Selasa, 15 September 2026

129 Korban Masih Dicari, Evakuasi KM Virgo Dibayangi Bahaya

Photo Author
Tiarsin, Nawacita Post
- Selasa, 15 September 2026 | 19:28 WIB
Menyoroti fakta terkini ihwal proses evakuasi korban dalam kecelakaan KM Virgo di perairan Laut Jawa. (Instagram.com/@ussfeeds)
Menyoroti fakta terkini ihwal proses evakuasi korban dalam kecelakaan KM Virgo di perairan Laut Jawa. (Instagram.com/@ussfeeds)

NAWACITAPOST.COM — Operasi pencarian korban kecelakaan feri penumpang KM Virgo Transport 8 di perairan Laut Jawa hingga kini terus melaju dalam situasi penuh risiko.
 
Dari total 243 penumpang, sebanyak 129 orang masih belum ditemukan oleh Tim SAR Gabungan, sementara 108 orang berhasil dievakuasi selamat dan 6 orang dinyatakan meninggal dunia.

Kondisi di lapangan kian kompleks setelah badan kapal yang berada dalam posisi tengkurap terdeteksi bergeser sejauh 1,6 mil laut ke arah barat mengikuti arus laut.
 
 
Pergeseran ini mengindikasikan adanya ruang kosong atau sekat udara di dalam lambung kapal yang memicu bahaya laten bagi keselamatan para personel evakuasi.

Kepala Basarnas, Mohammad Syafii menjelaskan perubahan posisi diketahui dari datum atau titik lokasi kapal pada hari ke-2 operasi SAR.

"Posisi datum atau titik letak dari kapal Virgo Transport 8 ini ada pergeseran," kata Syafii dalam keterangan resminya, dikutip pada Selasa, (15/9/2026).

"Saat ini (posisi KM Virgo) sudah bergeser kira-kira 1,6 nautical mile (mil laut) ke arah barat dalam kondisi terbalik," paparnya.
 

Posisi KM Virgo Transport 8 yang terus bergerak juga terkonfirmasi dalam perkembangan operasi SAR. Di samping itu, Basarnas menduga masih terdapat sekat atau ruang kosong di dalam badan kapal sehingga kapal dapat bergerak mengikuti arus.

Dalam penuturannya, Syafii mengatakan posisi kapal yang tengkurap meningkatkan risiko bagi tim penyelam. Syafii menyebut, operasi ke bagian dalam kapal, baru dapat dilakukan apabila kondisi lingkungan dan keselamatan personel benar-benar memungkinkan.

"Kalau misalkan posisinya tengkurap pada saat tim penyelam itu masuk, tentunya memiliki risiko tersendiri," terang Syafii.

"Dan operasi hanya bisa dilaksanakan apabila memenuhi ketentuan dan safety first, artinya jaminan aman," tambahnya.
 

Risiko lainnya muncul dari sekat maupun ruang kosong yang masih terdapat di dalam kapal. Syafii menilai, pembukaan ruang secara paksa dapat menimbulkan perubahan tekanan yang membahayakan penyelam.

"Begitu juga pada saat ada ruang-ruang di kapal yang kosong ini, kalau kita sampai memaksakan untuk masuk," tuturnya.

"Apabila kita membuka misalkan salah satu sekat dari ruang kosong ini, di situ ada perubahan tekanan yang luar biasa, tentunya ini akan sangat membahayakan," imbuhnya.

Cuaca buruk dan arus kuat juga membuat operasi bawah air belum dapat berjalan sesuai rencana. Atas pertimbangan itu, Tim SAR masih mematangkan metode yang paling aman untuk menjangkau bagian dalam kapal.
 

Basarnas kini melibatkan personel dengan pengalaman dan keahlian khusus untuk menentukan langkah operasi berikutnya.

"Kita akan melaksanakan diskusi dan kita melibatkan personel-personel yang memang memiliki kemampuan, baik itu pengalaman atau pendidikan di kondisi-kondisi ini. Ini yang akan kita kembangkan," ujar Syafii.

Salah satu opsi yang dikaji adalah mengubah posisi KM Virgo Transport 8 yang saat ini tengkurap agar pencarian pada bagian dalam kapal lebih memungkinkan dilakukan.
 
Meski begitu, opsi tersebut belum diputuskan karena setiap tindakan terhadap badan kapal harus memperhitungkan arus, tekanan, kondisi struktur kapal hingga keselamatan penyelam.

Editor: Tiarsin

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini