Selasa, 16 Juni 2026

Sandiwara Anggaran di Balik Sunyinya Kantor Wali Kota Padangsidimpuan, Picu Mahasiswa Lakukan Aksi Damai

Photo Author
Tiarsin, Nawacita Post
- Selasa, 16 Juni 2026 | 19:01 WIB

NAWACITAPOST.COM — Udara di depan Kantor Wali Kota Padangsidimpuan, Sumatera Utara mendadak pekat oleh atmosfer perlawanan. Gabungan mahasiswa dan elemen masyarakat datang membawa satu misi suci: menuntut transparansi. Namun, apa yang mereka temui? Bukan jawaban, melainkan sebuah "gerakan tutup mulut massal" dari para pemangku kebijakan.

Aksi damai yang awalnya berjalan konstitusional ini justru berhasil mengoyak tirai misteri dan membuka tabir kecurigaan yang mendalam. Di balik dinding-dinding kokoh pusat pemerintahan, terendus aroma busuk dugaan rekayasa data bencana demi meraup anggaran miliaran rupiah.

Misteri di Kantor Wali Kota: Bungkamnya Para Pejabat

"Jika semua berjalan jujur dan benar, mengapa takut bertemu rakyat sendiri?"

Kalimat tegas dari koordinator aksi itu menggema di halaman Kantor Wali Kota. Kedatangan ratusan massa aksi justru disambut oleh keheningan yang mencekam. Tidak ada satu pun kepala dinas, pejabat, apalagi perwakilan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) yang berani menampakkan batang hidungnya.

Baca Juga: ‘The Golden Belt’ Mengguncang Dunia, Jabar Sukses Sabet Transaksi Rp25 Miliar di WIITEX 2026!

Sikap menutup diri ini lantas memicu kecurigaan besar. Bungkamnya para pejabat seolah mengonfirmasi bahwa ada hal besar yang sedang disembunyikan dari publik. Kecewa namun tak surut langkah, rombongan mahasiswa mengalihkan poros pergerakan menuju Gedung Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Padangsidimpuan.

Skandal Data Mulai Terbongkar di Gedung Dewan

Di gedung legislatif, massa diterima oleh Purnadi anggota DPRD Fraksi Partai Golongan Karya (Golkar). Namun, jalannya audiensi berubah drastis menjadi tegang saat jurnalis melontarkan pertanyaan berbasis investigasi lapangan yang sangat menohok:

  • Pertanyaan Kunci: Di mana titik lokasi 1.133 Kepala Keluarga (KK) yang diklaim rumahnya hancur total? Mengapa tidak ada catatan untuk kategori rusak ringan dan sedang?

  • Fakta Lapangan: Berdasarkan penelusuran dari ujung ke ujung wilayah terdampak, rumah yang terbukti hancur total hanya 160 KK.

  • Misteri Besar: Ada lebih dari 900 KK yang tidak jelas wujudnya alias "gaib".

Mendapat cecaran pertanyaan tajam tersebut, sang anggota dewan tampak gagap dan tak mampu memberikan jawaban rinci. Ia hanya berdalih bahwa data tersebut disodorkan oleh pihak kelurahan dan desa.

Baca Juga: Dini Hari Membara di Kondamara: Rumah Lukas Taramanandang Ludes Dilalap Jago Merah

Skeptisisme pun memuncak. Modus lama kini tercium jelas: angka 1.133 KK diduga kuat merupakan hasil manipulasi di atas kertas demi mencairkan dana bantuan bencana dalam jumlah fantastis, yang kemudian diduga menguap ke kantong oknum-oknum tak bertanggung jawab.

7 Titah Mahasiswa: Tuntutan Tanpa Kompromi!

Melihat borok birokrasi yang kian menganga, mahasiswa dan masyarakat menyuarakan 7 tuntutan keras:

Halaman:

Editor: Tiarsin

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini