Selasa, 7 Juli 2026

Menelusuri Jejak Arsitektur dan Iman, Ini 9 Gereja Tertua di Indonesia

Photo Author
Tiarsin Nawacita, Nawacita Post
- Selasa, 14 April 2026 | 15:33 WIB
Ilustrasi 9 Gereja Tertua di Indonesia (Ai)
Ilustrasi 9 Gereja Tertua di Indonesia (Ai)

5. Gereja Protestan Maluku (Abad ke-18)

Maluku, yang dikenal sebagai kepulauan rempah, menjadi salah satu pintu masuk awal kekristenan di nusantara. Gereja-gereja di wilayah ini menjadi pusat penyebaran agama sekaligus pusat interaksi sosial masyarakat Maluku sejak abad ke-18, meski beberapa bangunan telah mengalami renovasi akibat faktor alam dan sejarah.

6. Gereja Katedral Jakarta (1901): Kemegahan Neo-Gotik

Resmi bernama De Santa Maria ad Spes, Katedral Jakarta berdiri megah dengan gaya arsitektur Neo-Gotik khas Eropa. Dengan menara besi yang menjulang, katedral ini menjadi pusat Keuskupan Agung Jakarta dan simbol toleransi, letaknya yang berdampingan dengan Masjid Istiqlal menunjukkan wajah Indonesia yang harmonis.

7. Gereja Santo Yoseph, Kediri (1904)

Bergeser ke Jawa Timur, Gereja Santo Yoseph merupakan salah satu gereja Katolik tertua di wilayah tersebut. Arsitekturnya yang klasik tetap dipertahankan hingga kini, menjadi pusat spiritualitas bagi umat Katolik di Kediri dan sekitarnya selama lebih dari satu abad.

Baca Juga: Polemik Ceramah JK di UGM, Takmir Masjid dan Jubir Minta Publik Simak Video Utuh

8. Gereja Ganjuran, Yogyakarta (1924): Harmoni Budaya

Gereja Hati Kudus Yesus Ganjuran adalah contoh nyata akulturasi. Di sini, iman Katolik bersenyawa dengan budaya Jawa. Kompleks gereja ini memiliki candi dengan patung Yesus berbusana bangsawan Jawa, menciptakan suasana ibadah yang sangat kental dengan kearifan lokal.

9. Gereja Katedral Semarang (1927)

Terletak di kawasan strategis Tugumuda, Gereja Katedral Semarang atau Gereja Katedral Santa Perawan Maria Ratu Rosario Suci merupakan pusat Keuskupan Agung Semarang. Bangunannya yang megah merupakan karya arsitek kenamaan Belanda, menjadikannya salah satu objek cagar budaya yang sangat dilindungi.

Lebih dari Sekadar Tempat Ibadah

Keberadaan sembilan gereja ini membuktikan bahwa arsitektur dapat menjadi jembatan yang menghubungkan masa lalu dengan masa kini. Selain menjadi tempat perjumpaan spiritual, bangunan-bangunan ini kini bertransformasi menjadi destinasi wisata sejarah yang menarik minat wisatawan domestik maupun mancanegara.

Upaya pelestarian melalui penetapan sebagai cagar budaya menjadi langkah krusial. Merawat gedung-gedung tua ini berarti merawat memori kolektif bangsa tentang perjalanan panjang menuju keberagaman yang kita nikmati hari ini. Bagi generasi mendatang, gereja-gereja ini adalah buku sejarah yang terbuka, menceritakan kisah tentang iman, seni, dan persatuan.

Halaman:

Editor: Tiarsin Nawacita

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini