nasional

Dihantam Badai dan Hujan Pasir Vukanik, Pemancing Ungkap Detik-Detik Erupsi Anak Krakatau

Senin, 7 September 2026 | 21:32 WIB
Cerita pemancing yang sempat berada di kawasan Gunung Anak Krakatau saat erupsi terjadi. (Instagram.com/@destinasiocy)

NAWACITAPOST.COM — Ditengah meningkatnya aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau dalam beberapa hari terakhir, kisah mencekam datang dari rombongan pemancing yang terjebak di area kepulauan sekitar kawah aktif Selat Sunda.
 
Kehadiran mereka di kawasan berbahaya tersebut murni untuk menyelamatkan diri dari cuaca buruk, sebelum akhirnya menyaksikan langsung detik-detik erupsi dahsyat yang melontarkan lava pijar dan pasir vulkanik.

Erupsi yang terjadi pada Minggu (5/9/2026) tersebut sempat terekam kamera oleh salah seorang pemancing yang juga merupakan seorang konten kreator, Ocy. Dalam rekaman video yang diunggahnya, terlihat jelas lontaran lava pijar membumbung tinggi dari puncak Gunung Anak Krakatau di tengah kegelapan malam.
 
Baca Juga: Bayar Pajak Lebih Mudah dan Praktis lewat Samsat Drive Thru, Cek Lokasinya

Ocy menceritakan, awal mula keberadaan kapal mereka di sekitar lokasi tersebut dipicu oleh perubahan cuaca ekstrem di titik pemancingan utama.

“Sebelum kejadian, posisi kami sebenarnya di spot Sea Mount Reef (SMR) untuk memancing. Namun, karena cuaca di SMR tiba-tiba memburuk, kami memutuskan memutar arah mencari perlindungan ke arah kepulauan yang ada di sekitar Krakatau,” ujar Ocy dalam video yang diunggah di Instagram @destinasiocy, dikutip pada Minggu (6/9/2026).

Rombongan pemancing ini menegaskan bahwa mereka sama sekali tidak menyadari Gunung Anak Krakatau sedang berstatus aktif dan bererupsi saat mendekati daratan untuk berlabuh.

“Pukul 23.30 WIB, kami sampai di sekitar Gunung Anak Krakatau dan sama sekali tidak tahu kalau sedang mengalami erupsi,” imbuhnya.
 
Baca Juga: Dampak Erupsi Anak Krakatau Capai Bekasi, Wali Kota Imbau Warga Tetap Tenang

Ia merincikan rentang waktu perjalanan mereka yang semula menunjukkan kondisi kawah masih relatif tenang.

“Di perjalanan dari SMR jam 18.00 WIB, Gunung Anak Krakatau belum erupsi sampai di dekatnya itu setengah 12 malam, baru erupsi. Paginya, aku dari Gunung Anak Krakatau juga dari jam 06.00 WIB sampai jam 14.00 WIB, belum erupsi,” jelasnya.

Situasi mencekam baru disadari ketika otoritasi pelabuhan menghubungi mereka secara langsung di tengah erupan yang terus berlangsung.

“Situasi di sana sangat mengejutkan dan dan di saat bersamaan, pihak Syahbandar langsung menghubungi kami agar kami segera kembali ke dermaga,” lanjutnya.
 
Baca Juga: Viral Warga Lampung Dilanda Sesak Hujan Abu Imbas Erupsi Gunung Anak Krakatau

Menerima peringatan darurat tersebut, kapal yang ditumpangi para pemancing bergegas manuver balik arah dan menjauh dari radius bahaya. Selain kilatan lava pijar, dampak letusan terasa langsung ketika gelombang pasir kasar menyapu dek kapal tempat mereka bernaung.

“Itu pasir kasar, bukan debu. Pas dateng dikiranya suara hujan, enggak taunya pasir,” tambahnya menirukan momen saat material vulkanik menghantam kapal.

Meski harus menembus hujan pasir kasar dan ancaman gelombang, rombongan pemancing memastikan seluruh kru dan penumpang berhasil sampai di daratan tanpa cedera.

“Kami semua berhasil melalui momen krusial tersebut dan pulang dengan selamat tanpa kurang suatu apapun,” imbuh Ocy.
 
Baca Juga: Viral Warga Lampung Dilanda Sesak Hujan Abu Imbas Erupsi Gunung Anak Krakatau

“Saat ini kami semua sudah berada di daratan dalam kondisi yang sehat dan aman,” sambungnya.

Melalui unggahan video yang telah diputar lebih dari 6 juta kali penayangan tersebut, Ocy menepis spekulasi publik dan menegaskan bahwa rombongannya tidak secara sengaja melakukan aksi nekat mendekati kawah demi konten semata.

Secara terpisah, Direktorat Jenderal Perhubungan Laut (DJPL) Kementerian Perhubungan menerbitkan instruksi pengetatan navigasi untuk seluruh armada kapal yang melintasi Perairan Selat Sunda.
 
Kapal-kapal dilarang keras mendekati area kawah dalam radius aman minimum 3 kilometer seiring dengan berlakunya status Gunung Anak Krakatau di Level III (Siaga).
 
Baca Juga: Pukulan Telak DPR: RUU Perampasan Aset Harus Babat Habis Kejahatan Perbankan

Peringatan teknis tersebut disalurkan melalui Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Kelas I Banten guna mencegah insiden serius terhadap pelayaran komersial maupun penangkapan ikan.

“Seluruh kapal yang melintas di Perairan Selat Sunda diimbau meningkatkan kewaspadaan terhadap kemungkinan aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau, termasuk letusan, lontaran material vulkanik, abu vulkanik, maupun potensi gangguan terhadap keselamatan navigasi,” tulis keterangan resmi DJPL pada Minggu (6/9/2026).

Walaupun kewaspadaan ditingkatkan dan pembatasan radius diberlakukan bagi kapal nelayan serta melintas, otoritas memastikan layanan transportasi penyeberangan utama pada lintasan Merak–Bakauheni hingga saat ini masih dioperasikan secara normal dengan pengawasan keselamatan ketat.

Tags

Terkini