Kamis, 18 Juni 2026

Soal Membludaknya Kasus HIV Aids di Bandung, Ini Tanggapan IMM Jabar

Photo Author
Sitinjak, Nawacita Post
- Selasa, 30 Agustus 2022 | 18:07 WIB

Bandung, NAWACITAPOST.COM - Tercatatnya kasus HIV Aids di Kota Bandung mendapat tanggapan dari Ketua Umum Dewan Pimpinan Daerah Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Jawa Barat, Faisal Amien Prawira.

Kota Bandung merupakan sentra pemerintahan serta pembangunan Provinsi Jawa Barat, baik dalam hal infrastruktur, ide, maupun dalam hal sumber daya manusia. Kota yang dihuni oleh kurang lebih 1 juta jiwa yang 60% nya adalah kaum muda dengan rentang usia 20-34 tahun ini merupakan kota yang amat sangat rentan dalam hal penyebaran penyakit HIV-Aids.

Oleh karena itu, menurut Ketum IMM Jabar, dibutuhkan perhatian yang serius mengenai pencegahan dan penanganan terhadap penyakit tersebut, salah satunya dengan mengadakan edukasi intens berkaitan dengan pola hidup, pergaulan, serta hal-hal yang berkaitan dengan hubungan seksual pada kaum muda.

"Saya sangat Menyesalkan peristiwa tersebut, tentu hal ini perlu menjadi perhatian bersama, baik pemerintah, praktisi pendidikan maupun pemegang kebijakan di Kota Bandung dan Jawa Barat, karena ini adalah masalah serius bagi semua kalangan," ujar Ketum DPD IMM Jabar dalam keterangan tertulisnya, Selasa (30/08/2022).

Faisal menambahkan bahwa salah satu program prioritas Jawa Barat adalah pendidikan agama dan tempat Ibadah juara, seharusnya pemprov betul-betul membuat desain pendidikan agama yang baik untuk mengatasi permasalahan seperti ini, terlebih hari ini seharusnya pendidikan seksual bukan lagi hal yang tabu untuk dibicarakan, menurut Faisal, pemerintah harus dapat terbuka pada permasalahan anak muda.

"Salah satu program Prioritas Jawa barat itu kan pendidikan agama dan tempat Ibadah juara, harusnya Pemprov Jabar dan Pemda Kota Bandung punya skema agar peristiwa ini tidak terjadi, kami sebagai salah satu gerakan Mahasiswa yang juga memiliki fokus pada permasalahan kaum muda siap terbuka dan membantu untuk mengatasi masalah ini," ungkapnya.

Apalagi Jawa barat sebelumnya, tegas Faisal, sudah digegerkan dengan peristiwa pencabulan di pesantren, dan disamping itu ada banyak kasus kekerasan seksual, dan permasalahan seksual lainnya yang sampai hari ini masih tabu untuk dibicarakan.

"Sebelumnya santri yang dicabuli (peristiwa Heri), lalu juga masih banyak kekerasan seksual yang terjadi di kampus-kampus di Jawa Barat, padahal Peraturan Mendikbud no 12 tahun 2021 sudah jelas, lantas fokus pemprov hari ini apa?" tegasnya.

Faisal berharap agar pemprov menggandeng seluruh stakeholder untuk membentengi rakyat, terutama kaum muda dari penyakit sosial, melalui kerja edukasi dan pelaksanaan regulasi yang kongkrit dalam upaya pencegahan dan penanganan permasalahan seksual.

"Jadi ayolahh, sudah seharusnya pemprov menggandeng seluruh stakeholder keagamaan, dan Kemahasiswaan untuk meminimalisir hal ini, ada NU, Muhammadiyah yang juga memiliki organisasi kepemudaannya yang siap menjadi garda terdepan dalam meminimalisir penyakit masyarakat," tandasnya.

Editor: Sitinjak

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Terkini