Ia mengingatkan bahwa apabila di kemudian hari pengadilan memutuskan bahwa pasal-pasal dakwaan tidak terbukti, maka kerusakan kesehatan yang permanen akibat HIV tidak dapat ditarik kembali.
Dalam pernyataannya, Imam mengungkap fakta serius bahwa Pemkot Surabaya belum memiliki shelter khusus HIV, meski angka penyebaran masih tinggi dan cenderung meningkat di kalangan remaja.
“Setahun yang lalu kami sudah mengingatkan Pemkot. Sampai hari ini Pemkot tidak punya, padahal penyebaran HIV itu masih tinggi. Yang mengagetkan itu usianya makin remaja,” ungkapnya.
Ia bahkan menyebut bahwa NGO-NGO yang selama ini mendampingi penderita HIV mengalami kendala pendanaan sejak bantuan dari Amerika, termasuk USAID, dihentikan.
“Waktu itu mereka mengeluhkan tidak ada shelter khusus HIV. Kita sampaikan, tapi sampai hari ini belum dianggarkan,” katanya kecewa.
Imam mengingatkan bahwa penularan HIV di ruang tahanan tidak hanya membahayakan tersangka kasus LGBT, tetapi juga tahanan lain yang berada dalam sel yang sama.
“Kan ini bukan cuma menular ke mereka sesama LGBT, tapi tahanan yang lain itu loh. Bisa protes nanti tahanan yang lain di situ,” tegasnya. “Kalau tertular, dampak kerusakannya akan lebih besar.”
Ia mencontohkan ruang tahanan yang biasa dihuni beragam kasus mulai penipuan, penggelapan, hingga tawuran. Pencampuran tahanan seperti itu disebutnya sangat berbahaya dan tidak manusiawi.
Saat ditanya soal urgensi shelter, Imam menyebut data terakhir dari para NGO menunjukkan bahwa jumlah penderita HIV memang terus bertambah, dan yang paling mengagetkan adalah mulai munculnya kasus pada usia remaja.
“Yang positif itu anak-anak remaja, ini yang cukup mengagetkan,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa kasus penyalahgunaan narkoba di kalangan pelajar menjadi pintu awal penularan HIV.
“Kemarin ada 15 siswa SMP positif narkoba, sementara narkoba itu menjadi pintu masuk ke arah HIV,” jelasnya.
Menurutnya, dengan kemampuan keuangan kota Surabaya, pencegahan seharusnya bisa dilakukan lebih serius.
Imam Syafi’i menutup pernyataannya dengan desakan agar pihak kepolisian dan Pemkot Surabaya tidak lagi menunda kebijakan untuk memisahkan, menangguhkan penahanan, serta menyediakan shelter khusus HIV.
“Menurut saya jangan ditunggu lagi lah. Ini harus segera ada shelter khusus HIV,” tegasnya. ***