Jakarta NAWACITAPOST - Petrus Loyani, Ketua Relawan Ganjar - Mahfud yang juga seorang praktisi hukum ekonomi, memberikan tanggapannya terhadap narasi yang diungkapkan oleh Tyas Subyakto, mengenai perbandingan antara Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan Megawati Soekarnoputri.
Dalam narasinya, Tyas Subyakto menyatakan bahwa Jokowi lebih hebat dibandingkan Megawati, dengan merinci prestasi politiknya yang mencakup jabatan sebagai Walikota Solo, Gubernur DKI Jakarta, hingga dua periode sebagai Presiden.
Baca Juga: Bahas Strategi Kemenangan, Team RGM Koordinasi bersama TPN Ganjar Mahfud
Sementara Megawati dianggap hanya sebagai ketua partai yang didukung oleh jumlah pendukung yang relatif lebih kecil.
Dalam rilis videonya, Kamis (21/12), Petrus tidak menampik fakta tersebut, namun ia menegaskan bahwa fokusnya bukan pada perbandingan tersebut.
Ia lebih menyoroti aspek demokrasi yang dianggap terganggu, khususnya terkait dengan langkah Jokowi melegalkan cara yang dianggap ilegal bagi Gibran, putranya, untuk menjadi calon wakil presiden.
Baca Juga: Petrus Loyani, Menilai Debat Calon Presiden dan Implikasinya bagi Kemajuan Indonesia
Menurut Loyani, tindakan tersebut merusak tatanan demokrasi di Indonesia dengan cara yang tidak terhormat terhadap Mahkamah Konstitusi (MK), lembaga yang dianggap sebagai simbol puncak demokrasi.
Ia menekankan bahwa ini bukanlah persoalan pribadi atau politik praktis semata, melainkan suatu ketidakhormatan terhadap demokrasi yang bersifat prinsipial dan substansial.
Petrus Loyani juga menyatakan bahwa satu-satunya noda yang dianggapnya pada Jokowi adalah terkait dengan proses melegalkan cara ilegal untuk Gibran.
Baca Juga: Petrus Loyani: TPN dan Relawan adalah 'Penjual' bukan 'Pengganjal' Ganjar-Mahfud
Ia menegaskan bahwa tidak ada rasa kebencian terhadap Gibran sebagai anak muda, namun menilai bahwa praktek semacam itu memberikan pendidikan yang buruk kepada generasi muda terutama yang mendukungnya.
Pria berambut putih ini menyampaikan keprihatinannya terhadap dampak mental dan moral yang mungkin timbul dari cara-cara seperti ini, termasuk Gibran yang menjadi Wakil Presiden dengan cara yang dinilai nepotis dan kolusi, serta Kaesang yang menjadi Ketua PSI secara instan hanya karena dirinya adalah anak presiden..
Petrus mengingatkan pentingnya menjaga integritas demokrasi dan memberikan pendidikan politik yang baik kepada generasi muda untuk mencegah kerusakan moral dan kredibilitas lembaga politik di Indonesia.
Artikel Terkait
Tentang 'Cawe Cawe' Presiden Jokowi yang diributkan, Petrus Loyani: Masuk Akal
Petrus Loyani: Jokowi Dikepung 3 Front
Rafael Alun Didakwa Cuci 100 miliar, Petrus Loyani: Harus jadi Preseden Hukum!
Terkait Pajak, Anies Baswedan Nyatakan Pengusaha Takut Dukung Dirinya. Petrus Loyani: Buktikan!
Petrus Loyani, Relawan Ganjar Mahfud: Perlu Reformasi UU Pajak dan Perubahan Mentalitas Wajib Pajak
Hashim Ungkap Korupsi 51 Triliun di Kemenhan, Petrus Loyani Pertanyakan Tindakan Prabowo
Petrus Loyani: TPN dan Relawan adalah 'Penjual' bukan 'Pengganjal' Ganjar-Mahfud
Bahas Strategi Kemenangan, Team RGM Koordinasi bersama TPN Ganjar Mahfud
Petrus Loyani, Menilai Debat Calon Presiden dan Implikasinya bagi Kemajuan Indonesia