Kamis, 4 Juni 2026

Mengenal Tokoh KARS Indonesia, dr. Sutoto : Semangat Kembangkan Mutu Layanan Rumah Sakit

Photo Author
Devilina, Nawacita Post
- Rabu, 15 Maret 2023 | 09:03 WIB
Foto: Google
Foto: Google

Jakarta, Nawacitapost.com- dr.Sutoto atau yang bergelar Dr.dr. Sutoto, M.Kes, FISQua adalah Ketua Komite Akreditasi Rumah Sakit (KARS) Indonesia.

Menjadi Ketua KARS Indonesia, bukan hal baru bagi dr. Sutoto. Dirinya sudah berpartisipasi menjadi surveior rumah sakit pada awal 1990-an.

Mengutip buku KARS 'Setangkai Peran dan Prestasi Komisi Akreditasi Rumah Sakit' (terbitan Nawacita), Sutoto makin tertarik ke dunia akreditasi rumah sakit karena semangatnya untuk mengembangkan mutu layanan rumah sakit, mengembangkan budaya rumah sakit yang berorientasi mutu, dan membantu banyak orang menghadapi penyakitnya melalui layanan rumah sakit yang baik dan layak.

Motivasi inilah yang mendorongnya hingga saat ini masih tetap aktif di dunia akreditasi rumah sakit.

"Saya senang karena bisa menularkan, memotivasi rumah sakit lain dengan metode-metode yang tidak tertulis di buku," tuturnya.

Selain itu kata Sutoto, ada pengalaman yang tidak bisa tergantikan, yaitu bisa keliling ke berbagai penjuru di Indonesia mellhat keaindahan alam dan keragaman budaya.

Tidak hanya pengalaman praktis, Sutoto juga membekali dirinya dengan keilmuan di bidang akreditasi rumah sakit.

Dia mendapat kesempatan belajar di Magister Manajemen Rumah Sakit UGM pada 1995. Sutoto juga belajar akreditasi rumah sakit di luar negeri.

Setelah lulus 5-2 di UGM, Sutoto diminta menjadi dosen pasca sarjana Manajemen Rumah Sakit (MMR) UGM.

Pada 1999, UGM mengirimnya belajar akreditasi rumah sakit di Australian Council on Healthcare Standards (ACHS) Australia. Era akreditasi rumah sakit di Indonesia dimulai pada 1995 setelah pembentukan KARS.

Pada 1996, KARS mulai melakukan uji coba akreditasi di lima rumah sakit sebagai percontohan dengan biaya ditanggung pemerintah.

Saat itu, dia mengajukan RSUD Banyumas menjadi rumah sakit keenam yang diakreditasi, meskipun harus mengeluarkan biaya.

"Mendapatkan akreditas itu menjadi peluang untuk membenahr dengan sistem lebih baik. RSUD Banyumas menjadi rumah sakit pertama yang terakreditasi dengan biaya sendiri," katanya.

Ketika menjadi sebagai pelaksana tugas Dirjen Yanmed, ada peristiwa yang menjadi momentum penting dalam sejarah akreditasi di Indonesia.

Pada Mei 2010, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono berkunjung ke Malaysia. Sebagai pejabat tinggi Kemenkes, Sutoto menyertai kunjungan tersebut.

"Pak SBY berangkat ke Malaysia menemui banyak orang indonesia yang berobat ke sana. Mengapa banyak orang Indonesia yang berobat ke sana? Kenapa mereka tidak di Indonesia saja?" kata Sutoto menurikan SBY.

Sepulang dari Malaysia, makin besar keinginan Sutoto membenahi rumnah sakit di Indonesia, supaya tidak ada lagi yang berobat ke luar negeri.

Untuk menindaklanjuti gagasan ini, pada 2010, Sutoto dikirim Kantor Wakil Presiden ke India untuk mempelajari sistem rumah sakit di sana. Pada era tersebut, rumah sakit di India sudah mulai maju.

"Dulu, pelayanan rumah sakit di India jelek sekall. Lalu, pemerintah India mengadakan perubahan drastis. Sampai kemudian, bukan hanya dipercaya orang India, tetapi juga orang asing datang ke India," tuturnya.

Di New Delhi, Sutoto mengunjungi beberapa rumah sakit. Salan satunya adalah Indraprasta Hospital.

Rumah sakit swasta ini sangat besar dan memiliki dua ribu tempat tidur. Sebelum kunjungan resmi, Sutoto menyamar menjadi pasien untuk merasakan pelayanan medical check-up. Pelayanan rumah sakit sangat baik. Jadwal waktunya tepat dan cepat.

"Daftar sehari sebelumnya, pukul delapan pagi langsung mulai diperiksa dokter umum, ambil darah, USC, foto ronsen, ketemu spesialisnya. Siang selesai," ujarnya.

Yang lebih mencengangkan adalah tarifnya: sangat murah. Tak heran, banyak orang asing yang berobat ke sana.

Sutoto menghitung, untuk pelayanan medical check-up, jika dirupiahkan, tarifnya hanya 400.000 ribu rupiah. Itu sudah komplet. Sementara, di Indonesia sedikitnya bisa mencapai Rp 2,5 juta.

Dalam pertemuan resminya dengan manajemen ruman sakit, akhirnya terungkap bahwa rumah sakit di India mendapat dukungan penuh dan pemerintah India. Salah satu kebijakannya adalah membebaskan pajak alat kesehatan dan obat-obatan.

Inilah yang menyebabkan blaya rumah sakit bisa murah. Kemajuan dunia kesehatan di India juga karena dokter bedah jantung di India cukup terkenal. Reputasi dokternya bahkan sudah menembus level dunia.

Pun, biayanya terbilang murah. Operasi jantung bisa diselesaikan dalam tiga hari dengan biaya 8 ribu dolar AS. Bandingkan dengan operasi jantung di Amerika, yang harganya mencapal 80 ribu dolar AS.

Maka, tak salah jika banyak perusahaan asuransi di Amerika Serikat membawa kliennya berobat ke India.

Selain harga yang murah, rumah sakit di India sudah mengikuti standar internasional dari Joint commission International (°CI), Amerika Serikat. Untuk Keperawatan, umpamanya, rumah sakit di Indonesia menggunakan istlah registered nurse.

Sementara, dunia keperawatan di Indonesia belum mengikuti standar internasional.

Ketika ditunjuk pemerintah untuk menjadi Ketua Komisi AkreditastInternasional (KARS) pada 2011, langkah pertama yang dilakukan Sutoto adalah membuat standar akreditasi.

Untuk mempercepat proses akreditasi di Indonesia tidak perlu membuat standar sendiri. Lebih baik mengadopsi dart luar negeri.: "Kari adopsi dari JCI yang standarnya sudah dipakai di 90 negara. Kami minta izin dan ada perjanjiannya," katanya.

Lalu, dibuatlah Standar Akreditasi Rumah Sakit versi 2012 Saat standar baru diterapkan, banyak direktur ruman sakit yang mencak-mencak. "Pakai standar internasional segala, standar nasional saja belum tentu bisa," ujar Sutoto menirukan keberatan pihak rumah sakit.

Sutoto bisa mengetahui keberatan itu karena dia juga masth merangkap sebagai Ketua Umum Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia (PERSI).

Namun, ibarat pepatah 'anjing menggonggong kafilah berlalu, KARS tetap menjalankan standar akreditasi yang sudah ditetapkan. Rumah sakit pertama yang mendapatkan akreditasi dari KARS adalah RSCM.

Inilah yang menjadi pemicu dan penyemangat rumah sakit lainnya untuk mendapatkan akreditasi.

Lambat laun, banyak rumah sakit yang menyadari betapa pentingnya peningkatan mutu rumah sakit agar bisa memberikan layanan terbaik kepada masyarakat.

Selain sebagai Ketua KARS, Sutoto juga aktif berkiprah di organisasi profesi. Dia pernah merjadi anggota Dewan Pembina Majells Kehormatan Etik Kedokteran (MKEK) IDI Pusat (2009-2015), Ketua Umum Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia (2009-2015), dan anggota Komite Keselamatan Pasien Rumah Sakit Kementerian Kesehatan Rl.

Sebagian besar hidupnya dihabiskan di dunia kesehatan. Kendati kelanjutan kiprahnya lebih banyak dihabiskan di rumah sakit besar, cita-cita pertama Sutoto untuk berkarir di puskesmas tak pernah surut. Sutoto tetap menilai penting peran puskesmas sebagai salah satu garda depan pelayanan kesehatan bagi masyarakat.

Editor: Devilina

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Terkini