Kamis, 4 Juni 2026

PGRI Jember Gelar Aksi Demo, Dua Puisi Warnai Sela-sela Aksi Para Guru

Photo Author
Tiarsin Nawacita, Nawacita Post
- Senin, 6 Mei 2024 | 16:38 WIB
Dienza Agoestha ketika membaca puisi disela-sela aksi demo (foto Sakera/Nawacita)
Dienza Agoestha ketika membaca puisi disela-sela aksi demo (foto Sakera/Nawacita)

NAWACITAPOST.COM - Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) menggelar aksi demo, pada Minggu (5/5/2024) diwarnai puisi karya dari Dienza Agoestha, disela-sela aksi demo berikut 2 Puisi khusus untuk Unifah:

Puisi I

Pesan Alam Semesta Untuk Unifah, Jandaku

Acapkali langkahmu melewati pekuburan sepi,
Tidakkah kau renungkan:
Kubur-kubur penuh belulang dan senyap,
Hati melewati suatu terowongan,
Gelap, gelap dan teramat gelap,
Bagai mati dalam sebuah kapal besar terdampar,
Kala tengelam dalam hati,
Kala jatuh dari kulit masuk jiwa.

Baca Juga: Suatu Sore Lebih Bermakna, Baca Puisi Dienza Agoestha Edisi 1 - 2 Februari

Acapkali langkahmu melewati pekuburan sepi,
Tidakkah kau renungkan:
Ada mayat-mayat,
Ada kaki-kaki dalam tanah liat dingin,
Ada maut dalam tulang belulang,
Bagai bunyi lolongan srigala, tapi tiada.
Dari kuburmu menggembung dalam basah,
Bagai tangis rinai hujan di malam.

Jauh dalam gelap aku melihat,
Kerandamu dipikul orang,
Membawa luput mayatmu pucat, berkafan,
Tapi kafan penuh noda hitam,
Dari warna jiwa orang-orang yang tersakiti,
Dari lidah para peziarah yang seperti sapu,
Lidah sapu adalah maut mencari jiwamu,
Seperti jarum mencari benang hitam,
Dari hidupmu.

Baca Juga: Bicara Demokrasi, Yuk Baca Puisi Dienza Agoestha Edisi 4 Februari

Acapkali langkahmu melewati pekuburan sepi,
Tidakkah kau renungkan:
Maut di dalam ranjangmu yang tiada tenang berlelap,
Sewaktu-waktu membawa rohmu
Untuk kembali.

Acapkali langkahmu melewati pekuburan sepi,
Adakah ranjangmu hasrat tenang berlelap ?

 

Jember, 5 Januari 2024
DIENZA AGOESTHA

Baca Juga: Ingin Hidup Lebih Bermanfaat, Jangan Lupa Baca Puisi Dienza Agoestha Edisi 6 Februari


Puisi II

POHON YANG TUMBANG

Salam Alam Semesta Untuk Unifah

Tiga November yang lalu, sebuah pohon besar melintang, tumbang, masih juga ingin merintangi jalan.
Lalu orang ramai-ramai menyingkirkannya,
Mereka berkata; Jangan takut, dia tidak lagi menjulang badai atau topan, Teman !
Megahnya itu dulu !

Pohon tumbang lima bulan sudah usia,
Puncaknya di sana-sini mengumbai,
Sisa sarang mungil buatan burung pada semusim.
Dan orang-orang pun berkata: Lihat, begitu rajin usahanya mengais nafkah yang tak pernah.

Baca Juga: Mau Ungkapkan Rasa Pada Kawan dan Teman, Yuk Baca Puisi Dienza Agoestha Edisi 9 Februari

Setiap orang yang dulu memuji dan mengapak, kini jadi senja.
Semua pulang bersedih, tapi dengan bibir mencibir,
Melihat begitu sarat oleh beban berat.

Halaman:

Editor: Tiarsin Nawacita

Sumber: DIENZA AGOESTHA

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Mengambil Hikmah Perjuangan Kader NU Ketika Di PPP

Selasa, 27 Agustus 2024 | 06:00 WIB

Makna Strategis Elektabilitas Dalam Pilkada Tahun 2024

Selasa, 13 Agustus 2024 | 15:47 WIB

Pentingnya Memahami Rekam Jejak Kandidat Bupati

Minggu, 11 Agustus 2024 | 20:27 WIB

Jangan Jadikan Uang Jadi Tuhanmu

Jumat, 9 Agustus 2024 | 08:43 WIB

Mewaspadai Oportunis Politik dalam Pilkada 2024

Kamis, 8 Agustus 2024 | 20:22 WIB