Kamis, 29 Oktober 2026

Momentum Sumpah Pemuda, Meruwat Indonesia Hadirkan Refleksi Kebangsaan Lewat Seni Tradisi

Photo Author
Elya Yuddy Irawan, Nawacita Post
- Kamis, 29 Oktober 2026 | 09:22 WIB

NAWACITAPOST.COM, Surabaya — Di peringatan Hari Sumpah Pemuda ke-98, KPIR (Kami Pecinta Indonesia Raya) secara kreatif menghadirkan panggung kebudayaan bertajuk "Meruwat Indonesia" di Makam Pahlawan Nasional WR Soepratman, Jalan Kenjeran, Surabaya, pada Rabu (28/10/2026).

Kegiatan ini memanfaatkan momentum bersejarah tersebut untuk mengajak masyarakat merenungkan kembali makna persatuan melalui bahasa seni yang menyentuh hati.

Penyelenggara sengaja memilih lokasi yang penuh makna ini agar generasi muda dapat langsung terhubung dengan sejarah lahirnya lagu kebangsaan Indonesia Raya.

Bersama Yayasan WR Soepratman dan Surabaya Digital City, KPIR membawa pesan kebangsaan tidak melalui pidato, melainkan melalui pengalaman budaya yang hidup dan menyenangkan bagi setiap pengunjung.

Salah satu sajian utama yang mendalam adalah Teater Mantra bertajuk "Doa Tolak Balak". Pertunjukan ini menghadirkan Nyai Ngatinah, empu seni tradisi berusia 69 tahun, yang membawakan pesan-pesan kearifan lokal sebagai refleksi atas berbagai persoalan bangsa saat ini. Heri Jolotundo mengisi peran sebagai ilustrator, sementara Rokimdakas bertindak sebagai sutradara.

Orasi kebudayaan juga disampaikan oleh Prof. Siswanto dengan tema yang mengajak masyarakat waspada terhadap bahaya narkoba yang dapat merusak peradaban bangsa.

Tema ruwatan yang diangkat menjadi simbol pembersihan diri dari hal-hal yang merugikan, sekaligus ajakan untuk kembali menjaga nilai-nilai luhur kebersamaan dan persatuan bangsa.

Panggung ini juga menampilkan beragam karya seni yang melibatkan generasi muda secara aktif. Perguruan Seni Budaya Kampoeng Ilmu membawakan Tari Remo kolosal yang memukau penonton.

W Sibling menampilkan musik oriental, Paduan Suara SMK Muhammadiyah menyanyikan lagu-lagu kebangsaan, dan Denting Kemuning membacakan puisi yang membangkitkan semangat cinta tanah air.

Ketua Pelaksana Rokimdakas menegaskan bahwa kecintaan terhadap bangsa tidak selalu lahir dari upacara resmi. Pengalaman menyaksikan seni tradisi, berinteraksi langsung dengan para seniman, dan merasakan kebersamaan di antara sesama warga justru menjadi jalan yang lebih alami untuk menumbuhkan rasa memiliki terhadap Indonesia di hati anak muda.

Berbagai komunitas secara aktif turut menyukseskan kegiatan ini. Komunitas Surabaya Juang, Pecinta Alam dan Pendaki Gunung MGM, MASTRIP, serta Paguyuban Cak Ning bahu-membahu memastikan acara berjalan lancar.

Kehadiran mereka membuktikan bahwa semangat persatuan yang diikrarkan para pemuda tahun 1928 tetap hidup dan dijaga oleh generasi masa kini.

Melalui panggung Meruwat Indonesia, momentum Sumpah Pemuda menjadi lebih dari sekadar peringatan sejarah.

Seni tradisi dihadirkan kembali sebagai sarana refleksi kebangsaan yang hidup, relevan, dan mampu menyatukan lintas generasi.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Halaman:

Editor: Elya Yuddy Irawan

Tags

Terkini