Selasa, 15 September 2026

Didepak Usai Setahun Menjabat, Ini Tiga Kontroversi Purbaya Selama Menjadi Menkeu

Photo Author
Tiarsin, Nawacita Post
- Selasa, 15 September 2026 | 16:29 WIB
Mengintip perjalanan Purbaya Yudhi Sadewa selama menjadi Menkeu yang kerap disorot hingga menuai kontroversi. Mari telusuri jejaknya. (Dok. Kemenkeu)
Mengintip perjalanan Purbaya Yudhi Sadewa selama menjadi Menkeu yang kerap disorot hingga menuai kontroversi. Mari telusuri jejaknya. (Dok. Kemenkeu)

NAWACITAPOST.COM — Tepat setahun menjabat sebagai Menteri Keuangan Republik Indonesia menggantikan Sri Mulyani, Purbaya Yudhi Sadewa resmi dicopot dari posisinya pada Senin (14/9/2026).
 
Kursi Bendahara Negara kini beralih ke tangan sang wakil, Suahasil Nazara. Keputusan penggantian mendadak ini mengakhiri masa jabatan Purbaya yang diwarnai gelombang kritik serta sederet kebijakan kontroversial di jagat maya.

Selama 12 bulan memimpin Kementerian Keuangan, sedikitnya ada tiga dinamika dan polemik utama yang melekat pada rekam jejak Purbaya:
 

1. Gaya Komunikasi 'Koboi' dan Ceplas-ceplos

Sejak dilantik pada September 2025, gaya komunikasi Purbaya yang blak-blakan berulang kali memicu sorotan publik. Karakter ini dinilai kontras dengan pendahulunya yang cenderung formal. Menanggapi kritik atas gaya bicaranya, Purbaya sempat mengakui sifatnya tersebut namun menegaskan bahwa setiap langkahnya tetap terukur.

"Jadi saya kelihatannya gayanya kan selonongan kan sembarangan, tapi enggak. Kita hitung dengan benar, jadi koboinya pistolnya banyak," ungkap Purbaya pada 29 September 2025.

2. Gebrakan Suntikan Dana Rp200 Triliun ke Himbara

Pada Oktober 2025, Purbaya mengambil langkah berani dengan menempatkan dana pemerintah sebesar Rp200 triliun di bank-bank Himbara untuk menambah likuiditas dan memacu kredit sektor produktif. Kebijakan bernilai fantastis ini menuai perhatian luas.

"Bukan mau gaya-gayaan. Saya taruh Rp200 triliun, sebetulnya untuk membangun ekspektasi (ekonomi) yang positif," ujar Purbaya dalam Acara Sarasehan 100 Ekonom Indonesia 2025 di Jakarta, 28 Oktober 2025.
 

Ia juga menekankan batasan ketat bagi bank penerima.
 
"Sebetulnya kita minta ke perbankan yang terima dana itu, jangan anda kasih ke konglomerat itu dan nggak boleh beli dolar, karena kalau nggak rupiahnya akan diperlemahkan," tegasnya.

3. Polemik Setoran Rp120 Triliun Danantara

Mendekati akhir masa jabatannya, Purbaya kembali memicu perdebatan panas usai mengklaim Danantara bakal menyetorkan dana sebesar Rp120 triliun kepada pemerintah.

"Ah dia katanya bilang, saya (Danantara) nggak tahu," kata Purbaya pada Sarasehan 100 Ekonom Indonesia 2026, 3 September 2026.
 

Pernyataan tersebut berujung polemik tajam setelah pimpinan Danantara membantah adanya kesepakatan terkait nilai setoran tersebut. Isu panas ini menjadi salah satu sorotan terakhir yang mengiringi langkah Purbaya keluar dari Kementerian Keuangan.

Editor: Tiarsin

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini