Kamis, 8 Oktober 2026

Jerit Warga Palangka Raya Dikepung Asap Pekat Karhutla: Tiga Bulan Tanpa Langit Biru

Photo Author
Tiarsin, Nawacita Post
- Kamis, 8 Oktober 2026 | 12:40 WIB
Warga keluhkan kabut asap pekat selimuti Palangka Raya, Kalimantan Tengah. (Threads/imyspsp)
Warga keluhkan kabut asap pekat selimuti Palangka Raya, Kalimantan Tengah. (Threads/imyspsp)

NAWACITAPOST.COM — Media sosial kembali ramai dengan keluhan warga Palangka Raya, Kalimantan Tengah, terkait kabut asap pekat imbas kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang kian tak terkendali.

Sejumlah utas di platform media sosial Threads menunjukkan kondisi ekstrem ibu kota Provinsi Kalimantan Tengah tersebut yang kian mencekam, diselimuti kabut asap pekat hingga mengubah lanskap kota menjadi berwarna kuning memilu.

“Hari ini paling parahnya asap kebakaran hutan di Palangka Raya melebihi dari kemarin yang indeks 4000-an lebih. Sudah gak terdeteksi indeks udara saking parahnya, eror semua indeksnya,” tulis pemilik akun Threads @otousandeora04 pada Rabu, 7 Oktober 2026.
 

Pemilik akun tersebut mengungkapkan bahwa paparan kabut asap tebal tak hanya memangkas jarak pandang secara drastis, tetapi juga secara nyata mengancam keselamatan dan kesehatan masyarakat.

“Jarak pandang mungkin hanya 50-100 meter aja. Naik motor mata sakit dan napas sesak, kasihan yang punya anak kecil dan bayi kalau gini,” imbuhnya.

Keluhan senada yang memicu keprihatinan mendalam juga terlontar dari pengguna lain yang mempertanyakan keseriusan penanganan bencana ekologis tahunan ini.

“Ini enggak ada tindakan apa-apa ya? Kalimantan Sekuning ini karena asap dan yang sana bilang ini normal?” tulis akun @imy****p.

Dampak psikologis dan keputusasaan warga kian kentara setelah mereka harus bertahan di bawah kepungan polusi udara berat selama berbulan-bulan tanpa kepastian kapan bencana ini berakhir.
 

“Ini kondisi Palangka Raya, 7 Oktober 2026. Sudah 3 bulan kami tidak melihat langit biru Kalteng yang bagus,” tulis @uko****r.

Selain memicu derita sesak napas yang meluas, paparan racun asap karhutla membuat warga berulang kali mengeluhkan rasa panas menyengat di mata dan tenggorokan, hingga rasa pusing kepala yang tak kunjung hilang.

Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Palangka Raya, sejak penetapan status Siaga Darurat Karhutla pada 1 Juni hingga 5 Oktober 2026, tercatat sudah 801 kejadian kebakaran hutan dan lahan dengan luas area terdampak mencapai 1.390,02 hektare.

Dampak kesehatan akibat krisis udara bersih ini meroket tajam. Dinas Kesehatan Kota Palangka Raya mencatat kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) selama periode kabut asap akibat karhutla sejak awal Juni hingga awal Oktober 2026 telah menembus angka 10.240 laporan.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Tiarsin

Tags

Artikel Terkait

Terkini