Sabtu, 18 Juli 2026

OPINI: Pengkhianatan Jokowi pada Ahok dan Megawati

Photo Author
Ahmad, Nawacita Post
- Senin, 11 Maret 2024 | 07:55 WIB
Saiful Huda Ems (Instagram)
Saiful Huda Ems (Instagram)

NAWACITAPOST.COM - Di tahun 2016, saya sudah memberi tahu Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok melalui adiknya Fifi Lety kalau yang merekayasa Aksi 212 itu sebenarnya Presiden Joko Widodo (Jokowi).

Front Pembela Islam (FPI) hanyalah proxy Jokowi saja. Kenapa saya tau soal itu?

Karena menjelang Demo 212, saya diprovokasi terus menerus oleh lingkaran utama Jokowi (Ring 1 istana) untuk mau mengungkap kasus-kasus Ahok seperti skandal RS Sumber Waras, gratifikasi reklamasi pantai dan lain-lain (dll). Meskipun, tidak pernah saya layani kemauan mereka. Sampai kemudian terjadilah Aksi 212.

Baca Juga: 100 Warga Binaan Lapas Banjarbaru Ikuti Asesmen Awal Program Rehabilitasi Sosial Tahun 2024

Waktu saya bertemu Ahok ketika sama-sama berada di ruang tunggu persidangan kasus penodaan agamanya, juga saya beritahu kalau Ahok pasti akan tetap "masuk" karena ini sudah menjadi bagian dari skenario Istana.

Lalu mengapa Jokowi sampai tega ingin memenjarakan Ahok ketika itu? Ini karena Ahok dianggap akan menjadi batu sandungan bagi Jokowi untuk melenggang ke Istana di Pilpres selanjutnya (2019).

Ahok juga dianggap sebagai kerikil dalam sepatu bagi Jokowi yang ingin tetap dipandang sebagai pemimpin nasional yang adil, tidak mau melindungi siapapun yang melakukan pelanggaran hukum, termasuk penodaan agama.

Baca Juga: 7 Ide Usaha Paling Cuan di Bulan Ramadan, Modal Kecil Dijamin Menguntungkan

Padahal sejatinya Ahok saat itu sama sekali tidak bermaksud melakukan penodaan atau pencelaan terhadap agama. Namun, Jokowilah yang malah berusaha untuk mendorong Ahok agar masuk di pusaran fitnah besar itu.

Melalui berbagai orang-orang terdekatnya Jokowi, saya waktu itu sudah berusaha terus menerus untuk mengingatkan Jokowi agar tidak mengorbankan Ahok. Sebab bagaimanapun Ahok itu pendukung militan Jokowi. Dan kehadiran Ahok saat itu dapat mengimbangi pengaruh pergerakan kaum radikal, intoleran.


Sayangnya, Jokowi tetaplah Jokowi, politisi yang haus kekuasaan dan serakah akan jabatan. Maka, apapun akan tetap dilakukannya termasuk mengorbankan Ahok.

Baca Juga: Wakil Bupati Rohul Himbau Masyarakat Potang Belimau Sambut Ramadhan 1445 Hijiriah, Agar Memaspadai Air Sungai Naik.

Tahun demi tahun telah berjalan dan Jokowi terlihat semakin serakah, tamak, angkuh dan brutal. Jika sebelumnya Jokowi tak mau disaingi popularitas dan prestasinya oleh Ahok, Jokowi setelah berhasil menyingkirkan Ahok dari peta politik nasional (walaupun Ahok saat itu hanya sebagai Gubernur DKI Jakarta), brutalitas Jokowi mulai melompat jauh yakni ingin menggusur pengaruh Megawati Soekarnoputri dari PDIP.

Maka mulai diatur-aturlah itu PDIP agar mau menerima skenarionya yang berikutnya, yakni menjadikan Prabowo Subianto sebagai Presiden 2024 dan Ganjar Pranowo sebagai cawapresnya. Keinginan tersebut ditolak mentah-mentah oleh Megawati dan Ganjar Pranowo. Maka gagallah bertubi-tubi skenario Jokowi.

Halaman:

Editor: Ahmad

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini