Sabtu, 6 Juni 2026

Produksi Karet Indonesia Turun, Diduga Terancam Penyakit Asal Malaysia

Photo Author
Tim Redaksi, Nawacita Post
- Jumat, 26 Juli 2019 | 12:44 WIB
Jakarta, NAWACITA - Menteri Koordinator Perekonomian, Darmin Nasution, menggelar rapat koordinasi mengenai perkembangan harga karet dan dampak penyakit tanaman karet yang terus terjadi dalam beberapa waktu terakhir. Rapat tersebut dihadiri perwakilan Kementerian Perdagangan dan Kementerian Pertanian.

Direktur Jenderal (Dirjen) Perkebunan Kementerian Pertanian, Kasdi Subagyono, mengatakan salah satu fokus rapat koordinasi hari ini adalah mencari solusi terkait penyebaran penyakit Gugur Daun Karet (GDK) akibat jamur Pestalotiopsis sp. Penyakit ini telah membuat produksi karet nasional turun sebesar 15 persen.

"Prediksi kemungkinan turun, tapi jumlahnya belum tahu pasti. Tadi diprediksi secara nasional kurang lebih 15 persen penurunan dari 2018," ujar Kasdi saat ditemui di Kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta, Rabu (24/7).

Kasdi menuturkan, jumlah tanaman terdampak penyakit gugur daun tersebut masih berpotensi meluas. Antisipasi yang dilakukan pemerintah bersama petani saat ini adalah melakukan fogging atau pengasapan terhadap pohon karet.

"Masih bisa diantisipasi, upaya pemerintah pengendalian itu prinsip proteksi tanaman kita lakukan khusus untuk cendawan sudah dilakukan. Kaya fogging," jelasnya.

Diduga penyebab penyakit tersebut karena perubahan spesies jamur pada karet. Penyakit ini awalnya ditemukan di Malaysia kemudian berkembang di wilayah sentra karet Indonesia. Penyakit ini berpotensi untuk mewabah jika tidak segera ditangani dengan cepat dan tepat.

"Kalau RPN (PT Riset Perkebunan Nusantara) menelisik ada perubahan species jamur pada karet. Kalau dulu fusicocu penyebabnya, sekarang pestalotiopsi itu peneliti yang tau makanya kita ikutin data peneliti," tandasnya, dikutip SINDOnews.

Editor: Tim Redaksi

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Terkini