NAWACITAPOST.COM - Konferensi Cabang (Konfercab) XX (Dua puluh) Pimpinan Cabang (PC) Gerakan Pemuda (GP) Ansor Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur dinyatakan deadlock oleh pimpinan sidang, berikut ini kronologi yang disampaikan Ahmad Jaelani salah satu peserta dari Pimpinan Anak Cabang (PAC) Kecamatan Ngluyu dan komentar Hamid Muzakki.
Pada berita sebelumnya yang berjudul "Diduga Ditunggangi Kepentingan, Konferensi XX PC GP Ansor Nganjuk Berakhir Ricuh dan Deadlock" Konfercab XX PC GP Ansor Kabupaten Nganjuk, digelar di Pondok Pesantren (Ponpes) Bahrul Hasan Tankila, Dusun Grompol, Desa Tanjungtani, Kecamatan Prambon, Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur, yang semula akan digelar pada Minggu (22/12/2024), diundur menjadi Senin (23/12/2024).
Baca Juga: Diduga Ditunggangi Kepentingan, Konferensi Cabang XX PC GP Ansor Nganjuk Berakhir Ricuh dan Deadlock
Berdasarkan data yang dihimpun wartawan Nawacitapost.com, ada tiga kandidat Bakal Calon Ketua PC GP Ansor yaitu, Agus Muhammad Nasih Basthomi alias Gus Nasih, M Bagus Wahyudi, dan Hamid Muzakki, yang sama-sama sudah mendapatkan rekomendasi dari beberapa Pimpinan Anak Cabang (PAC), maupun Ranting GP Ansor.
Adapun rekomendasi untuk Agus Muhammad Nasih Basthomi alias Gus Nasih, mendapatkan rekomendasi dari 4 PAC dan 44 Ranting, begitu juga dengan Bagus Wahyudi juga mendapatkan rekomendasi dari 4 PAC dan 44 Ranting. Sementara Hamid Muzakki mendapatkan rekomendasi tertinggi yaitu dari 7 PAC dan 131 Ranting GP Ansor.
Pada akhirnya 3 bakal calon tersebut mendaftarkan diri sebagai calon. Namun persyaratan belum diverifikasi oleh panitia dan belum ditetapkan sebagai calon, bahkan belum ada penyampaian visi misi dari ketiga calon tersebut, salah satu bakal calon yakni Hamid Muzakki sudah dianggap sebagai pemenang oleh pimpinan sidang dikarenakan mendapatkan rekomendasi tertinggi.
Tak hanya sampai disitu, situasi Konfercab diperburuk dengan adanya dugaan berbagai intervensi dari pihak PC GP Ansor Nganjuk, yang dianggap kurang transparan dalam memberikan nilai akreditasi terhadap PAC maupun Ranting. Padahal penilaian akreditasi organisasi merupakan penentu dalam memberikan hak suara pada konfercab.
Ketua PAC GP Ansor Kecamatan Ngluyu Ahmad Jaelani ketika dikonfirmasi mengatakan bahwa dirinya merasa pihak panitia dari awal pelaksanaan sudah kurang fair. Artinya dari awal kita masuk pendaftaran, berkas sudah di checklist dan sesuai sehingga juga sudah dikasih ID card untuk menjadi peserta yang memenuhi syarat dan bisa masuk ke arena konfercab.
"Seharusnya setelah pembukaan magrib, habis isya' itu mulai pembahasan tatib untuk pemilihan Ketua. Disitu molor dan kita konfirmasi ke panitia katanya banyak berkas dari PAC yang kurang lengkap, padahal sebelumnya semua sudah melengkapi, ternyata ada yang ketlisut, ada yang hilang. Ketika dikeroscek lagi ada yang ketemu," kata Ahmad Jaelani melalui sambungan telepon aplikasi WhatsApp, pada Jum'at (27/12/2024).
Baca Juga: Terpilih Secara Aklamasi Sebagai Ketua PW GP Ansor Jatim, Ini Profil dan Program Musaffa Safril
Ahmad Jaelani menambahkan, dikarenakan molor tersebut akhirnya kami sebagai peserta mencurigai, ada tanda-tanda yang tidak beres, dari panitia yang kurang siap atau bagaimana, karena belum sampai ke tatib. Pada saat itu juga dari peserta sudah mulai ada yang protes kepada panitia.
"Akhirnya peserta bisa masuk, tapi memasukkannya itu dipanggil satu persatu sesuai mandat dan harus menunjukkan Kartu Tanda Penduduk (KTP), dan peserta juga banyak sehingga peserta mungkin sudah capek dikarenakan menunggu antrian di luar, sehingga sebagian peserta mulai emosi, yang pada akhirnya dimasukkan semua diverifikasi kelengkapan berkas dari peserta itu, dan setelah itu dimulailah pembahasan sidang tatib," imbuh Ahmad Jaelani kepada wartawan Nawacitapost.com.
Lanjut Ahmad Jaelani, ketika pembahasan tatib berjalan dengan lancar, kalau ada usul ataupun interupsi itu adalah hal yang wajar demi menyamakan persepsi. Namun pasal untuk memilih Ketua, sebenarnya pada tatib atau materi yang diberikan kepada peserta itu kan tidak ada poin musyawarah mufakat, adanya berupa pemilihan atau voting, namun ada peserta mengusulkan untuk menambahkan poin musyawarah mufakat, kita memang setuju.