Jumat, 5 Juni 2026

DKJT Gelar Workshop, Three In One Condition Jadi Solusi Pegiat Seni Teater

Photo Author
Elya Yudi, Nawacita Post
- Sabtu, 5 Juni 2021 | 12:47 WIB
Surabaya NAWACITAPOST - Dewan Kesenian Jawa Timur (DKJT) menggelar workshop dalam rangka persiapan menuju Jatim Art Forum (JAF) 2021 dan selesai pada, Kamis (27/5/2021).

Workshop ini dilaksanakan DKJT bersama sebelas perwakilan komunitas kesenian di kabupaten/kota se Jatim. Kesebelas komunitas ini dari Surabaya, Sumenep, Tuban, Sidoarjo, Pamekasan, Bangkalan, Malang, Batu, Gresik, Pasuruan dan Lamongan.

Berbagai agendapun menjadi buah diskusi dalam workshop tersebut, tidak terksecuali nasib teater kedepan, mengingat berbagai tantangan akan dihadapi para pegiat kesenian, salah satunya hambatan karena pandemi Covid-19.

Dalam acara yang bertajuk "Tumbuh Bersama Departemen DKJT 2021" pihak panitia Wlworkshop mendatangkan tiga pemateri sekaligus.

Ketiga pemateri tersebut yakni, Deni Zajuli, salah satu pegiat komunitas, membincang seputar langkah, cara, dan metode- yang berkembang sebagai langkah-langkah strategis dalam menyikapi pandemi untuk pertumbuhan komunitas ditengah aturan prokes pembatasan pemerintah.

Selanjutnya, Sito Fossy Biosa, akademisi Film membahas tentang hubungan teknologi digitalisasi dengan seni teater. Dan yang terakhir, ada salah satu aktor sutradara, dan juga menjabat komite teater Dewan Kesenian Jakarta yang memaparkan tentang visi terhadap giroh pergerakan dan pertumbuhan di tengah kaum seniman teater.

Hal sangat menarik dalam pemaparan materi pada workshop tersebut disampaikan oleh Sito. Ia memaparkan metode three one condition demi eksistensi seni teater ke depan.

"metode three in one condition (3 dan satu kondisi), dengan pola menghadirkan tiga kejadian dalam satu freaming, sehingga memungkinkan visual yang berbeda dan melahirkan makna yang banyak, dengan asumsi bahwa semakin banyak tafsir semakin menarik sebuah visual," kata Sito.

Ia menuturkan,  hal yang paling mendasar dari sesi sinema sebenarnya, bagaimana kerja lintas media dan disiplin merupakan pilihan yang paling menjanjikan dimasa sekarang, ditengah pandemi Covid-19.

Sito menganggap, sinema mampu menembus kebuntuan ruang dan waktu, juga melebarkan jangkauan penonton. Apalagi keterbukaan tekhnologi sosial media, dengan catatan tetap harus menggali skill, metode dan tekhnik sehingga tidak terkesan ngawur dan apa adanya.

Dari pemaparan para pemateri, workshop kali ini membuka semangat baru dalam dunia kesenian. Hal ini terlihat jelas dari antusias pada peserta workshop dengan melemparkan pertanyaan-pertanyaan sehingga acara tersebut hidup. (Tok)

Editor: Elya Yudi

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Terkini