NAWACITAPOST.COM — Jagat media sosial dihebohkan dengan dugaan aksi pelecehan seksual berkedok pembuatan konten video boneka di kawasan Jalan Tunjungan, Surabaya, Jawa Timur.
Menanggapi keresahan masyarakat, Kepolisian Resor Besar (Polrestabes) Surabaya resmi turun tangan melakukan penyelidikan mendalam guna mengusut tuntas peristiwa yang menargetkan sejumlah perempuan tersebut.
Kasatres PPA Satreskrim Polrestabes Surabaya, AKBP Melatisari, mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan di ruang publik serta tidak ragu melaporkan segala bentuk indikasi tindakan mencurigakan atau kejahatan kepada aparat penegak hukum.
"Lebih jaga diri dan lingkungan sekitar serta tingkatkan kewaspadaan terhadap setiap bentuk perilaku yang mengarah pada kekerasan atau pelecehan seksual," kata Melatisari dalam keterangannya, Selasa (22/9/2026).
"Laporkan jika mengetahui hal tersebut," tegasnya.
Kasus ini mencuat ke publik setelah salah satu korban berinisial AS memberanikan diri mengungkapkan pengalaman tidak menyenangkan yang dialaminya melalui media sosial.
Peristiwa tersebut bermula pada 5 Agustus 2026 sekitar tengah malam, saat AS bersama rekannya tengah berjalan menuju area parkir di kawasan Jalan Tunjungan.
Secara tiba-tiba, mereka dihampiri dua pria tidak dikenal yang mengajak membuat konten video berdurasi singkat.
"Bilang, 'Halo Kak, mau masuk konten nggak? Cuma take video 20 detik aja, paling lama'," kata AS melalui akun media sosialnya, Selasa (22/9/2026).
"(Lalu mengatakan) 'Kontennya sama boneka, nanti kita tos terus aku kasih boneka ke kakak'," sambungnya.
Meskipun AS sempat menolak ajakan tersebut, rekannya merasa tidak enak hati hingga akhirnya menyetujui. AS yang berniat mencegah temannya justru ikut ditarik ke dalam sorotan kamera.
Saat proses perekaman berlangsung, AS mengungkapkan adanya instruksi-instruksi aneh dari sekelompok pria tersebut. Mereka diberikan boneka dan diminta melakukan gerakan tertentu yang berujung pada dugaan tindakan pelecehan.
"Tos-tosan, ngasih boneka, disuruh lihat ekor bonekanya, disuruh pegang ekornya, ketawa-ketawa dan saling lempar satu sama lain," beber AS.
Merasa sangat tidak nyaman, AS membagikan kisah traumatisnya melalui media sosial Threads.
Unggahan tersebut mendadak viral dan memicu gelombang respons dari publik, di mana sejumlah korban lain turut bersuara dan mengaku mengalami modus serupa di lokasi yang sama.
Baca Juga: Peringatan 36 Tahun HUMANIKA: Perjuangan Demokrasi dan Keadilan Prabowo Dapat Dukungan Aktivis
Seiring berjalannya penyelidikan oleh pihak kepolisian, kreator konten di balik video boneka tersebut akhirnya muncul dan memberikan klarifikasi secara terbuka.
Pemilik akun TikTok dan YouTube @takimofficial08 menyampaikan permohonan maaf secara langsung kepada AS.
"Saya hanya ingin menyampaikan permintaan maaf yang sebesar-besarnya kepada kakak yang pernah saya ajak ikut dalam konten boneka," kata pelaku dalam unggahan di kanal YouTube @takimofficial08, Selasa (22/9/2026).
"Dengan kesadaran penuh dan ketulusan, saya benar-benar ingin meminta maaf kepada semua pihak dan terutama kepada kakak yang merasa terganggu dan saya rugikan bahkan lecehkan," tambahnya.
Pembuat konten tersebut berjanji menjadikan peristiwa ini sebagai evaluasi keras dan berkomitmen tidak akan memproduksi video dengan konsep serupa di kemudian hari.
"Saya juga berkomitmen untuk tidak mengulangi konsep konten seperti itu ke depannya," ujar si pembuat konten boneka itu.
"Sekali lagi, saya dengan sadar dan tulus memohon maaf kepada kakak dan semuanya yang tidak bisa saya sebutkan satu persatu," tandasnya.