2026 | 21:30 WIB

NAWACITAPOST.COM — Nama Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi (KDM) semakin santer diperbincangkan dalam bursa Pemilihan Presiden (Pilpres) 2029. Sejumlah hasil survei menunjukkan elektabilitas KDM melambung tinggi, bahkan melebihi elektabilitas Presiden Prabowo Subianto dalam simulasi tertentu.

Survei Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) pada Juli 2026 mencatat elektabilitas KDM mencapai 35 persen dalam simulasi semi-terbuka, unggul atas Prabowo yang berada di angka 14,5 persen. Bahkan, dalam simulasi head-to-head, KDM memimpin telak dengan 59 persen berbanding 28,3 persen untuk Prabowo.

Kondisi ini memicu spekulasi terkait langkah politik KDM menuju 2029, termasuk isu bahwa KDM akan berpindah ke Partai Solidaritas Indonesia (PSI). Namun, KDM secara tegas membantah rumor tersebut dan menyatakan komitmennya untuk tetap berada di bawah naungan Partai Gerindra.
 
Baca Juga: Kepala BKN dan Pemkot Bekasi Tegaskan Komitmen Kinerja ASN di Kota Sejahtera

CEO Promedia Group, Agus Sulistriyono, menilai melonjaknya elektabilitas KDM menuju 2029 tidak serta-merta menjadikannya penantang Prabowo. Menurutnya, kepemimpinan KDM sangat dipengaruhi oleh nilai dan falsafah budaya Sunda yang menjunjung tinggi komitmen dan loyalitas.

“Saya melihat KDM sebagai orang yang kuat memegang komitmen. Dia membawa nilai dan simbol budaya Sunda dalam dirinya. Karena itu, saya sulit membayangkan KDM meninggalkan Prabowo hanya karena peluang elektoralnya sedang terbuka,” ujar Agus Sulistriyono.

Agus menegaskan bahwa perpindahan KDM dari Golkar ke Gerindra pada 2023 tidak bisa disamakan dengan posisinya saat ini. Gerindra merupakan rumah politik yang mengantarkannya memenangi Pilkada Jawa Barat, sehingga hubungan antara KDM dan Prabowo terbangun atas rasa percaya dan perjalanan politik bersama.

“Jangan samakan ketika KDM keluar dari Golkar dengan posisinya bersama Prabowo hari ini. Konteksnya sangat berbeda. Sekarang ada kepercayaan, komitmen, dan perjalanan politik bersama,” kata Agus.
 
Baca Juga: Sinergi Ekonomi Perkotaan, Wakil Wali Kota Bekasi Terima Kunjungan DPRD Depok

Daripada bertarung melawan Prabowo, Agus memperkirakan KDM berpeluang besar menjadi figur penerus estafet kepemimpinan nasional jika Prabowo memutuskan tidak mencalonkan diri kembali pada 2029. Dalam skenario ini, KDM berada pada posisi yang sangat strategis tanpa perlu keluar dari Gerindra atau berhadapan langsung dengan Ketua Umum partainya.

“KDM tidak perlu melawan Prabowo untuk menjadi presiden. Kalau Prabowo maju, dia bisa menunggu. Kalau Prabowo tidak maju, KDM sudah berada dalam posisi yang sangat siap,” ucap Agus.

Meski demikian, tantangan utama KDM menuju 2029 adalah menjaga agar kinerja pemerintahan di Jawa Barat tidak terdistorsi oleh isu politik. Strategi terbaik bagi KDM saat ini adalah mempertahankan fokus pada pelayanan publik di Jawa Barat dan membiarkan elektabilitasnya berkembang secara alami.

“Menurut saya pertanyaan 2029 bukan apakah KDM berani melawan Prabowo. Pertanyaan yang lebih menarik adalah apakah nanti Prabowo melihat KDM sebagai orang yang layak meneruskan estafet kepemimpinannya,” tutur Agus.(***)

Tags

Terkini

DPR: Wakil Rakyat Atau Debt Collector Pajak?

Senin, 15 Juni 2026 | 15:13 WIB