NAWACITAPOST.COM - Balapan motor liar terjadi di mana-mana. Banyak korbannya yang terkapar, mati sia-sia dalam keadaan yang sangat tragis di usianya yang masih sangat muda.
Tawuran antar pemuda atau antar warga juga semakin marak terjadi di mana-mana. Korbannya juga banyak yang cacat, tangannya buntung setelah ditebas pedang, parang, clurit dan banyak pula yang mati.
Backer menjadi-jadi. Banyak data pribadi dicuri, banyak orang tertipu, uang di rekening banknya habis terkuras.
Judi online juga banyak sekali. Penipuan dilakukan melalui berbagai modus di WhatsApp atau Facebook (FB), Instagram (IG) dan lain-lain (dll). marak terjadi.
Baca Juga: Kejar Tayang, MK Gelar Sidang Sengketa Pemilu Jadi 2 Sesi
Pinjaman online tambah gila-gilaan. Banyak orang yang jatuh bangkrut, diteror lalu bunuh diri.
Persekusi terhadap anak-anak remaja di sekolah-sekolah bahkan di Pondok Pesantren terjadi di mana-mana tiada henti-hentinya. Pemerkosaan terhadap perempuan di pedesaan maupun di perkotaan juga nyaris tiap hari ada.
Bencana alam, gempa bumi, banjir, tanah longsor, angin puting beliung, semburan lumpur yang menggunung di tengah sawah, kecelakaan lalu lintas di tol atau jalan raya, maling, copet, perampokan disertai pembunuhan selalu menyertai berbagai pemberitaan di stasiun-stasiun TV nasional kita. Banyak sekali kejadian-kejadian buruk menimpa tanah air kita.
Sementara itu, Presiden di Istana cengar-cengir saja. Tidak sedikitpun merasa bersalah atas ulahnya setelah menghabiskan ratusan triliun rupiah dana APBN untuk Pemilu yang pelaksanaannya banyak dimanipulasinya.
Baca Juga: Partisipasi Pemilih Pemilu 2024 Lebih dari 81 Persen
Presiden masih juga bergeming atas pernyataan Menteri Sosial (Mensos) Tri Rismaharini yang menyatakan tidak tahu apa-apa soal dana bantuan sosial (bansos) senilai Rp 498 triliun yang telah digelontorkan oleh Pemerintah, selain Rp79 triliun dana bansos yang dikelolanya. Padahal Risma itu Mensos, bukan Menteri Pertahanan (Mendag)!
Lembaga Negara seperti Mahkamah Konstitusi (MK) tak lagi berwibawa, setelah diacak-acak dan dilacurkan keputusannya oleh adik ipar Presiden dan hakim-hakim MK yang sekubu dengannya.
Komisi Pemilihan Umum (KPU) dicemooh banyak orang karena dinilai curang dan di banyak daerah terjadi kasus penyuapan oleh para caleg padanya. Sementara Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) seolah tak berfungsi apa-apa, karena sanksi yang diberikan olehnya tak memiliki efek jera bahkan nyaris tak berdampak apa-apa bagi para pelaku kejahatan Pemilu.
Partai-partai politik yang sudah bersusah payah berjuang habis-habisan sejak sebelum dan selama Pemilu suaranya banyak yang hilang tercuri. Partai Buruh misalnya, yang memiliki jutaan anggota bisa kalah jauh suaranya dengan Partai Solidaritas Indonesia (PSI). Beruntung setelah ketahuan terjadi penggelembungan suara, PSI tidak lolos ke Senayan.
Artikel Terkait
OPINI: Operasi Senyap Kecurangan Pemilu ala Jokowi
OPINI: Pengkhianatan Jokowi pada Ahok dan Megawati
OPINI: Selamatkan Jokowi atau Selamatkan Negara?
OPINI: Beragama dan Bernegaralah yang Rasional!
OPINI: Nepotisme Penghasil Badut-badut Negara