NAWACITAPOST.COM - Borobudur Peace & Prosperity Festival (BPF) 2025 kembali digelar dengan penuh makna pada 10 hingga 12 Mei 2025 di Taman Aksobhya, kawasan Candi Borobudur, Magelang, Jawa Tengah. Festival ini telah memasuki tahun keempat penyelenggaraannya dan menjadi salah satu rangkaian penting dalam perayaan Hari Raya Waisak.
Diinisiasi oleh Yayasan Meccaya Surya Prakasa, acara ini memadukan unsur budaya, spiritualitas, dan kepedulian terhadap lingkungan dalam suasana damai khas Borobudur. Selama tiga hari, festival ini menghadirkan berbagai pertunjukan budaya, sesi kontemplasi spiritual, hingga bazar produk lokal yang memperlihatkan semangat kolaboratif masyarakat setempat.
Kehadiran masyarakat lintas agama dan pengunjung dari dalam maupun luar negeri memperkuat pesan perdamaian dan keberagaman yang diusung acara ini. Salah satu tokoh yang hadir adalah sosio-entrepreneur Cri Puspa Dewi Motik, yang telah mengikuti BPF selama empat tahun berturut-turut.
Ia menyampaikan kesannya terhadap perkembangan festival yang dinilainya semakin berkualitas dari tahun ke tahun. “Kebetulan empat tahun saya ikuti. Setiap kali saya ikut dan saya diundang sama Pak Ricky ini, saya lihat bagaimana perubahan sederhana sekali dari pertama. Pertunjukan tarian tahun pertama, tahun kedua, tahun ketiga, tahun keempat, pertama ciptaannya jauh lebih bagus tiap tahun dan busananya diperhatikan mendetail dari hari pertama, hari kedua, hari ketiga, hari keempat,” ujarnya.
Dewi Motik juga menyoroti dampak ekonomi dan sosial dari festival ini terhadap masyarakat sekitar. Ia menyebutkan bahwa kehidupan budaya di kawasan Borobudur mengalami peningkatan yang signifikan. Menurutnya, hampir setiap rumah kini memiliki usaha seperti kedai kopi, es krim, atau makanan khas yang berkembang seiring meningkatnya kunjungan ke daerah tersebut.
Ia juga mengapresiasi nuansa toleransi yang sangat terasa dalam penyelenggaraan acara. “Saya radikal Islam loh, datang ke situ. Toleransi itu satu contoh. Saya tak pernah wanita dan saya merasakan sekali semua orang begini. Ngapain sih kalau tiap tahun ke sana? Sehingga kamu tahu kenikmatan,” katanya.
Dewi Motik menekankan pentingnya membuka ruang bagi setiap umat beragama untuk menghargai dan merayakan kebersamaan, sesuai dengan semangat Pancasila yang mengakui ketuhanan yang maha kuasa, tanpa menyebut agama tertentu. Dalam kesempatan tersebut, Dewi Motik juga menyinggung soal peran pemerintah dalam mendukung acara seperti BPF.
Ia menyatakan bahwa selama program tersebut membawa manfaat dan melibatkan masyarakat lokal secara aktif, maka sudah seharusnya pemerintah memberikan dukungan nyata. “Pemerintah punya aturan, pemerintah punya program, pemerintah mempunyai sensasi yang didatangi. Ini program pemerintah yang saya pikir waktunya untuk kita saling simpati selama program itu dirasakan banyak pembentukan daerah, tunggusan orang-orang sekitar acara tersebut. Pemerintah wajib untuk mendukung,” tegasnya.
Baca Juga: Gaungkan Toleransi dan Kepedulian terhadap Alam, Irene Umar Puji Gelaran BPF 2025
Keunikan festival ini pun selalu menjadi daya tarik tersendiri setiap tahunnya. Menurut Dewi Motik, selalu ada hal lucu dan menarik yang membuat festival ini dinantikan oleh banyak orang. “Yang unik sih, setiap tahun ada saja yang unik, itu selalu ada yang lucu-lucu. Karena kan putih-putih semua diundangin, kan. Itu kan membuat program ini menjadi program seluruh dunia. Ada orang Australia, ada orang apa namanya, Putri Indonesia,” tambahnya.
Borobudur Peace & Prosperity Festival tidak hanya menjadi perayaan keagamaan, tetapi juga menjadi ruang perjumpaan antar budaya dan antar keyakinan. Melalui keberagaman aktivitas yang ditawarkan dan keterlibatan lintas komunitas, festival ini menjadi contoh konkret bagaimana warisan budaya Indonesia dapat mempererat persaudaraan dan membangun perdamaian yang berkelanjutan.