Surabaya NAWACITAPOST - Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di Kota Surabaya sudah memasuki hari ke-10, namun jumlah pasien positif Covid malah semakin meningkat hampir 80%. Dari angka 372 pasien di tanggal 27 April 2020 (sebelum diberlakukan PSBB) dan meningkat sampai kisaran 586 pasien (update 7 Mei 2020).
Untuk Pasien yang meninggal duniapun, Surabaya terbilang sangat parah yaitu 77 orang atau kisaran 12% dari yang terkonfirmasi positif. Prosentase tersebut terbilang tertinggi diantara kota-kota besar lainnya, bahkan lebih tinggi dari prosentase Pemerintah Pusat.
Dalam upaya merefleksi hal tersebut, Pengurus Cabang Nadlatul Ulama (PCNU) Kota Surabaya meminta Pemkot Surabaya segera mengevaluasi segala kebijakannya dalam pencegahan sekaligus penanganan Pandemi Covid-19 di wilayah Surabaya.
" NU tetap konsisten mendukung Pemerintah dalam pemberlakuan PSBB," tegas KH. Ach Muhibbin Zuhri ketua PCNU Surabaya saat mengundang awak media dalam agenda " Refleksi 10 Hari PSBB Surabaya. Kamis (07/05/20).
Namun menurutnya, Pemerintah dalam hal ini Gugus Tugas tidak punya perintah yang jelas. Baik dalam hal sinkronisasi data maupun koordinasi pemerintah pusat, provinnsi dan kota.
Muhibbin tak setuju apabila masjid atau tempat ibadah lainnya ditutup tapi mal-mal tetep buka dengan berbagai alasan. Selain itu, dirinya mengungkapkan ketidak setujuannya apabila karantina atau isolasi terkonfirmasi positif dilakukan di hotel-hotel.
" Lebih baik Pemkot berkoordinasi dengan Pemprov, gunakan RS Haji dan Islamic Center untuk tempat Karantina atau isolasi pasien terkonfirmasi positif," ujarnya.
Ketua PCNU Surabaya menghimbau untuk kaum Muslimin agar tetap bergembira di Ramadhan saat PSBB ini meski hanya bisa beribadah di rumah. Dan selalu menghindari kerumunan. " Menghindari kerumunan disaat wabah juga adalah perintah Allah," kata Muhibbin.
" Warga muslim masih terbiasa dengan tradisi Sholat berjamaah di masjid. Hal ini memang sulit dibendung meski sangat rawan penularan virus," selanya.
Kepada Pemerintah, PCNU Kota Surabaya meminta Pemkot harus lebih tegas, terlebih harus mengajak warganya untuk bertobat dan banyak beribadah, karena banyak kasus bisa terselesaikan dengan tobat dan doa.
" Iktiyar Thohir dan Iktiyar bathin harus dibiayai Pemerintah," Pungkas Muhibbin.
Pada kesempatan yang sama, Ketua Gugus Tugas PCNU Surabaya Faisol Ramelan menegaskan bahwa PSBB di Surabaya hanyalah sekedar tulisan, baik tulisan di televisi maupun di Hp.
Menurutnya, PSBB hari ke-10 ini kondisi di Surabaya semakin ramai melebihi masa pra PSBB.
Faisol, dalam kesempatan itu juga melaporkan bahwa mulai bulan April Gugus Tugas PCNU Surabaya sudah melaksanakan instruksi dari PBNU untuk memberi himbauan terkait pencegahan penularan Covid di semua Masjid, Mushola dan TPQ lembaga NU.
Dirinya juga sudah mengkoordinir untuk kegiatan dapur umum di masyarakat dengan melibatkan seluruh muslimat.