NAWACITAPOST.COM — Perekonomian Indonesia menghentak awal Triwulan IV-2026 dengan daya tahan tangguh di tengah gejolak pasar global yang sarat ketidakpastian.
Di bawah kepemimpinan strategis Menteri Keuangan Republik Indonesia Suahasil Nazara, fondasi makroekonomi nasional terbukti kokoh memancar dari tiga indikator vital: inflasi yang terjangkar aman, neraca perdagangan yang konsisten mencetak surplus, serta lonjakan dramatis aktivitas sektor manufaktur yang kembali menembus zona ekspansi.
Berdasarkan siaran resmi Kementerian Keuangan pada Rabu (7/10/2026), resiliensi ini menjadi sinyal optimistis keberlanjutan pertumbuhan ekonomi domestik.
Juru Bicara Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Haryo Limanseto mengonfirmasi bahwa inflasi September 2026 berhasil dikendalikan di level 3,28 persen (year-on-year/yoy), tetap berada di dalam koridor target nasional 2,5±1 persen.
Inflasi inti tercatat melandai ke tingkat 2,84 persen (yoy), sementara inflasi Administered Prices (AP) melunak ke 3,25 persen (yoy) seiring masuknya fase normalisasi mobilitas masyarakat serta terbatasnya dampak penyesuaian harga BBM nonsubsidi.
Meski demikian, pengawalan terhadap gejolak harga pangan tetap menjadi prioritas utama jajaran kementerian.
“Komponen Volatile Food masih menjadi perhatian dengan inflasi 5,03 persen (yoy), dipengaruhi dinamika permintaan serta penurunan produksi sejumlah komoditas hortikultura akibat cuaca ekstrem, El Nino, dan bencana alam. Pemerintah terus memperkuat koordinasi pusat dan daerah untuk menjaga pasokan, kelancaran distribusi, dan keterjangkauan harga, khususnya menjelang akhir tahun,” ujar Juru Bicara Haryo.
Guna meyakinkan stabilitas daya beli masyarakat dan mengamankan ketahanan pangan, Pemerintah meluncurkan akselerasi berbagai jaring pengaman sosial.
Langkah konkret ini mencakup percepatan penyaluran Program Keluarga Harapan (PKH) Tahap III, penyaluran Bantuan Pangan Beras sebesar 10 kg per bulan untuk periode Oktober–Desember 2026, hingga percepatan penyaluran Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) beras medium melalui Perum Bulog.
Baca Juga: Dampingi Presiden Prabowo, Menkeu Suahasil Nazara Terima Triliunan Rupiah Penyelamatan Uang Negara
Intervensi kebijakan tersebut dipadukan secara terpadu melalui Gerakan Pangan Murah (GPM), optimalisasi Cadangan Beras Pemerintah (CBP), kerja sama inter-regional, serta penguatan infrastruktur produksi lewat manajemen jaringan irigasi, penataan pola tanam, pemanfaatan lahan produktif, pemetaan area rawan, dan penerapan Early Warning System.
Dari panggung perdagangan internasional, performa eksternal Indonesia menunjukkan taringnya dengan membukukan surplus akumulatif mencapai USD7,25 miliar sepanjang rentang Januari hingga Agustus 2026.
Ekspor nasional melesat berkat topangan sektor komoditas unggulan dan produk olahan: besi dan baja menyumbang USD19,18 miliar (tumbuh 4,88 persen), minyak kelapa sawit (CPO) dan turunannya menyumbang USD17,75 miliar (tumbuh 6,57 persen), serta batu bara menyumbang USD16,58 miliar (tumbuh 4,31 persen).
Penguatan ekspor industri pengolahan yang tumbuh 6,62 persen mengonfirmasi kesuksesan program hilirisasi nasional dalam mendongkrak nilai tambah produk ekspor Indonesia.
Di sisi impor, struktur perbelanjaan nasional didominasi oleh barang baku dan modal dengan porsi signifikan mencapai 91,3 persen dari total impor, masing-masing bernilai USD133,38 miliar untuk bahan baku/penolong dan USD36,74 miliar untuk barang modal.
Lonjakan impor mesin atau peralatan mekanis sebesar 15,26 persen serta mesin/perlengkapan elektrik sebesar 22,94 persen mengindikasikan ekspansi masif pada pemenuhan input produksi dan investasi manufaktur domestik yang kian bergeliat.
Geliat manufaktur Indonesia pun mencatatkan pemulihan tajam. Indeks Manufaktur (PMI) September 2026 melonjak ke angka 52,4 dari posisi 49,8 pada Agustus, secara meyakinkan mengembalikan posisi Indonesia ke zona ekspansif.
Lompatan performa ini dipacu oleh derasnya pesanan baru, peningkatan volume produksi, kebangkitan pesanan ekspor, eksekusi proyek-proyek baru, serta penguatan daya beli riil masyarakat.
Baca Juga: Bongkar Penyelundupan Raksasa, Menkeu Suahasil Nazara Tuntut Bea Cukai Terus Berburu Pelanggaran
Laporan resmi menunjukkan bahwa pada September 2026, permintaan pesanan baru tumbuh pada laju terpesat sejak Februari 2026, sedangkan pesanan ekspor mencatat rekor pertumbuhan tercepat sejak Mei 2022.
Fenomena positif ini diiringi penyerapan tenaga kerja yang kian luas, perbaikan kapasitas pembelian, dan akumulasi persediaan input.
Dari aspek biaya operasional, inflasi harga input maupun output melambat ke tingkat terendah dalam enam bulan terakhir, sementara optimisme dan kepercayaan para pelaku usaha terhadap prospek produksi 12 bulan ke depan bertahan sangat tinggi.
Momentum kebangkitan ekonomi nasional di bawah kepemimpinan Menteri Keuangan Republik Indonesia Suahasil Nazara dipastikan akan terus dikawal melalui kombinasi kebijakan fiskal yang presisi dan responsif.
“Ke depan, kebijakan Pemerintah akan tetap diarahkan untuk menjaga daya beli, mendorong investasi dan produksi, serta meningkatkan daya saing industri nasional. Dengan fondasi stabilitas yang terjaga dan aktivitas ekonomi yang kembali menguat, kita ingin memastikan momentum ini berlanjut dan memberikan manfaat yang semakin luas bagi masyarakat,” pungkas Juru Bicara Haryo.
Artikel Terkait
Sinyal Catur Elite: Panglima TNI Berpotensi Diganti Pascapertemuan Prabowo dan Megawati
Runtuhkan Mental Block, Timnas Indonesia Sabet Gelar Juara FIFA ASEAN Cup 2026
Tergiur Promo Ekstrem Mobil Listrik Henan Henrey, Konsumen Justru Terjebak Dugaan Penipuan
Santap Kuliner Resto 88 Seoul Bandung Berujung Petaka, Puluhan Konsumen Dilarikan ke Rumah Sakit
Ancaman Siluman Ruang Bakar: Abaikan Oli Mesin, Motor Terancam Rusak Total