NAWACITAPOST.COM — Ketegangan pecah di jantung ibu kota! Kompleks Kejaksaan Agung (Kejagung), Jakarta Selatan, mendadak bergolak setelah gelombang massa dari Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Perguruan Tinggi Muhammadiyah Aisyiyah (PTMA) mengepung Gedung Bundar Jampidsus. Aksi unjuk rasa yang mengusung misi besar pemberantasan korupsi ini berujung ricuh saat bentrok tak terelakkan antara massa aksi dan aparat keamanan.
Berdasarkan dinamika di lapangan pada Senin (20/7/2026), atmosfer yang semula berisikan orasi mendadak memanas. Suasana mencekam tercipta ketika para mahasiswa berupaya mendobrak dan menerobos pintu gerbang utama kompleks Kejagung.
Aksi Saling Dorong hingga Barikade Ketat TNI-Polri
Aparat kepolisian yang membentuk barikade kokoh sejatinya telah melayangkan imbauan agar massa mengendalikan diri dan mundur. Namun, membara tekad mahasiswa membuat imbauan tersebut tak terindahkan. Aksi saling dorong yang sengit pun tak dapat dihindari.
Baca Juga: Jabar Nyatakan Perang! Wagub Erwan Setiawan Ancam Pecat ASN yang Terlibat LGBT
Tak hanya kepolisian, sejumlah prajurit TNI bersenjata lengkap dengan tameng pengaman turut disiagakan di garis depan untuk membendung gelombang desakan massa. Setelah tensi tinggi sempat menyelimuti area luar gedung, situasi akhirnya berhasil dikendalikan dan berangsur kondusif.
pulsating ketegangan tersebut mendadak viral di media sosial, salah satunya diunggah oleh akun Instagram @jakarta_siders pada Selasa (21/7/2026), memperlihatkan riuhnya massa yang membentangkan spanduk dan poster tuntutan di area vital penegakan hukum tersebut.
Suara Lantang Mahasiswa: "Adili Febrie sang Koruptor!"
Dari atas mobil komando yang memecah kerumunan, para orator secara bergantian melontarkan kritik pedas terhadap penegakan hukum di Tanah Air. Salah satu poin krusial yang membakar semangat massa adalah desakan tegas untuk menuntaskan kasus yang menyeret mantan Jampidsus, Febrie Adriansyah.
"Ada banyak kasus korupsi di negeri ini, namun penguasa tutup mata!" teriak orator disambut gemuruh petikan semangat ratusan mahasiswa.
"Adili Febrie sang koruptor!" tegas sang orator kembali membakar suasana.
Mahasiswa menegaskan bahwa korupsi bukan sekadar kejahatan keuangan, melainkan ancaman nyata bagi masa depan bangsa yang merusak pelayanan publik serta menghancurkan kepercayaan rakyat kepada negara. Mereka menuntut transparansi total dan tindakan tanpa pandang bulu terhadap siapa pun yang terlibat.
Menunggu Sikap Resmi Kejagung
Meski situasi di lokasi telah kembali tenang dan massa melanjutkan orasi dengan pengawalan ketat, gerakan ini menjadi sinyal kuat bahwa pemuda dan mahasiswa menolak diam atas berbagai kontroversi hukum di Indonesia.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan atau tanggapan resmi dari pihak Kejagung maupun otoritas berwenang terkait tuntutan dan insiden kericuhan yang terjadi. Publik kini tertuju pada Gedung Bundar: apakah tuntutan mahasiswa ini akan direspons dengan langkah nyata, atau sekadar berlalu bersama riak gelombang demonstrasi?(***)