Tanpa evaluasi terhadap pengalaman para pionir, wacana membangun industri otomotif nasional berisiko kembali mengulang persoalan lama: gagasan besar yang tidak diikuti konsistensi pelaksanaan.
Teknologi Baterai Bukan Sekadar Momentum
Optimisme Moeldoko mengenai perkembangan teknologi baterai juga perlu dilihat secara lebih komprehensif.
Kemajuan teknologi baterai memang membuka peluang bagi Indonesia untuk memperkuat posisinya dalam industri kendaraan listrik. Namun, peluang tersebut membutuhkan investasi besar, riset berkelanjutan, serta penguasaan rantai pasok dari sektor hulu hingga hilir.
Indonesia tidak cukup hanya mengandalkan ketersediaan bahan baku seperti nikel. Penguasaan teknologi pemrosesan, prekursor, katoda, sel baterai, hingga sistem manajemen baterai menjadi bagian penting dalam membangun industri yang mandiri.
Baca Juga: Bea Cukai Tegal Musnahkan 5,29 Juta Batang Rokok Ilegal Senilai Rp7,93 Miliar
Selain itu, industri kendaraan listrik global juga sangat bergantung pada penguasaan komponen strategis, termasuk semikonduktor dan teknologi pengelolaan energi.
Apabila Indonesia hanya menjadi tempat perakitan kendaraan tanpa menguasai teknologi inti, peluang besar dari perkembangan EV justru berpotensi dinikmati oleh perusahaan asing.
Dalam situasi tersebut, Indonesia berisiko hanya menjadi pasar bagi produsen global yang memanfaatkan insentif dan fasilitas industri di dalam negeri.
Tiga Persoalan yang Harus Dibenahi
Tantangan industri kendaraan listrik nasional juga terlihat dari kesenjangan antara optimisme yang disampaikan dalam berbagai forum dan realitas kebijakan di lapangan.
Baca Juga: Tanggul Kali Angke Rampung 90 Persen, Bukti Nyata Gubernur Pramono Anung Atasi Banjir Jakarta
Setidaknya terdapat tiga persoalan mendasar yang membutuhkan perhatian serius. Pertama, kepastian regulasi dan insentif.
Perubahan kebijakan yang tidak konsisten dapat menciptakan ketidakpastian bagi pelaku industri dalam merencanakan investasi jangka panjang. Industri otomotif membutuhkan arah kebijakan yang jelas agar pengembangan teknologi dan kapasitas produksi tidak terhambat.
Kedua, komitmen pengadaan publik. Pemerintah seharusnya mengambil peran sebagai pembeli pertama sekaligus pengguna utama kendaraan listrik produksi nasional.
Artikel Terkait
Lompatan Besar Hatchback Listrik: BYD Buka Pemesanan Atto 1 Generasi Terbaru
Diedit Tanpa Izin, Ruben Onsu Bawa Rekaman Video Call ke Polda Metro Jaya
Wonosobozone Dobrak Industri Media Digital: Dari Fanpage Murah Hingga Bangun Ekosistem Keren
Serangan Spyware Canggih Guncang 99 Negara, Pengguna iPhone Wajib Waspada!
Dilantik Menkeu Suahasil Nazara, Berikut Profil Herman Saheruddin Sekretaris KSSK