NAWACITAPOST.COM — Kabut hitam pekat tengah menyelimuti dunia pendidikan di Tapanuli Selatan (Tapsel). Sebuah skandal mengerikan bertajuk "Predator di Ruang Kepala Sekolah" mencuat ke publik, menyingkap tabir gelap praktik pelecehan, pemaksaan, dan kekerasan seksual berkedok jabatan.
Tak ingin membiarkan kebiadaban ini berlarut-larut, aktivis sosial sekaligus pengawas pendidikan, AH, melontarkan desakan berapi-api kepada Kepala Kepolisian Resor Tapanuli Selatan (Kapolres Tapsel) untuk segera mengambil tindakan nyata dan radikal: Tangkap pelaku sekarang juga, tanpa tapi, tanpa nanti!
Baca Juga: Sakralisasi Korupsi: Sertifikat WTP BPK Diduga Jadi Tameng Penjarahan Ratusan Miliar di Padangsidimpuan!"Tidak ada lagi alasan penundaan, tidak ada lagi verifikasi berbulan-bulan, dan tidak ada lagi budaya tutup mulut demi nama baik instansi! Bukti sudah terang benderang, kesaksian korban sudah ada, dan nyawa serta masa depan anak-anak bangsa terancam setiap menit pelaku itu masih bebas berkeliaran di sekolah," tegas AH dalam pernyataan persnya yang menggelegar, Rabu (3/6/2026).
Modus Operandi Sang Predator: Ruang Kerja Menjadi Sangkar Maut
Dengan nada bergetar menahan amarah, AH membongkar betapa terstrukturnya kejahatan luar biasa (extraordinary crime) yang dilindungi oleh sistem ini. Ruangan yang seharusnya menjadi tempat merajut masa depan, justru berubah menjadi tempat memangsa anak didik sendiri.
-
Umpan Bimbingan: Pelaku memanggil siswa perempuan secara pribadi ke ruangannya dengan dalih bimbingan atau tugas.
-
Penyalahgunaan Wewenang: Pintu dikunci, dan pelaku menggunakan kekuasaan atas nilai, kelulusan, serta nasib guru untuk mengintimidasi korban.
-
Ancaman & Pembungkaman: Korban yang menolak atau berani melapor justru dihukum, difitnah, hingga diancam dihancurkan masa depannya.
-
Penyebaran Virus Kejahatan: Ironisnya, alih-alih dipecat, banyak pelaku hanya dipindahkan ke sekolah lain—memberikan mereka "izin baru" untuk mencari mangsa berikutnya.
Baca Juga: Kobar Api Pancasila di Ujung Utara Medan: Imigrasi Belawan Gelar Upacara Hari Lahir Pancasila"Memindahkan mereka bukan pembinaan, ini PENYEBARAN VIRUS KEJAHATAN. Oknum ini merasa seperti raja kecil yang tak tersentuh hukum. Tapi kami pastikan: ZAMAN ITU SUDAH BERAKHIR!" seru AH lantang.
5 Tuntutan Harga Mati untuk Kapolres Tapsel
Mengingat kuatnya gurita perlindungan birokrasi di lingkungan pendidikan setempat, AH melayangkan 5 tuntutan keras langsung kepada pucuk pimpinan Polres Tapsel:
1. Tangkap Segera Terduga Pelaku!
Jangan tunggu berkas lengkap berminggu-minggu sementara pelaku masih bertemu anak-anak setiap hari. Dasar hukum dan bukti kesaksian sudah lebih dari cukup untuk melakukan penangkapan demi mencegah adanya korban baru.
2. Boikot Pemeriksaan Internal Dinas Pendidikan
AH memperingatkan kepolisian agar tidak memercayai hasil pemeriksaan internal Dinas Pendidikan yang dinilai korup dan sarat aksi saling lindungi. Penyelidikan harus murni, independen, dan steril dari intervensi birokrasi yang busuk.
3. Bongkar Jaringan Pelindung (Antek-Antek Predator)
Seret semua pihak yang mengetahui kejahatan ini namun memilih bungkam, serta mereka yang memindahkan pelaku bermasalah untuk menutupi aib. Mereka adalah penyumbang trauma bagi anak-anak Tapsel.
Baca Juga: Ke mana Mengalirnya Dana Hibah dan PIP Padangsidimpuan? KPK dan Kejagung Didesak Turun Tangan!
4. Jaminan Perlindungan Penuh untuk Korban dan Saksi
Banyak korban yang memilih diam karena diteror dan takut karakternya dibunuh. Polisi wajib menjamin keamanan pelapor agar mereka bisa bicara tanpa rasa takut.