NAWACITAPOST.COM — Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terus mengganas di Kalimantan Selatan tidak hanya mengepung pemukiman warga dengan kabut asap tebal, tetapi juga menghancurkan ruang hidup satwa liar.
Tragedi memilukan melanda habitat satwa dilindungi di Desa Balimau, Kecamatan Kalumpang, Kabupaten Hulu Sungai Selatan, usai melahap kawasan Areal Penggunaan Lain (APL) dan lahan milik warga.
Balai Konservasi Sumber Daya Alam Kalimantan Selatan (BKSDA Kalsel) mengonfirmasi temuan mengerikan saat Tim Rescue melakukan pengecekan usai pemicu titik api membakar area tersebut.
Tim menemukan sejumlah satwa mati mengenaskan terpanggang di lokasi kejadian, yang terdiri dari 12 ekor bekantan, 1 ekor ular piton, serta 1 ekor ular king kobra.
Area teror kebakaran ini melumat tanah desa seluas kurang lebih 8 hektare bertutupan vegetasi semak, galam, renghas, bungur, dan halaban, serta tanah milik seluas 1,3 hektare.
Lahan yang hangus merupakan habitat utama puluhan bekantan yang terisolasi di luar kawasan konservasi.
“Dari keterangan Kepala Desa Balimau terdapat sekitar 60 ekor bekantan di kawasan tersebut, namun jumlah populasi itu masih perlu diverifikasi BKSDA melalui pemantauan lapangan setelah kebakaran melanda habitat satwa dilindungi tersebut,” ujar Kepala BKSDA Kalsel, Agus Ngurah Krisna, dalam keterangannya.
Kematian 12 ekor primata endemik ini menjadi pukulan telak bagi populasi bekantan Kalsel, yang pada data BKSDA 2025 mencatat sebanyak 3.757 ekor tersebar di 11 kabupaten/kota.
Dari jumlah tersebut, hanya 1.281 ekor yang berlindung aman di 12 kawasan konservasi ekosistem mangrove dan dataran rendah.
Data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kalsel mencatat, sepanjang periode 1 hingga 14 September 2026, amukan karhutla telah terjadi sebanyak 3.220 kali dengan taksiran luas lahan terbakar mencapai 21.414,43 hektare.
Kabupaten Hulu Sungai Selatan masuk dalam tiga wilayah terparah dengan kerusakan mencapai 3.786,71 hektare.
Guna menanggulangi bencana yang kian meluas, Satgas Udara mengerahkan 3 unit helikopter water bombing.
Dua unit disiagakan mengamankan kawasan Ring 1 Bandara Syamsudin Noor, sementara satu unit lainnya disiapkan untuk menyisir daerah luar yang membutuhkan pemadaman darurat.
Upaya pembuatan hujan buatan pun masih terhalang kondisi alam yang tidak mendukung.
“Dari BMKG untuk informasi setiap pagi, saat ini belum ada potensi awan hujan yang terpantau. Jadi untuk sementara belum ada rencana operasi OMC,” jelas Kepala Subbid Kesiapsiagaan Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Kalsel, Ariansyah.
“Kita berjaga-jaga untuk kesiapsiagaan kita. Apabila nanti terpantau adanya potensi awan hujan, maka kita akan aktifkan kembali atau usulkan kembali untuk operasi modifikasi cuaca,” tegasnya.
Artikel Terkait
Yasonna Laoly Tegaskan Kedaulatan Rakyat Harus Nyata, Demokrasi Tak Boleh Padam di Bilik Suara
Prabowo Lantik Suahasil Nazara Jadi Menkeu Ke-32, Catat Sejarah Baru Kabinet Merah Putih
Gempur Rokok Ilegal dan Narkoba, Menkeu Suahasil Minta Bea Cukai Makin Garang
Sentuhan Nyata Dinsos Kota Bekasi: Ratusan Paket Permakanan Menjangkau Kelompok Rentan
Ketegasan Wali Kota Bekasi: 24 ASN Dipecat dan Puluhan Lainnya Terancam Sanksi Disiplin