WASHINGTON NAWACITA - Keputusan itu diambil di tengah ancaman Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengancam bakal menaikkan tarif terhadap barang-barang impor Meksiko. Pemerintah Meksiko menyatakan telah mengirim 6.000 pasukan ke perbatasan Guatemala dalam rangka menangkal gelombang migran Amerika Tengah. Menteri Luar Negeri Meksiko Marcelo Ebrard dikutip BBC Kamis (6/6/2019) berada di Washington untuk mencegah AS menaikkan tarif jika mereka gagal menangkal migran ilegal.
Terdapat perundingan yang di antaranya soal kesepakatan isu prosedur pengurusan permohonan suaka politik maupun bantuan finansial bagi negara sumber migran. "Kami masih mengusahakan siang ini karena belum kesepakatan yang dibuat. Kami masih mempunyai jadwal besok pagi (7/6/2019), dan terus memperjuangkannya," tegas Ebrard. Setelah negosiasi terakhir, Ebrard menyatakan dia adalah "orang yang optimis" setelah menjelaskan kepada AS mereka sudah menyiagakan ribuan tentara ke Guatemala.
Pada pekan lalu, Trump melontarkan ancaman bakal menaikkan pajak lima persen setiap bulan hingga paling tinggi 25 persen jika Meksiko gagal membendung migran ilegal. Trump mengumumkan rencana itu pada pekan lalu melalui kicauan di Twitter, dan membuat baik sekutunya di Partai Republik maupun pelaku pasar terkejut.
"Mereka harus mengambil kesempatan ini dan bertindak. Mungkin mereka bakal melakukannya," ujar Trump di sela menghadiri peringatan 75 tahun pendaratan Sekutu di Normandia di Perancis. "Kami sudah memberitahukannya kepada pihak Meksiko mengenai rencana itu dan saya sungguh-sungguh dengan ucapan saya," tambah presiden 72 tahun itu. Kepala Komunikasi Gedung Putih Mercedes Schlapp kepada Fox News seperti dikutip AFP mengatakan dari apa yang dilihatnya, upaya yang dilakukan Meksiko masih belum cukup. Ebrard menolak berkomentar ketika didesak dengan pertanyaan terkait usulan AS tentang "negara ketiga" di mana para migran bakal mengurus suaka dari Meksiko alih-alih AS. Pada awal pekan ini, Ebrard sempat menolak gagasan tersebut.
Tetapi Gedung Putih menyatakan hanya itulah satu-satunya cara yang harus mereka terapkan. Washington Post melaporkan bahwa kesepakatan itu bisa memberi wewenang AS mendeportasi migran dari Honduras dan El Salvador ke Guatemala. Sementara itu, bank di Mexico City dilaporkan membekukan rekening 26 pelaku perdagangan manusia yang bertanggung jawab mengatur karavan migran tersebut.
Dua aktivis dari Pubelo Sin Fronteras ditangkap setelah diduga mereka menawarkan sejumlah uang kepada migran untuk masuk secara ilegal ke Meksiko. Aparat Meksiko juga menghentikan karavan berisi 420 orang yang sebelumnya diduga berisi 1.200 orang. Namun kebanyakan dari mereka kabur ketika melihat aparat.
Editor: Tim Redaksi
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Terkini
Minggu, 29 Juni 2025 | 06:00 WIB
Rabu, 28 Mei 2025 | 17:33 WIB
Senin, 19 Mei 2025 | 17:39 WIB
Selasa, 11 Maret 2025 | 06:00 WIB
Jumat, 7 Maret 2025 | 18:22 WIB
Kamis, 6 Februari 2025 | 19:25 WIB
Kamis, 6 Februari 2025 | 19:06 WIB
Sabtu, 1 Februari 2025 | 06:00 WIB
Jumat, 31 Januari 2025 | 10:26 WIB
Jumat, 31 Januari 2025 | 09:49 WIB
Minggu, 17 Maret 2024 | 21:25 WIB
Minggu, 28 Januari 2024 | 21:07 WIB
Minggu, 22 Oktober 2023 | 17:22 WIB
Jumat, 1 September 2023 | 13:55 WIB
Kamis, 31 Agustus 2023 | 16:11 WIB
Jumat, 25 Agustus 2023 | 18:23 WIB
Kamis, 24 Agustus 2023 | 13:44 WIB
Kamis, 22 Juni 2023 | 20:56 WIB
Kamis, 22 Juni 2023 | 08:46 WIB
Kamis, 22 Juni 2023 | 08:18 WIB