Senin, 7 September 2026

Misteri Dentuman Mencekam di Bandung Raya: Kaca Bergetar, Diduga Dampak Erupsi Anak Krakatau

Photo Author
Tiarsin, Nawacita Post
- Senin, 7 September 2026 | 11:21 WIB
Menyoroti fenomena dentuman misterius di Bandung, Jawa Barat yang diduga berkaitan dengan aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau. (Instagram.com/@infojawabarat)
Menyoroti fenomena dentuman misterius di Bandung, Jawa Barat yang diduga berkaitan dengan aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau. (Instagram.com/@infojawabarat)

NAWACITAPOST.COM — Suara dentuman misterius disertai getaran kuat yang membayangi kawasan Bandung Raya dan sekitarnya pada Sabtu (5/9/2026) dini hari mendadak ramai menjadi sorotan publik di media sosial. Fenomena yang terjadi secara berulang tersebut tak hanya mengejutkan warga, tetapi juga memicu spekulasi terkait sumber suara dahsyat itu.

Unggahan akun Instagram @infojawabarat mengabarkan bahwa getaran akibat dentuman tersebut dirasakan cukup kuat oleh masyarakat di lapangan.

"Tak sekadar dentuman keras, suara tersebut bahkan membuat kaca jendela dan pintu rumah warga ikut bergetar dalam durasi yang cukup lama," tulis postingan tersebut.
 

Berdasarkan pantauan dari berbagai rekaman video yang dibagikan warga, getaran bahkan dilaporkan masih terasa di beberapa daerah hingga pukul 06.30 WIB. Hingga saat ini, belum ada informasi resmi dari pihak terkait yang memastikan penyebab pasti dari dentuman lokal tersebut.

Di sisi lain, Stasiun Geofisika Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memastikan data pemantauan tidak mencatat adanya aktivitas gempa tektonik lokal di wilayah Jawa Barat pada kurun waktu kejadian.

Namun, Badan Geologi menyoroti adanya dugaan kuat keterkaitan antara suara dentuman yang dilaporkan masyarakat di Jawa Barat, Banten, dan Lampung dengan aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda.

Kepala Badan Geologi, Lana Saria, menyebutkan bahwa kedua peristiwa tersebut menguat karena berlangsung pada rentang waktu yang sama.
 

"Suara dentuman dan getaran yang reported masyarakat di Jabar, Banten, dan Lampung diduga berkaitan dengan aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau," kata Lana dalam keterangannya, Sabtu (5/9/2026).

"(Hal itu) karena berlangsung pada waktu bersamaan," sambungnya.

Berdasarkan catatan Badan Geologi, Gunung Anak Krakatau mengalami aktivitas erupsi yang cukup intens sejak Jumat (4/9/2026) malam hingga Sabtu dini hari. Pemantauan dilakukan melalui Pos Pengamatan Gunung Api Anak Krakatau di Kalianda (Lampung Selatan) dan Pasauran (Kabupaten Serang, Banten).

Lana mengungkapkan bahwa erupsi terjadi secara terus-menerus dan mengeluarkan suara gemuruh yang menggema selama beberapa jam.
 

"Pada tanggal 5 September 2026 pukul 23.07 WIB, Gunungapi Anak Krakatau mengalami erupsi menerus yang disertai dengan suara gemuruh," ungkapnya.

"Tinggi kolom erupsi tidak teramati, akan tetapi warna merah menyala semburan erupsi terlihat jelas secara menerus," papar Lana.

Meski gejolak vulkanik meningkat, Badan Geologi memastikan pertumbuhan tubuh Gunung Anak Krakatau pascaerupsi besar 2018 masih relatif kecil. Kondisi ini dinilai tidak berpotensi menyebabkan keruntuhan skala besar yang dapat memicu gelombang tsunami.

Secara historis, gunung api aktif tipe A di perairan Kabupaten Lampung Selatan ini memiliki rekam jejak letusan dahsyat, termasuk tragedi besar pada 1883 dan peristiwa longsoran tubuh gunung pada 22 Desember 2018 yang memicu tsunami di Selat Sunda. Setelahnya, fase pertumbuhan terus berlangsung hingga 16 Desember 2023.
 

Aktivitas gunung kembali menunjukkan peningkatan signifikan sejak 2 Juli 2026, yang membuat pihak berwenang menaikkan tingkat ancaman vulkanik.

"Sejak 2 Juli 2026, status aktivitas Gunungapi Anak Krakatau berada pada Level III (Siaga)," terang Lana.

"Seri erupsi tipe Strombolian yang menghasilkan lontaran batu pijar dan abu vulkanik terus berlangsung hingga tanggal 5 September 2026," tandasnya.

Editor: Tiarsin

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini