NAWACITAPOST.COM — Kebakaran besar membakar Rumah Sakit Saiful Anwar (RSSA) Malang, Jawa Timur, pada Rabu (9/9/2026) sore.
Insiden yang melanda dua ruangan vital tersebut memicu pengaktifan status code red hingga memaksa puluhan pasien anak dievakuasi keluar dari gedung perawatan.
Berdasarkan laporan Mako Damkar, kobaran api mulai dilaporkan sekitar pukul 14.57 WIB. Sebanyak 20 personel dengan lima armada pemadam dikerahkan ke lokasi.
Saat petugas tiba, atap plafon gedung telah roboh dan api sudah membumbung tinggi membakar area dapur atau ruang gizi serta laundry room.
Wakil Direktur Pelayanan Medik dan Keperawatan RSSA, dr. Syaifullah Asmiragani, menjelaskan bahwa sebanyak 45 pasien anak langsung dipindahkan ke titik kumpul aman guna mengantisipasi bahaya asap pekat.
"Terkait pasien anak ketika sudah ada aktivitas code red untuk menghindari terjadinya keracunan karbon monoksida akibat asap yang berlebihan," kata Syaifullah dalam keterangannya, Kamis (10/9/2026).
"Maka pasien anak kami evakuasi ke titik kumpul yang dekat dengan gedung ini," sambungnya.
Setelah berada di titik aman, tim medis langsung menguji kondisi seluruh pasien. Kendati api berhasil dipadamkan sepenuhnya pada pukul 16.30 WIB, ruang perawatan anak masih menyisakan bau asap yang menyengat, sehingga para pasien harus dipindahkan ke ruang perawatan sementara.
"Setelah itu kami melakukan skrining dan evaluasi terhadap pasien yang dipindahkan untuk memastikan tidak ada kegawatan," terangnya.
"Dan sudah dipastikan tidak ada sehingga saat itu kami menunggu sampai ada lampu hijau dari tim yang bertugas mengevaluasi fasilitas," imbuh Syaifullah.
Ia memastikan kondisi seluruh pasien anak pasca-evakuasi tetap terkendali.
"Alhamdulillah, setelah kami pindahkan ke ruang tersebut dilakukan skrining ulang dan sampai sekarang tidak ada kegawatan pada pasien yang mengkhawatirkan," tandasnya.
Sementara itu, Direktur Utama RSSA Malang, dr. Mochamad Bachtiar Budianto, menegaskan bahwa selain memastikan keselamatan fisik, pihak rumah sakit juga menerjunkan tim psikiater dan psikolog untuk memberikan pendampingan trauma bagi pasien anak.
"Memang benar anak ada perhatian khusus karena berbeda, demikian secara psikologis," ungkap Bachtiar.
"Kami sudah mengantisipasi kami skrining ulang termasuk psikis tadi sudah langsung turun ke lapangan ada tim dari psikiater dan psikolog. Nanti akan mendampingi," tambahnya.
Pendampingan mental tersebut akan dilanjutkan secara intensif guna memulihkan kondisi psikis anak-anak usai insiden mencekam tersebut. "Besok masih akan turun ke ruangan, pasti ada yang merasa takut nanti akan dilakukan advokasi dan edukasi," tandasnya.
Tidak ada korban jiwa maupun luka-luka dalam peristiwa ini. Material yang terbakar meliput bahan makanan, peralatan dapur, serta tumpukan kain selimut dan seprai di ruang laundry.
Artikel Terkait
Wagub Jabar Gebrak Digitalisasi Bansos: Hapus Praktik Orang Dalam Demi Keadilan Rakyat
Hanya Rp1.000 per Hari, Program Poe Ibu Berhasil Ubah 18 Rutilahu Garut Jadi Layak Huni
Antisipasi Abu Vulkanik, Ketua TP PKK Kota Bekasi Bagikan 80 Ribu Masker
Liputan Aktivitas Anak Krakatau Mencekam: Lima Jurnalis dan Tiga Kru Kapal Hilang Kontak
Gunakan Sumpah Al-Quran, Guru Ngaji Asal Cilacap Diduga Lecehkan Puluhan Muridnya