Sabtu, 19 September 2026

Usai Erupsi Anak Krakatau Mereda, Muncul Fenomena 'Telur Ceplok' di Kawah Aktif

Photo Author
Tiarsin, Nawacita Post
- Sabtu, 19 September 2026 | 19:42 WIB
Menyoroti fenomena mirip telur ceplok dari atas kawah Gunung Anak Krakatau yang sempat mengalami erupsi besar pada awal September 2026. (Instagram.com/@wxchasing)
Menyoroti fenomena mirip telur ceplok dari atas kawah Gunung Anak Krakatau yang sempat mengalami erupsi besar pada awal September 2026. (Instagram.com/@wxchasing)

NAWACITAPOST.COMAktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau (GAK) dilaporkan mulai mereda setelah sempat mengalami erupsi besar pada 3 September 2026 lalu.
 
Dampak sebaran abu vulkanik saat erupsi tersebut bahkan dilaporkan melingkupi wilayah Bengkulu, Sumatera Selatan, Lampung, Jakarta, hingga Jawa Barat.

Kendati kondisi erupsi mulai mereda dan gunung tampak relatif tenang, publik di media sosial justru dihebohkan oleh pemandangan unik dari atas kawah gunung api tersebut.
 
 
Dalam unggahan video akun Instagram @wxchasing pada Sabtu (19/9/2026), terlihat penampakan fenomena menyerupai 'telur ceplok' tepat di area kawah.

"Pemandangan dari atas kawah di Gunung Berapi Anak Krakatau di Indonesia setelah letusan besar awal bulan ini," tulis narasi dalam unggahan video tersebut.

Menanggapi kehebohan di media sosial, Kepala Pos Pantau Gunung Anak Krakatau Lampung Selatan, Suwarno, memberikan klarifikasinya.
 
Ia menjelaskan bahwa bentuk menyerupai 'telur ceplok' tersebut merupakan genangan air kawah yang telah terkontaminasi gas belerang serta material dinding kawah.
 

"Itu kawah GAK, jadi itu adalah air yang terkontaminasi dengan gas belerang," kata Suwarno saat dikonfirmasi, Sabtu (19/9/2026).

Suwarno menerangkan bahwa fenomena visual seperti ini tidak selalu dijumpai di setiap gunung api.
 
Perubahan warna dan visual pada genangan air di kawah GAK sangat dipengaruhi oleh kadar konsentrasi belerang serta interaksi dengan material tanah sekitarnya.

"Tidak semuanya, kalau belerang semuanya gunung api pasti ada. Di sana (GAK) ada genangan air, terkontaminasi oleh belerang jadi seperti itu warnanya, dan juga bisa terkontaminasi dengan lapisan dinding kawah itu," tambah Suwarno.
 

Meskipun letusan utama sudah surut dan mengeluarkan asap putih, Suwarno menegaskan bahwa aktivitas seismik di dalam perut Gunung Anak Krakatau masih berlangsung hingga saat ini.

"Kalau kegempaan masih terjadi, tercatat tadi malam tremor menerus (microtremor) terekam dengan amplitudo 0,5-6 mm, dominan 2 mm," ungkap Suwarno.

Mengingat aktivitas kegempaan yang masih dinamis, status Gunung Anak Krakatau kini masih dipertahankan pada Level III (Siaga). Masyarakat maupun wisatawan dilarang keras mendekati area kawah dalam radius bahaya 3 kilometer.

"Kami mengimbau masyarakat tetap mengikuti informasi resmi dari pihak berwenang dan tidak menjadikan kondisi gunung yang terlihat tenang sebagai tanda bahwa seluruh aktivitas vulkanik telah berakhir," tandasnya.

Editor: Tiarsin

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini