Minggu, 19 Juli 2026

Petrus Loyani Countervailing Narasi Tyas Subyakto tentang Jokowi dan Megawati

Photo Author
Nawi., Nawacita Post
- Kamis, 21 Desember 2023 | 18:18 WIB
Petrus Loyani, Ketua Relawan Ganjar - Mahfud yang juga seorang praktisi hukum ekonomi (Nawi)
Petrus Loyani, Ketua Relawan Ganjar - Mahfud yang juga seorang praktisi hukum ekonomi (Nawi)

Jakarta NAWACITAPOST - Petrus Loyani, Ketua Relawan Ganjar - Mahfud yang juga seorang praktisi hukum ekonomi, memberikan tanggapannya terhadap narasi yang diungkapkan oleh Tyas Subyakto, mengenai perbandingan antara Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan Megawati Soekarnoputri.

Dalam narasinya, Tyas Subyakto menyatakan bahwa Jokowi lebih hebat dibandingkan Megawati, dengan merinci prestasi politiknya yang mencakup jabatan sebagai Walikota Solo, Gubernur DKI Jakarta, hingga dua periode sebagai Presiden.

Baca Juga: Bahas Strategi Kemenangan, Team RGM Koordinasi bersama TPN Ganjar Mahfud

Sementara Megawati dianggap hanya sebagai ketua partai yang didukung oleh jumlah pendukung yang relatif lebih kecil.

Dalam rilis videonya, Kamis (21/12), Petrus tidak menampik fakta tersebut, namun ia menegaskan bahwa fokusnya bukan pada perbandingan tersebut.

Ia lebih menyoroti aspek demokrasi yang dianggap terganggu, khususnya terkait dengan langkah Jokowi melegalkan cara yang dianggap ilegal bagi Gibran, putranya, untuk menjadi calon wakil presiden.

Baca Juga: Petrus Loyani, Menilai Debat Calon Presiden dan Implikasinya bagi Kemajuan Indonesia

Menurut Loyani, tindakan tersebut merusak tatanan demokrasi di Indonesia dengan cara yang tidak terhormat terhadap Mahkamah Konstitusi (MK), lembaga yang dianggap sebagai simbol puncak demokrasi.

Ia menekankan bahwa ini bukanlah persoalan pribadi atau politik praktis semata, melainkan suatu ketidakhormatan terhadap demokrasi yang bersifat prinsipial dan substansial.

Petrus Loyani juga menyatakan bahwa satu-satunya noda yang dianggapnya pada Jokowi adalah terkait dengan proses melegalkan cara ilegal untuk Gibran.

Baca Juga: Petrus Loyani: TPN dan Relawan adalah 'Penjual' bukan 'Pengganjal' Ganjar-Mahfud

Ia menegaskan bahwa tidak ada rasa kebencian terhadap Gibran sebagai anak muda, namun menilai bahwa praktek semacam itu memberikan pendidikan yang buruk kepada generasi muda terutama yang mendukungnya.

Pria berambut putih ini menyampaikan keprihatinannya terhadap dampak mental dan moral yang mungkin timbul dari cara-cara seperti ini, termasuk Gibran yang menjadi Wakil Presiden dengan cara yang dinilai nepotis dan kolusi, serta Kaesang yang menjadi Ketua PSI secara instan hanya karena dirinya adalah anak presiden..

Petrus mengingatkan pentingnya menjaga integritas demokrasi dan memberikan pendidikan politik yang baik kepada generasi muda untuk mencegah kerusakan moral dan kredibilitas lembaga politik di Indonesia.

Halaman:

Editor: Nawi.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

KPU SURABAYA AJAK WARGA MENCOBLOS DI PILKADA 2024

Minggu, 24 November 2024 | 20:09 WIB

Bawaslu Surabaya Identifikasi 1.156 TPS Rawan

Minggu, 24 November 2024 | 17:26 WIB