Ini perbedaan antara strategi defensif dan strategi ofensif.
Strategi defensif berbunyi: "Semoga suara PDIP turun."
Strategi ofensif berbunyi: "Kami harus menambah suara Gerindra."
Yang kedua jauh lebih menentukan.
Caleg akan menjadi penentu
Pertarungan 2029 juga akan sangat ditentukan oleh siapa yang ditempatkan Gerindra di setiap dapil. Pemilu legislatif bukan hanya pertarungan logo partai. Sistem proporsional terbuka membuat figur caleg mempunyai pengaruh besar.
Pada Pemilu 2024, misalnya, Ajeng Wira Wati dari Gerindra memperoleh 11.467 suara di Dapil 1 dan berhasil mendapatkan kursi. Artinya, Gerindra membutuhkan lebih banyak figur dengan kemampuan membangun suara personal.
BHS bisa memainkan peran jaringan dan konsolidasi. Cahyo mempunyai peran strategis dalam menggerakkan DPC. Yona mempunyai pengalaman elektoral dan posisi di DPRD. Bahtiyar mempunyai posisi strategis di parlemen sekaligus struktur partai. Tetapi seluruhnya harus disatukan dalam satu mesin. Bukan mesin BHS, mesin Cahyo, mesin Yona atau mesin caleg tertentu. Melainkan mesin Gerindra Surabaya.
Risiko terbesar: konflik internal
Semakin tinggi target kursi, semakin besar pula potensi kompetisi internal. Ini hukum politik yang hampir selalu terjadi.
Ketika target hanya delapan kursi, persaingan caleg relatif mudah dikelola. Tetapi ketika target dinaikkan menjadi 10, 12, bahkan 15 kursi, perebutan wilayah, jaringan relawan, tokoh masyarakat dan basis suara akan semakin keras. Karena itu, konsolidasi PAC dan ranting yang sekarang dilakukan Gerindra menjadi sangat penting.
Retret yang dilakukan Gerindra Surabaya pada 2025/2026 secara eksplisit diarahkan untuk membangun kekompakan organisasi dan menyusun peta kerja politik sampai tingkat wilayah.
Jika konsolidasi itu berhasil, Gerindra mempunyai modal serius. Jika gagal, banyaknya figur justru dapat berubah menjadi sumber fragmentasi suara.
Skenario 2029
Dengan basis 2024, Gerindra sebenarnya mempunyai tiga kemungkinan.
Skenario pertama: bertahan.
Gerindra berada di kisaran 7–9 kursi. Ini terjadi jika partai gagal memperluas basis dan hanya mengandalkan efek pemerintahan pusat.
Skenario kedua: menyalip.