Selasa, 2 Juni 2026

Herlina Dewan : Kalau Sudah Tidak Nyaman, Silahkan Pindah Fraksi

Photo Author
Admin 1, Nawacita Post
- Selasa, 19 Mei 2020 | 11:37 WIB

Surabaya NAWACITAPOST - Ketua Fraksi Demokrat-Nasdem DPRD Kota Surabaya Herlina Harsono Njoto mengaku kesal dengan pernyataan Imam Syafi'i sekretaris fraksinya dalam berita-berita usai gelaran Banmus DPRD Surabaya pada Jumat, 15 Mei 2020 yang lalu. Menurutnya, pernyataan tersebut memojokkannya sehingga Herlina merasa harus membela harga diri dan kehormatannya.


Diberitakan sebelumnya, Sekretaris fraksi Demokrat-Nasdem Imam Safi'i mengatakan bahwa Herlina dianggap 'MBALELO' dengan kesepakatan fraksi dalam upaya mengusulkan Pansus Covid.


 
Baca juga : ‘MBALELO’, Imam Syafi’i Kecewa Sikap Ketua Fraksi Demokrat-Nasdem

 

Dalam hal ini Dia menceritakan kronologi sebenarnya bahwa sudah menyampaikan kepada forum Banmus bahwa secara personal pilihannya akan berbeda karena melihat situasi dua minggu terakhir ini.


Sesuai pandangannya, usulan Pansus terjadi saat belum dilakukan PSBB di Surabaya dan waktu itu fraksi Demokrat-Nasdem memandang bahwa Pemerintah Kota Surabaya tidak transparan terkait data pemberi dan penerima bantuan dari CSR. Kemudian juga dianggap tidak punya Roadmap yang jelas dalam penanganan Covid.


Nah, dari beberapa rangkain rapat-rapat dan terakhir rapat komisi dengan pimpinan DPRD, pada akhirnya Pemkot lebih transparan dan kooperatif. Artinya data-data yang diinginkan Dewan diberikan.


" Kalau isu PSBB tak pikir sudah lewat, dan sudah diperpanjang lagi," ujarnya.


Dari situ, Herlina melihat walaupun Pemkot belum maksimal tapi sudah punya itikat baik untuk berubah menjadi transparan kepada lembaga Dewan.


Dikaitkan kepada dirinya selaku anggota Dewan yang juga turun kebawah melihat warga yang terkena dampak Covid dan ada juga yang meninggal, maka untuk penanganan Covid ini dirasakan tidak sederhana, tidak mudah dan juga melelahkan.


' Dari situ aku berkesimpulan bahwa masio sek lemot (meskipun masih lemot) ada yang gak benernya tapi mereka itu ndak diam. Buktinya ambulan ditelpon cepat datang full dengan APD walaupun akhirnya pulang gak dapat kamar dan kemudian kembali lagi pas ada kamar ternyata pasien sudah meninggal. Belum lagi kalau ada perusaahaan ada yang terpapar virus dll. Akhirnya komunikasi-komunikasi semacam itu membuat aku menyadari bahwa Pemkot mau berubah lebih baik dan tidak duduk diam," papar Herlina.


Dari upaya itulah Herlina merasa masih bisa meneruskan ini dengan duduk bersama membahas penanganan Covid ini agar bisa menekan laju Covid dan yang terutama adalah meningkatkan kesadaran masyarakat.


Kembali diceritakan, dalam rapat Banmus Herlina sudah menyampaikan pendapatnya dan dalam musyawarah tidak terjadi kesepakatan maka beberapa Dewan mengusulkan untuk diadakan Voting dan kemudian difasilitasi oleh ketua DPRD. Namun dalam proses votting tersebut ada beberapa anggota yang masih diluar atau tidak hadir.


" Voting pertama hasilnya 6-7 dan ada media yang sudah nulis komposisisnya. Kemudian masih belum dapat diterima karena ada yang tidak hadir dan diusulkan diulang lagi. Akhirnya setelah diulang malah hasilnya lebih besar lagi 5-8 (pengusul Pansus kalah)," ujar Herlina.


Herlina memahami, dalam politik menyatakan suatu sikap seseorang belum tentu menyatakannya dengan terbuka tapi ini sah-sah saja. " Diam dan tidak berpendapat juga merupakan sikap politik dan disitu dari Nasdem tidak hadir di dua kali voting," katanya.


Sebenarnya ia tidak mau menanggapi pernyataan Imam Syafi'i dari partai Nasdem dalam berita-berita. Namun merasa dipojokkan dan harus membela harga diri, Herlina ganti bertanya " Kalau seperti itu saya ganti nanya, harusnya Imam itu ngurusi internalnya (Partai Nasdem) saja. Kalau kemudian gak becus ngurus internalnya, kenapa menyalahkan Demokrat. Kemana saja Nasdem dalam dua kali votting itu ?" tanya Herlina saat ditemui diruangannya gedung DPRD Yos Sudarso. Senin (18/05/20)


" Kalau dia lebih extrem kenapa hanya Demokrat, yang tidak sepakat juga ada Golkar (salah satu pengusul Pansus). Kalau dibilang tendensius, ya saya bilang itu sangat tendensius karena cuma menyerang satu orang," ujarnya. " Kalau Imam sudah tidak nyaman bersama Demokrat, silahkan pindah fraksi," tegas Herlina.

Halaman:

Editor: Admin 1

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Terkini