Disamping itu lanjut Wiwik, kedepannya peserta bisa membedakan antara hasil produk jurnalistik yang sesuai KEJ dan jurnalis abal- abal. Apalagi di tengah berkembangnya media sosial yang seringkali berisi informasi palsu atau hoaks.
"Dengan pemahaman jurnalistik, para pendidik bisa lebih cermat dalam menyerap informasi disampaikan oleh pemateri.Tentunya harapan kita, tidak ada lagi kepala sekolah maupun guru yang elergi.Bisa membedakan wartawan yang profesional dan wartawan abal- abal,serta dapat menyikapinya," ungkapnya.
Para guru begitu antusias menyampaikan berbagai pertanyakan kepada nara sumber. ( Sokhiaro Halawa)