SUATU SORE l
Angin tiba-tiba menyepoi hasrat memerdekakan sekitarku,
Pohon yang tlah lama kering bagai kecapi, dibiar terlantar pemiliknya,
Canggung berdiri di tengah orkes meratap,
Pelahan menggigil,
Dilupa oleh payah dan sedih,
Oleh derita,
Dan dilupa oleh kemestian.
Baca Juga: Citarum Harum, Puisi Lau Tze, dan Long March Siliwangi
Kini segaramu menyapa,
Aku dengarkan debur ombaknya, kawan !
Resonator alam yang menyejuk kau tiupkan,
Jawaban suatu resia,
Dari kehidupan orang-orang pinggiran,
Yang hampir tak kedengaran di sana.
Tapi eit., jangan kau tipu !
Sebab murka mereka, singa !
Baca Juga: Puisi Seorang Penyair Yang Belum Selesai
Wahai keajaiban kasih, pucuk pohon di tinggi,
Bawakan mereka indahnya perubahan,
Bukan sekedar terharu oleh nyanyian burung-burung,
Yang sebentar lalu, lantas hilang sirna,
Entah ke mana.
Nganjuk, 1 Februari 2024
DIENZA AGOESTHA
Baca Juga: Puisi Bunga Flamboyan dan Cerita Cinta SBY - Ani Yudhoyono
SUATU SORE ll
Di batu tempat istirah
Keringat membekas jejak
Pada puisiku yang remeh ini
Tidaklah ngelagkan para sanjak
Dimabuk lalai dan alpa
Dan lupa akan yang lalu
Di atas batu sepoi irama angin
Mengayun sejiwa rengsa
Kala tawa semak riap ilalang
Pada mula merekah kembang
Di pohon tua yang kuncub
Burung ramai membuat sarang
Baca Juga: Samawi Jabar Tuntut Fadli Zon Minta Maaf Soal Puisi 'Doa yang Ditukar'
Wahai, sambut hidup rimbun daun
Gelak tawa irama luhur
Dari kukecap minuman
Lebih garang dari sekedar anggur
O, cahaya terlalu cerah
Tembus pelupuk mata
Inikah kebenaranMu, ya Robbi ?
Merestu ke kalbu
Artikel Terkait
Apresiasi Wartawan, Siswa KB-TK AL-Falah Surabaya Baca Puisi di HPN 2020
Citarum Harum, Puisi Lau Tze, dan Long March Siliwangi
Ungkapkan Kerinduannya, Anak Binaan di LPKA Palu Ciptakan Puisi Untuk Sang Ibu
Puisi Seorang Penyair Yang Belum Selesai
Peringati Hari Pahlawan ke-78, Lapaski Gelar Lomba Puisi