NAWACITAPOST.COM - Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) menggelar aksi demo, pada Minggu (5/5/2024) diwarnai puisi karya dari Dienza Agoestha, disela-sela aksi demo berikut 2 Puisi khusus untuk Unifah:
Puisi I
Pesan Alam Semesta Untuk Unifah, Jandaku
Acapkali langkahmu melewati pekuburan sepi,
Tidakkah kau renungkan:
Kubur-kubur penuh belulang dan senyap,
Hati melewati suatu terowongan,
Gelap, gelap dan teramat gelap,
Bagai mati dalam sebuah kapal besar terdampar,
Kala tengelam dalam hati,
Kala jatuh dari kulit masuk jiwa.
Baca Juga: Suatu Sore Lebih Bermakna, Baca Puisi Dienza Agoestha Edisi 1 - 2 Februari
Acapkali langkahmu melewati pekuburan sepi,
Tidakkah kau renungkan:
Ada mayat-mayat,
Ada kaki-kaki dalam tanah liat dingin,
Ada maut dalam tulang belulang,
Bagai bunyi lolongan srigala, tapi tiada.
Dari kuburmu menggembung dalam basah,
Bagai tangis rinai hujan di malam.
Jauh dalam gelap aku melihat,
Kerandamu dipikul orang,
Membawa luput mayatmu pucat, berkafan,
Tapi kafan penuh noda hitam,
Dari warna jiwa orang-orang yang tersakiti,
Dari lidah para peziarah yang seperti sapu,
Lidah sapu adalah maut mencari jiwamu,
Seperti jarum mencari benang hitam,
Dari hidupmu.
Baca Juga: Bicara Demokrasi, Yuk Baca Puisi Dienza Agoestha Edisi 4 Februari
Acapkali langkahmu melewati pekuburan sepi,
Tidakkah kau renungkan:
Maut di dalam ranjangmu yang tiada tenang berlelap,
Sewaktu-waktu membawa rohmu
Untuk kembali.
Acapkali langkahmu melewati pekuburan sepi,
Adakah ranjangmu hasrat tenang berlelap ?
Jember, 5 Januari 2024
DIENZA AGOESTHA
Baca Juga: Ingin Hidup Lebih Bermanfaat, Jangan Lupa Baca Puisi Dienza Agoestha Edisi 6 Februari
Puisi II
POHON YANG TUMBANG
Salam Alam Semesta Untuk Unifah
Tiga November yang lalu, sebuah pohon besar melintang, tumbang, masih juga ingin merintangi jalan.
Lalu orang ramai-ramai menyingkirkannya,
Mereka berkata; Jangan takut, dia tidak lagi menjulang badai atau topan, Teman !
Megahnya itu dulu !
Pohon tumbang lima bulan sudah usia,
Puncaknya di sana-sini mengumbai,
Sisa sarang mungil buatan burung pada semusim.
Dan orang-orang pun berkata: Lihat, begitu rajin usahanya mengais nafkah yang tak pernah.
Baca Juga: Mau Ungkapkan Rasa Pada Kawan dan Teman, Yuk Baca Puisi Dienza Agoestha Edisi 9 Februari
Setiap orang yang dulu memuji dan mengapak, kini jadi senja.
Semua pulang bersedih, tapi dengan bibir mencibir,
Melihat begitu sarat oleh beban berat.
Artikel Terkait
Suatu Sore Lebih Bermakna, Baca Puisi Dienza Agoestha Edisi 1 - 2 Februari
Bicara Demokrasi, Yuk Baca Puisi Dienza Agoestha Edisi 4 Februari
Ingin Hidup Lebih Bermanfaat, Jangan Lupa Baca Puisi Dienza Agoestha Edisi 6 Februari
Mau Ungkapkan Rasa Pada Kawan dan Teman, Yuk Baca Puisi Dienza Agoestha Edisi 9 Februari
Tiga Puisi Karya Dienza Agoestha Untuk Kawan yang Menyentuh dan Penuh Makna