NAWACITAPOST.COM – Momen haru menyelimuti para relawan pemadam kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Barat.
Setelah puluhan hari bertaruh nyawa menembus pekatnya asap dan terik api, penantian panjang mereka akhirnya terbayar tuntas saat hujan deras turun seketika memadamkan titik-titik api yang membara.
Aksi tangis bahagia dan sujud syukur tersebut diabadikan oleh salah satu relawan di lapangan, Asrul Putra Nanda, melalui unggahan di akun Instagram pribadinya, @asrulputrananda, pada Rabu (16/9/2026).
Dalam rekaman tersebut, terlihat suasana emosional saat para petugas pemadam saling berpelukan di bawah guyuran air langit.
"Ya Allah, berkahilah hujan ini. Basahi tanah yang kering," ungkap Asrul. "Padamkan api yang masih membara di dalam gambut. Lindungi warga dan para relawan yang masih berjuang," sambungnya.
Asrul menuturkan, dirinya bersama tim relawan telah berjibaku tanpa kenal lelah selama 67 hari di berbagai lokasi karhutla di wilayah Kalimantan. Guyuran hujan yang turun mendadak menjadi jawaban atas doa dan kerja keras mereka yang tak kenal henti.
"Allah menurunkan hujan tepat di wajah para relawan, tak banyak kata, kami hanya bisa bersujud dan bersyukur," terang Asrul.
Rasa haru terpancar jelas dari raut wajah para relawan yang selama lebih dari dua bulan harus berhadapan dengan medan ekstrem dan ancaman asap pekat.
"Saya menyaksikan langsung kebahagiaan itu, wajah-wajah 67 hari terbiasa dengan panas dan asap, hari ini dibasahi hujan," ujar Asrul.
"Untuk pertama kalinya kami bisa pulang lebih awal, bukan karena menyerah, tapi karena Allah memberikan jeda untuk kami beristirahat," tambahnya.
Sebelum hujan turun, Asrul dan timnya sempat bergerak memadamkan amukan api karhutla di area Bandar Udara Supadio, Desa Limbung, Kabupaten Kubu Raya, Kalbar, usai menerima laporan langsung dari warga setempat.
Di tengah krisis air dan kepungan asap, mereka bahkan masih menyempatkan diri menyelamatkan satwa liar yang terdampak.
"Di muara yang airnya mulai disedot, ditemukan labi-labi yang kesulitan bertahan. Relawan kemudian memindahkannya ke tempat yang lebih aman," tutur Asrul. "Inilah perjuangan relawan. Gelap dan terang tetap bergerak," imbuhnya.
Turunnya hujan ini menjadi hembusan napas lega bagi warga Kalimantan Barat dan dedikasi luar biasa para relawan di garis depan pertahanan lingkungan.
Artikel Terkait
DPRD Batam Gemuruh Pantun dan Kritis Kawal Ranperda APBD 2027
DPRD Kota Batam Restui Perpanjangan Waktu Pansus Ranperda Sampah Demi Aturan Matang
Perkuat Benteng Pengawasan Orang Asing, Kantor Imigrasi Belawan Gencarkan Sinergi TIMPORA
Penetapan Gaji Manajer Koperasi Merah Putih: Kompetensi dan Kinerja Harus Jadi Tolok Ukur Utama
Kebakaran Wisata Bromo Meluas, Kepanikan Melanda Pengunjung Hingga Akses Ditutup Total