Jakarta, NAWACITApost.com - Toko Buku Gunung Agung belakangan viral di media sosial karena bakal menutup semua outlet atau gerainya. Selama 70 tahun berdiri, Toko Buku Gunung Agung telah merasakan manis pahitnya dunia bisnis.
Keputusan tersebut terpaksa menjadi pilihan terakhir pemilik lantaran Toko Buku Gunung Agung tak mampu bertahan dengan kerugian operasional yang semakin besar. Bahkan, sejak 2013 Toko Buku Gunung Agung ternyata telah melakukan efisiensi dan efektivitas usaha sejak 2013.
Pada 1953, seorang pria bernama Tjio Wie Tay, yang kemudian dikenal dengan sebutan Haji Masagung, memulai sebuah kios sederhana di Jakarta Pusat yang menjual buku, surat kabar, dan majalah. Kios itu didirikan dengan nama Thay San Kongsie.
Seiring dengan berkembangnya bisnis ini dan semakin kompleksnya situasi pasca-kemerdekaan, Haji Masagung pun mendirikan sebuah perusahaan baru yang menerbitkan dan mengimpor buku, yang diberi nama Firma Gunung Agung. Di tengah segala kesulitan yang dihadapi Indonesia yang saat itu masih sangat muda, Haji Masagung menjadi pelopor dalam usaha untuk membuka wawasan bangsa melalui buku.
Toko buku ini sempat dikelola PT Toko Gunung Agung Tbkn yang didirikan pada 1980. Lalu, perusahaan ini go public pada 6 Januari 1992 di Bursa Efek Jakarta dan Surabaya dengan kode emiten TKGA.
Sampai akhirnya, PT Toko Gunung Agung Tbk diakuisisi oleh PT Permata Prima Energi dalam rights issue senilai Rp480 miliar pada Maret 2013. Seluruh aset dan bisnis toko bukunya kemudian dialihkan ke PT GA Tiga Belas. Status PT GA Tiga Belas adalah perusahaan tertutup.
Perusahaan yang telah memperluas lini produknya dengan alat tulis hingga sejumlah produk berteknologi tinggi ini telah mengoperasikan 14 gerai di 10 kota besar di Pulau Jawa. Sementara, di Jabodetabek terdapat sebanyak 20 Toko Buku Gunung Agung.
Hingga kabar buruk itu tersiar. Sejak wabah pandemi Covid-19 di awal tahun 2020, langkah efisiensi dengan menutup beberapa toko/outlet yang tersebar di beberapa kota seperti Surabaya, Semarang, Gresik, Magelang, Bogor, Bekasi dan Jakarta.
"Penutupan toko/outlet yang terjadi pada tahun 2020 bukan merupakan penutupan toko/outlet kami yang terakhir, karena pada akhir tahun 2023 ini kami berencana menutup toko/outlet milik kami yang masih tersisa," tulis Manajemen PT GRA Tiga Belas atau Toko Buku Gunung Agung saat mengonfirmasi kabar kondisi perusahaan termasuk Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) karyawan.