Terlebih, peliputan di wilayah seperti gunung berapi dan perairan membutuhkan perhitungan risiko yang lebih ketat.
Suryanto mengatakan faktor alam juga dapat berubah sewaktu-waktu meskipun jurnalis telah melakukan persiapan sebelum berangkat menjalankan tugas.
“Namanya alam juga kita tidak bisa lawan. Mungkin tiba-tiba ada ombak besar, itu kita tidak bisa hitung. Itu yang tidak bisa kita prediksi,” ujarnya.
Karena itu, PFI Surabaya berencana memperkuat pembekalan keselamatan bagi jurnalis melalui pelatihan mitigasi risiko bencana.
Program tersebut masih dalam tahap persiapan, termasuk menyusun materi pelatihan yang sesuai dengan kebutuhan jurnalis saat melakukan peliputan di lapangan.
PFI juga mendorong perusahaan media agar memberikan pembekalan keselamatan dan sertifikasi khusus kepada jurnalis sebelum menugaskan mereka ke wilayah dengan tingkat risiko tinggi.
“Harusnya sebelum jurnalis diberangkatkan ke peliputan konflik atau wilayah konflik, media sendiri sudah membekali dengan sertifikasi-sertifikasi khusus. Jadi yang diberangkatkan adalah orang-orang yang memang sudah memiliki sertifikasi khusus untuk wilayah tersebut,” tutupnya.(ibank)