NAWACITAPOST.COM — Impian Yakin Setia Laoli untuk mendulang rezeki berubah menjadi mimpi buruk mencekam. Berawal dari niat murni mencari pekerjaan, warga Karawang ini justru menjadi korban penipuan hingga dugaan penganiayaan brutal oleh komplotan yang mengaku bisa menyalurkan tenaga kerja di GOR Adiarsa Sport Hall, Kota Karawang, Jawa Barat, Selasa (11/8/2026).
Petaka ini bermula ketika Yakin tergiur tawaran pekerjaan dari seorang perempuan berinisial LS. Demi mengamankan posisi yang dijanjikan, Yakin diminta menyerahkan uang administrasi dalam jumlah besar.
"Setelah saya ketemu dengan LS di kantor, bilangnya saya harus membayar uang administrasi sebesar 50 persen yakni Rp4.250.000 di atas materai, yang disertai dengan lamaran kerja," kata Yakin, melalui sambungan telepon, pada Rabu (12/8/2026).
LS meyakinkan bahwa dalam waktu paling lambat dua minggu panggilan kerja akan datang. Tak hanya itu, LS berjanji jika dalam tenggat 45 hari tidak ada kejelasan, uang administrasi dijamin kembali 100 persen. Namun, kenyataan di lapangan berkata lain. Dua bulan berlalu tanpa kepastian. Saat ditagih, LS justru berdalih membutuhkan "uang pelicin" tambahan.
"Setelah berselang waktu kurang lebih 2 bulan kemudian, saya bertanya bagaimana dengan kelanjutan pekerjaan dimaksud, dijawab oleh LS bahwa tidak ada panggilan karena belum memberikan uang kopi," ucap Yakin.
Terdesak harapan untuk bekerja, Yakin mengalah dan mentransfer uang tambahan sebesar Rp1.500.000 ke rekening LS. Namun, panggilan yang ditunggu tak kunjung tiba. Karena terus menagih kepastian, Yakin akhirnya diundang untuk bertemu langsung di GOR Adiarsa Sport Hall pada Selasa (11/8/2026) sekitar pukul 13.00 WIB, lokasi yang diklaim sebagai kantor mereka.
Bukti transfer yang dilakukan oleh Yakin Setia Laoli (Istimewa)
Tiba lebih awal sekitar pukul 12.30 WIB, Yakin terlebih dahulu ditemui oleh pria berinisial IBR.
"Pertama kali ketika saya datang ditemui seorang berinisial IBR, dikarenakan kantor belum dibuka akhirnya ngobrol di luar, setelah kurang lebih 2 jam kemudian, Bu LS datang, bersama kurang lebih 8 orang," tuturnya.
Begitu pintu ruangan dibuka, drama manipulasi dimulai. Yakin terkejut saat IBR mendadak mengklaim bahwa Yakin telah setuju untuk mengundurkan diri dan menerima pengembalian uang seadanya.
"Ketika masuk ke dalam kantor, Pak IBR justru berbicara terlebih dahulu kepada Bu LS (Bu saya tadi sudah komunikasi di luar, sebelum ibu datang, dia bersedia mengundurkan diri dan uangnya dikembalikan red). Saya kaget, kapan saya mengiyakan," imbuh Yakin menirukan perkataan IBR.
Sontak, Yakin membantah keras klaim sepihak tersebut di hadapan LS.
"Saya tidak ngomong begitu lo, kok sekarang ngomong kayak gini, saya tidak mau dibalikin duit selama itu Bu, selama ini kan perjanjian tidak seperti itu, ini sudah mau 2 bulan, sedangkan ibu janjinya akan dikembalikan selama 45 hari, kalau tidak dapat panggilan kerja," bantah Yakin ketika menemui LS.
Ketegangan memuncak. LS tetap bergeming pada posisinya dan menantang korban untuk melapor ke polisi. Bahkan, IBR melontarkan ancaman bahwa kelompok mereka kebal hukum. Sadar ada yang tidak beres, Yakin berinisiatif mengabadikan momen tersebut menggunakan ponselnya sebagai barang bukti. Langkah berani ini justru memicu amarah komplotan tersebut.
"Akhirnya saya punya inisiatif untuk mengambil videonya mereka, karena tidak tahu persis identitas mereka, hanya tahu nomor HP dan mukanya saja, yang berujung mereka melempar kursi hingga menonjok saya," ungkapnya.
Terpisah rekan korban, JWH, menceritakan bahwa perkenalan mereka dengan LS berawal dari informasi teman sekolahnya berinisial PYH, yang merupakan karyawan dari yayasan penyalur tenaga kerja milik LS.
"Teman saya ini (PYH red) merekrut saya dengan Yakin Setia Laoli (korban red) untuk mencari kerja, pada Sabtu (13/6/2026) kami diminta membayar administrasi sebesar Rp4.250.000 atau 50 persen dari nominal dimaksud," kata JWH, melalui sambungan telepon, pada Rabu (12/8/2026).
JWH mengungkapkan, sebelum eksekusi penganiayaan terjadi, komunikasi antara korban dan LS sempat memanas.
"Bu LS justru meminta kepada Yakin Setia Laoli untuk mentransfer uang sebesar Rp1.500.000, dengan dalih untuk diproses pemanggilan pekerjaan ini, untuk tambahan uang kopi," cetus JWH kepada Nawacitapost.com.
JWH menambahkan bahwa sejak Sabtu (1/8) hingga Senin (10/8/2026) melakukan komunikasi secara intens, yang disertai ada sedikit cekcok.
"Cekcoknya mengandung bahasa kasar dan unsur pengancaman dari LS terhadap Yakin Setia Laoli, yang berujung dengan pertemuan di GOR Adiarsa Sport Hall, pada Selasa (11/8/2026) sekitar pukul 13.00 WIB, yang di temui langsung oleh tangan kanan LS berinisial IBR," tambahnya.
Mendapat kabar dari Yakin bahwa dirinya dikeroyok oleh sekitar enam orang pria bersama LS di dalam ruangan, JWH merespons cepat dengan menghubungi pihak berwajib melalui call center 110. Sayangnya, saat jajaran kepolisian tiba di lokasi kejadian, para terduga pelaku penganiayaan sudah kocar-kacir melarikan diri dan hanya menyisakan LS di lokasi.
"Hanya saja pihak kepolisian yang datang tidak menindaklanjuti LS, dikarenakan kasusnya berbeda yakni dugaan penipuan, sementara yang dilaporkan atau diproses terlebih dahulu adalah dugaan penganiayaan tersebut," tukasnya.
Kasus dugaan penipuan modus penyaluran kerja yang berujung pada aksi premanisme dan pengeroyokan ini kini menjadi sorotan publik di Karawang, menanti tindakan tegas dari aparat penegak hukum untuk mengusut tuntas para pelaku yang melarikan diri.(Sakera Nawacita)