Pembangunan tersebut bukan investasi tanpa biaya modal. Skema pemerintah memungkinkan pembiayaan bank hingga maksimal Rp3 miliar per unit, dengan tingkat bunga/margin/bagi hasil 6 persen per tahun dan tenor 72 bulan. Memang terdapat grace period enam bulan atau paling lama 12 bulan untuk pembayaran angsuran pokok dan bunga/margin/bagi hasil.
Karena itu, semakin lama aset yang sudah selesai tidak segera produktif, semakin besar pula persoalan ekonominya. “Dalam bisnis sederhana saja, begitu investasi sudah keluar, aset harus secepat mungkin menghasilkan revenue. Kalau gedung sudah berdiri tetapi belum berjualan, manajer sudah direkrut tetapi belum bekerja, sementara biaya modal terus berjalan, ya ini tidak sehat. Bahasa sederhananya: bisa boncos sebelum bisnisnya benar-benar dimulai,” kata Agus.
Menurutnya, pembangunan fisik seharusnya berjalan paralel dengan kesiapan operasional. Begitu sebuah gerai selesai, manajernya masuk. Sistem IT aktif. Supplier masuk. Barang masuk. Transaksi dimulai. Revenue mulai tercipta. Jangan menunggu puluhan ribu gerai selesai baru kemudian sibuk memikirkan siapa yang mengoperasikan.
Koperasi Harus Segera Masuk Fase Bisnis
KDKMP sudah terlalu lama dibicarakan sebagai proyek pembangunan. Sekarang waktunya bergeser menjadi korporasi yang benar-benar berbisnis. Ukuran keberhasilannya bukan lagi berapa ribu gedung selesai dibangun atau berapa ribu manajer berhasil direkrut.
Baca Juga: Jerit Dini Hari di Laut Jawa: Kesaksian Mencekam Korban Selamat Virgo Transport 8
Ukuran berikutnya harus lebih konkret: berapa koperasi sudah buka, berapa omzetnya, berapa transaksi per hari, berapa produk masyarakat desa yang terserap, dan kapan koperasi mampu membayar seluruh biaya operasionalnya sendiri.
“Kalau saya melihatnya sebagai pengusaha, sekarang jangan lagi terlalu banyak bicara pembangunan. Kita harus bicara operasional dan revenue. Gedung sudah ada, orang sudah ada, investasi sudah keluar. Sekarang pertanyaannya cuma satu: kapan jualannya dimulai?” ujar Agus.
Program Koperasi Merah Putih terlalu besar untuk dibiarkan tersendat karena persoalan koordinasi. Manajer sudah direkrut. Pelatihan sudah dilakukan. Gedung terus berdiri. Modal sudah ditanam.
Berikutnya jangan rapat lagi untuk menentukan siapa yang bertanggung jawab. Duduk bersama, putuskan, tempatkan manajernya dan buka koperasinya. Sebab dalam bisnis, waktu bukan sekadar jadwal. Waktu adalah biaya. Dan semakin lama sebuah investasi menganggur, semakin mahal harga yang harus dibayar.(***)
Artikel Terkait
Dua Meter Gelombang Gulung KM Virgo, Rinto Bertahan Empat Jam Terombang-Ambing di Laut Jawa
Petaka di Tengah Arisan Keluarga: Insiden Longsor di Sanehen Aceh Tengah Telan Korban
Rangkul Duka Kemanusiaan dan Ukir Prestasi, Wali Kota Bekasi Pimpin Apel Penuh Haru
Pemerintah Kota Bekasi Terima Barang Rampasan KPK Senilai Rp3,65 Miliar untuk Polder
Jerit Dini Hari di Laut Jawa: Kesaksian Mencekam Korban Selamat Virgo Transport 8