Jika banjir semakin terkendali, kemiskinan turun, lapangan kerja meningkat, pelayanan kesehatan membaik, infrastruktur strategis bergerak dan ekonomi Surabaya tumbuh, seluruh keberhasilan itu bisa menjadi portofolio politik untuk menuju Grahadi.
Tetapi jika proyek-proyek besar mangkrak, persoalan banjir tidak selesai, pengangguran dan kemiskinan tidak bergerak signifikan, atau APBD dianggap terlalu banyak terserap untuk proyek yang tidak berdampak langsung kepada rakyat, maka Surabaya justru dapat menjadi titik serang lawan.
Surabaya bisa menjadi etalase keberhasilan Eri. Tetapi Surabaya juga bisa menjadi ruang audit politik terbesar terhadap Eri.
Emil Dardak: lawan yang tidak boleh diremehkan
Jika nama Eri muncul, nama Emil Elestianto Dardak hampir pasti ikut masuk dalam kalkulasi.
Emil bukan pendatang baru dalam politik Jawa Timur. Ia pernah menjadi Bupati Trenggalek dan kemudian Wakil Gubernur Jawa Timur mendampingi Khofifah Indar Parawansa.
Pada Pilgub Jawa Timur 2024, Khofifah-Emil kembali memenangkan kontestasi dengan 12.192.165 suara atau 58,81 persen suara sah. KPU Jawa Timur menetapkan pasangan tersebut sebagai pasangan terpilih pada Februari 2025.
Dengan demikian, Emil memiliki sesuatu yang tidak dimiliki Eri: pengalaman langsung berada di panggung pemerintahan provinsi Jawa Timur.
Jika Eri memiliki kekuatan sebagai wali kota Surabaya, Emil memiliki pengalaman sebagai wakil gubernur.
Jika Eri memiliki mesin politik PDI-P, Emil memiliki jaringan Partai Demokrat Jawa Timur.
Jika Eri kuat di Surabaya, Emil memiliki pengalaman politik yang lebih tersebar di tingkat provinsi.
Inilah yang membuat pertarungan keduanya menarik.
Bukan sekadar pertarungan dua nama.
Ini berpotensi menjadi pertarungan dua model kepemimpinan: teknokrat kota versus politisi pemerintahan provinsi.
Eri juga punya panggung nasional
Ada modal lain yang tidak boleh dianggap remeh.
Pada 2025, Eri kembali terpilih sebagai Ketua Dewan Pengurus APEKSI periode 2025-2030. Organisasi ini menaungi pemerintah kota di seluruh Indonesia.