NAWACITAPOST.COM — Jeritan minta tolong membahana dari benteng terakhir habitat orangutan Kalimantan.
Menghadapi amukan si jago merah yang kian tak terkendali, para relawan pelaku wisata Taman Nasional Tanjung Puting (TNPT) di Kalimantan Tengah akhirnya melayangkan surat terbuka bernada dramatis kepada pemerintah pusat.
Langkah darurat ini diambil setelah mereka mengaku mencapai titik nadir dan kewalahan menundukkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang mengepung zona inti kawasan konservasi tersebut.
Baca Juga: Uang Rp17 Miliar Tinggal Rp100: Linawati Nasabah BTN Berjuang Empat Tahun Menuntut Keadilan
Aksi keprihatinan tersebut diwujudkan melalui rekaman video surat terbuka yang mendadak tular (viral) dan menggetarkan jagat media sosial.
Hingga Senin (12/10/2026), video yang diunggah oleh akun Instagram @moncos_thepuntal_puntal telah ditonton lebih dari 4,3 juta kali dan memicu gelombang simpati serta sorotan tajam publik internasional.
"Berhari-hari melawan api, kini kami minta pertolongan. Berhari-hari tim di lapangan berjibaku melawan kobaran api di Taman Nasional Tanjung Puting," tulis keterangan dalam unggahan akun Instagram @moncos_thepuntal_puntal, dikutip pada Senin, 12 Oktober 2026.
Situasi di lapangan digambarkan amat kritis. Keterbatasan personel dan peralatan membuat benteng pertahanan para pejuang lingkungan ini kian rapuh menghadapi gumpalan api yang terus meluas.
"Tenaga, waktu, dan segala kemampuan telah dikerahkan. Bantuan telah datang, berbagai upaya telah dilakukan. Namun, api masih menjadi ancaman, sementara kemampuan kami semakin terbatas," imbuhnya dalam video yang kini sudah diputar lebih dari 4,3 juta kali penayangan itu.
Ancaman terbesar saat ini mengintai jantung pertahanan ekosistem, yakni zona inti TNPT.
Para relawan menegaskan bahwa luasan wilayah yang hangus telah mencapai angka yang mengerikan dan berpotensi terus melonjak jika tidak ada intervensi udara secara masif dari pemerintah.
"Jadi, yang terbakar itu kurang lebih 54 ribu hektare dan akan terus bertambah, jadi kita mohon bantuannya untuk menyalurkan water bombing," ujar relawan dalam video.
Tak hanya mengandalkan armada helikopter bom air (water bombing), para relawan mendesak jajaran pemerintah pusat untuk segera mengategorikan bencana ini sebagai prioritas nasional melalui pengerahan operasi pemadaman berskala besar yang didukung pasokan logistik memadai.
"Kami sudah berjuang berhari-hari, kini kami membutuhkan tindakan nyata sebelum semuanya terlambat," sambungnya.
Dramatisasi kondisi lapangan makin beralasan usai beredarnya rekaman udara yang memperlihatkan pemandangan mengerikan dari atas langit kawasan konservasi tersebut.
Potret lanskap yang tersapu kabut asap pekat dan kepungan lidah api mengindikasikan kehancuran ekologis yang kian dekat.
"Keadaan Taman Nasional Tanjung Puting per hari ini, Sabtu, 10 Oktober 2026. Para relawan sudah kewalahan, berharap segera dapat bantuan dari pemerintah pusat," tulis unggahan dalam akun Threads @aminatun.syh pada hari yang sama.
Pantauan dari udara melalui rekaman drone tersebut memperlihatkan kondisi yang amat mengkhawatirkan: dua garis frontage api berukuran raksasa membakar dua sisi kawasan Taman Nasional Tanjung Puting dari arah berlawanan dan terus bergerak saling mendekat, mengancam akan meratakan seluruh vegetasi dan keanekaragaman hayati di dalamnya.
Artikel Terkait
Luruskan Isu Tudingan Politik, BGN Pastikan Anak Panti Asuhan Tetap Dapatkan MBG
Lompatan Futuristik Wuyang Honda: Skutik Bongsor NWZ150 Berteknologi Mild Hybrid Resmi Menghentak
Tabungan Masa Tua Rp17 Miliar di BTN Lenyap, Linawati Mengaku Lelah Berjuang
Lompatan Harga Fantastis: Mobil Listrik BYD Seal dan Sealion 7 Meroket Ratusan Juta
Gemuruh Mandalika! Veda Ega Gebrak Baris Ketiga Grid Start Moto3 Indonesia