Sabtu, 10 Oktober 2026

Kepungan Kabut Asap Pekat Cekik Palembang, ISPU Tembus Kategori Sangat Membahayakan

Photo Author
Tiarsin, Nawacita Post
- Sabtu, 10 Oktober 2026 | 21:17 WIB
Kondisi Palembang yang diselimuti kabut asap karhutla pada 10 Oktober 2026. (Threads.com/@turning_poin)
Kondisi Palembang yang diselimuti kabut asap karhutla pada 10 Oktober 2026. (Threads.com/@turning_poin)

NAWACITAPOST.COM — Warga Kota Palembang, Sumatera Selatan, masih harus terus bertahan hidup di tengah kepungan kabut asap pekat yang tak kunjung mereda.
 
Bencana akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tersebut telah menyelimuti Bumi Sriwijaya selama bertandak-tandak bulan, mengubah langit pagi menjadi kelabu dan membatasi ruang gerak masyarakat secara drastis.

Hingga Sabtu, 10 Oktober 2026, krisis kualitas udara ini kian memprihatinkan. Berbagai unggahan warga di media sosial secara masif membagikan potret visual mencekam terkait kondisi terkini kota yang kian terisolasi oleh kepekatan asap.
 

“Inilah kondisi pagi ini, 10 Oktober 2026 di Palembang jam 06.30 WIB dengan jarak pandang ya begitulah,” tulis akun Threads @turning_poin.

Pemilik akun tersebut turut melampirkan bukti tangkapan layar yang menunjukkan angka Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU) mencapai level ekstrem, yakni 1.203.
 
Angka ini melonjak tajam jauh di atas ambang batas normal. Berdasarkan regulasi Kementerian Lingkungan Hidup, standar ISPU kategori baik berada pada rentang 0-50, sementara angka di atas 300 sudah masuk dalam kategori berbahaya bagi keselamatan jiwa.

Keluhan Kesehatan dan Jeritan Warga

Dampak buruk racun di udara kini mulai menggerogoti fisik warga secara nyata. Berbagai keputusasaan dan keluhan atas timbulnya gangguan kesehatan membanjiri lini masa media sosial.
 

“Tolong!! Daerah KM 10 krisis udara segar, nak bernapas aja harus ngehirup asap pekat ini. Palembang benar-benar darurat. Ini Sabtu,10 Oktober 2026,” tulis akun @nes********i menggambarkan situasi kritis di wilayahnya.

Nada keputusasaan dan kritik keras terhadap penanganan krisis ini juga dilontarkan oleh warga lainnya yang menilai situasi sudah melampaui batas toleransi fisik manusia.

“Sabtu 10 Oktober 2026. 2 minggu terakhir terparah, kalau ga bisa atasin sendiri kenapa ga minta bantuan luar. Apa yang di atas sana paru-parunya dari besi ya? Kami ini hirup udara kotor udah 3 bulan lebih Pak,” tulis akun @cin*******a.

“Kasihan yang balita, anak-anak, bumil dan lansia, yang dewasa aja udah megap-megap. Terburuk sepanjang masa ini,” imbuhnya menegaskan penderitaan kelompok rentan.
 

Ratusan Titik Panas dan Kendala Modifikasi Cuaca

Ancaman ini sejalan dengan temuan lapangan. Berdasarkan data resmi per 7 Oktober 2026 dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), terdeteksi sebanyak 354 titik panas (hotspot) dengan tingkat kepercayaan tinggi di kawasan Palembang dan sekitarnya.
 
Dari jumlah tersebut, tercatat 92 titik api (fire spot) aktif yang melahap lahan seluas sedikitnya 390,61 hektare. Upaya pemadaman api secara intensif terus dikerahkan oleh tim Satuan Tugas (Satgas) Darat maupun Udara menuju berbagai lokasi titik api.
 
Kendati demikian, perjuangan para petugas menghalau krisis ini menghadapi benteng alam yang sulit ditembus. Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) atau hujan buatan hingga kini belum dapat direalisasikan secara optimal.
 
Hal ini disebabkan oleh minimnya ketersediaan awan potensi hujan di atmosfer wilayah Sumatera Selatan. Guna mengantisipasi dampak buruk terpaparnya polusi ekstrem, BNPB kembali mengeluarkan imbauan tegas kepada seluruh lapisan masyarakat.
 
 
Warga diwajibkan untuk senantiasa menggunakan masker berstandar saat beraktivitas di luar ruangan serta meningkatkan kewaspadaan ekstra sewaktu berkendara akibat jarak pandang yang sangat terbatas.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Tiarsin

Tags

Artikel Terkait

Terkini