Selain itu, Muhadjir memberi catatan khusus kepada segenap jajaran pemerintah Kabupaten Berau terkait angka prevalensi stunting. Berdasarkan data SSGI tahun 2022, daerah yang dikenal dengan wisata alam bawah lautnya itu tercatat masih masuk ke dalam kategori tinggi stunting, dengan angka sebesar 21,6 persen. Muhadjir mendorong, pemerintah Kabupaten Berau untuk membentuk program khusus tepat sasaran dengan memanfaatkan potensi alam yang ada.
Baca Juga: Kunjungi Puskesmas Labuan Bajo, Menko PMK: Kerja Bersama Tekan Angka Stunting
“Perlu upaya khusus untuk mempercepat penurunan angka stunting. Manfaatkan potensi alam yang ada, lakukan pemantauan berkala kepada Ibu hamil hingga pertumbuhan balita,” tegas Muhadjir.
Wakil Bupati Berau Gamalis turut menyampaikan, pihaknya telah berupaya melakukan sejumlah program percepatan, diantaranya membentuk Tim Percepatan Penangulangan Kemiskinan Kabupaten Berau, koordinasi lintas sektor dengan melibatkan BAZNAS dan pihak swasta, upaya verifikasi dan validasi data P3KE, hingga fasilitasi jajaran OPD di tingkat kecamatan yang membutuhkan data P3KE dalam rangka penyaluran bantuan.
Sedangkan dalam upaya penanganan stunting, Gamalis mengatakan sejumlah upaya khusus dalam menekan angka stunting, seperti penganggaran APBD untuk penanganan stunting, audit kasus stunting sesuai dengan delapan aksi konvergensi, pembinaan 1000 HPK di 16 kampung se-Kabupaten Berau, hingga orientasi dan pembinaan pada 170 tim dan 510 kader.
“Upaya-upaya ini masih terus kami lakukan untuk menekan angka kemiskinan ekstrem dan stunting. Bantuan dari pusat juga akan turut mendukung kami dalam mempercepat dan segera menuntaskan angka prevalensi yang masih tersisa,” ucap Gamalis.