Ini adalah skenario paling ambisius sekaligus paling logis jika ia berhasil menutup periode kedua dengan catatan positif. Dengan modal Surabaya, PDIP dan pengalaman pemerintahan, Eri dapat mencoba mengambil posisi sebagai kandidat utama.
Kedua, Eri menjadi calon wakil gubernur.
Skenario ini mungkin terjadi jika konfigurasi politik membuat figur lain lebih kuat untuk posisi gubernur, sementara Eri dianggap mampu memberikan tambahan suara dari Surabaya dan kawasan perkotaan.
Ketiga, Eri tidak maju.
Ia dapat memilih menyelesaikan periode hingga 2030, kemudian menunggu konfigurasi politik berikutnya.
Skenario ketiga sering dianggap paling sederhana, tetapi politik tidak pernah sesederhana itu. Begitu seorang kepala daerah memiliki popularitas tinggi, partai dan kelompok politik biasanya akan menghitung kemungkinan-kemungkinan yang lebih besar.
Pertarungan sebenarnya belum dimulai
Karena itu, terlalu dini menyebut Eri pasti maju Jatim 1.
Tetapi terlalu naif pula jika menganggap namanya tidak masuk radar.
Eri memiliki usia, pengalaman, elektabilitas lokal, kendaraan politik dan panggung nasional.
Emil memiliki pengalaman dua kali sebagai wakil gubernur dan jaringan politik provinsi.
Di belakang mereka masih terdapat sejumlah figur lain yang bisa muncul ketika peta politik mulai mengerucut.
Termasuk figur yang memiliki kedekatan dengan jaringan Khofifah. Pengaruh politik Khofifah pun tidak serta-merta hilang hanya karena masa jabatan gubernur memiliki batas dua periode.
Namun, semua itu masih berupa kalkulasi.
Yang menentukan pada akhirnya tetap rakyat.
Dan rakyat Jawa Timur tidak memilih wali kota terbaik Surabaya.