Menggugat Logika Fiskal yang 'Mencekik' Rakyat Kecil, tapi 'Lumpuh' di Hadapan Koruptor dan Mafia Dagang.
NAWACITAPOST.COM — Rakyat hari ini tidak lagi bertanya “Apa kerja DPR?” Rakyat sudah sampai pada kesimpulan yang amat pahit: DPR bukan lagi benteng pertahanan rakyat, melainkan instrumen penekan yang ikut melegalkan "pemerasan" terstruktur lewat pajak.
Sebuah catatan kritis dan menohok dari praktisi hukum, Dr. Suriyanto PD, SH., MH., M.Kn, membuka kotak pandora ketidakadilan fiskal yang sedang terjadi di negeri ini. Ketika APBN bocor atau jebol, jurus yang dikeluarkan penguasa selalu klise dan malas: naikkan PPN, tambah objek pajak, kejar UMKM, dan uber keringat pekerja.
Seolah-olah, dompet rakyat jelata adalah mesin ATM negara yang saldonya tak pernah habis. Padahal, mandat konstitusi sangat sakral: DPR adalah pengawas, pengontrol, dan penyambung lidah rakyat. Bukan debt collector korporasi negara!
Ironi Hukum Fiskal: Tajam ke Warung Kopi, Tumpul di Singapura
Sungguh sebuah anomali yang menggelikan sekaligus menyakitkan. Untuk rakyat kecil, negara mendadak berubah menjadi monster yang sangat galak. Telat bayar pajak Rp2 juta? Petugas pajak dikerahkan sampai ke warung-warung.
Namun, begitu berhadapan dengan koruptor kelas kakap, DPR mendadak senyap, bisu, dan lumpuh.
-
Ratusan Triliun Uang Haram: Dana hasil korupsi diparkir dengan manis dan aman di Singapura. Dana raksasa tersebut sejatinya cukup untuk membiayai program makan gratis seluruh anak bangsa selama 10 tahun tanpa perlu berutang satu rupiah pun!
-
DPR Ke mana? Mengapa tidak ada Pansus Khusus Repatriasi Aset? Mengapa RUU Perampasan Aset tidak pernah digeber kilat dalam waktu satu minggu, sementara UU yang menguntungkan oligarki bisa disahkan dalam semalam?
Lebih jauh lagi, jalur dagang Indonesia hari ini sejatinya masih "dijajah" oleh Singapura. Barang ekspor milik kita harus berputar dulu ke Singapura, baru kemudian balik ke Indonesia dengan harga yang melonjak 3 kali lipat. Praktik transfer pricing dan manipulasi hub dagang ini telah lama meneriakkan alarm kerugian di data Bea Cukai dan BPK.
Baca Juga: Tragis! Berujung Maut, Ibu di Sabu Raijua Tewas Ditikam Suami Hanya karena Uang Seragam Anak
Namun apa respons DPR? Mereka justru sibuk dalam ruang rapat ber-AC, membahas kenaikan tunjangan dan renovasi gedung. Tragis.
Menelanjangi Tax Algorithm: Algoritma yang Merampok yang Taat
Logika publik hari ini sedang dilukai oleh apa yang disebut sebagai Tax Algorithm (Algoritma Pajak) yang korup. Sistem perpajakan kita saat ini dirancang layaknya algoritma yang berpihak: merampok mereka yang taat, dan membiarkan mereka yang licik.
-
UMKM & Karyawan: Pelaku UMKM dicekik pajak berbasis omzet—bukan keuntungan (netto). Artinya, rugi atau untung, mereka wajib bayar. Sementara karyawan, gajinya dipotong otomatis tanpa ampun.
-
Para Crazy Rich & Mafia: Di sisi lain langit, para konglomerat hitam bisa dengan mudah berdansa menghindari pajak lewat skema trust fund, negara suaka pajak (tax haven), hingga memanfaatkan celah tax treaty.
Tags
Terkini
Skandal Penyadapan Presiden Menguncang Negara, Efriza Minta Penegak Hukum Bongkar Motif dan Aktor Intelektual
Rabu, 4 November 2026 | 14:02 WIBMahfud MD Ungkap Dugaan Makar di Balik Penyadapan Presiden, Hasilnya Mengalir ke Solo
Rabu, 4 November 2026 | 14:01 WIBSinyal Bahaya Penyadapan Ilegal Jenderal Polisi, Sentilan Lama Megawati Kembali Bergema
Rabu, 4 November 2026 | 14:00 WIBBenteng Fiskal Negara: Profil Suminto, Arsitek Pembiayaan di Bawah Kepemimpinan Suahasil Nazara
Rabu, 4 November 2026 | 13:59 WIBNakhoda Baru Fiskal, Berikut Jejak Panjang Sudarto Mengawal Anggaran di Bawah Suahasil Nazara
Rabu, 4 November 2026 | 13:59 WIBPerjalanan Karier Evita Manthovani, Kini Pimpin Ditjen Kekayaan Negara Era Suahasil Nazara
Selasa, 3 November 2026 | 21:22 WIBDi Bawah Komando Suahasil Nazara, Berikut Profil Arif Mahmudin Zuhri Nakhoda DJP Jaksel I
Selasa, 3 November 2026 | 18:43 WIBDi Samping Menjaga Benteng Fiskal Negara, Suahasil Nazara Kobarkan Kebanggaan Leluhur Nias di Panggung Nasional
Selasa, 3 November 2026 | 18:43 WIBRevolusi Akses Hukum: Yasonna Laoly Dorong JDIHN Jadi Benteng Transparansi
Selasa, 3 November 2026 | 18:43 WIBYasonna Laoly: Integritas Sejati Teruji Lewat Keselarasan Pikiran, Perkataan, dan Perbuatan
Selasa, 3 November 2026 | 11:39 WIBProfil Farid Bachtiar, Pejabat Senior DJP yang Berkarier Sejak 1988 hingga 2026
Selasa, 3 November 2026 | 11:39 WIBProfil Kindy Rinaldy Syahrir, Nahkoda Kanwil DJP JakPus di Era Menkeu Suahasil Nazara
Senin, 2 November 2026 | 21:17 WIBIni Profil Hidayat Amir, Staf Ahli Kemenkeu yang Baru Dilantik Suahasil Nazara
Senin, 2 November 2026 | 14:00 WIBNeilmaldrin Noor Resmi Dilantik Suahasil Nazara Jadi Staf Ahli Pengawasan Pajak, Ini Profilnya
Senin, 2 November 2026 | 13:59 WIBDapur MBG Bermasalah Menjerit Rugi, CEO Promedia Group Tegaskan BGN Tak Boleh Tunduk
Selasa, 13 Oktober 2026 | 14:05 WIBMenuju Munas 2027, Faigiziduhu Ndruru Desak Calon Ketum HIMNI Jadikan "Nias Pulau Impian" Visi Utama
Selasa, 13 Oktober 2026 | 14:04 WIBVisi "Nias Pulau Impian" Masuk Agenda Rakernas HIMNI, Agustus Gea: Mewujudkannya Butuh Kerja Keras
Senin, 12 Oktober 2026 | 21:39 WIBTokoh Pendiri HIMNI Arisman Zagoto Dorong Visi "Nias Pulau Impian" Jadi Agenda Nasional
Senin, 12 Oktober 2026 | 21:39 WIBPP Muhammadiyah Buka Suara soal Putusan MK Ijazah Gibran, Minta Publik Dewasa
Senin, 12 Oktober 2026 | 09:03 WIBPilah Polemik Ijazah Gibran, Rocky Gerung Tegaskan Hanya Penasihat Presiden
Minggu, 11 Oktober 2026 | 21:51 WIB