Peran selama Perang Dunia II:
Selama masa pendudukan Jepang di Indonesia selama Perang Dunia II, De Tjolomadoe digunakan oleh Jepang sebagai kamp tahanan untuk menahan tawanan perang Sekutu.
Periode Pasca-Kemerdekaan:
Setelah Indonesia merdeka pada tahun 1945, De Tjolomadoe diambil alih oleh pemerintah Indonesia.
Bangunan ini kemudian digunakan untuk berbagai tujuan, termasuk sebagai markas militer dan tempat pelatihan polisi.
Pengembangan sebagai Pusat Pariwisata:
Pada tahun 2015, De Tjolomadoe mengalami renovasi besar-besaran untuk mengubahnya menjadi pusat pariwisata dan budaya.
Renovasi ini mempertahankan banyak elemen arsitektur asli bangunan sambil menambahkan fasilitas modern seperti ruang pertemuan, restoran, dan pusat perbelanjaan.
Pusat Seni dan Budaya:
De Tjolomadoe kini dikenal sebagai pusat seni dan budaya yang berisi galeri seni, pertunjukan seni, lokakarya, dan berbagai acara budaya.
Ini telah menjadi destinasi populer bagi wisatawan dan masyarakat setempat yang ingin menikmati seni, budaya, dan sejarah Indonesia.
Seiring berjalannya waktu, De Tjolomadoe telah mengalami transformasi dari pabrik gula bersejarah menjadi pusat seni dan budaya yang penting di Jawa Tengah.